Kumparan Logo
Konten Media Partner

Warga Sumsel Temukan Banyak Benda Bersejarah di Lokasi Eks Karhutla

Urban Idverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Koleksi benda bersejarah yang ditemukan oleh sejumlah anggota Kompaks di Upang, OKI (foto; abp/Urban Id)
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi benda bersejarah yang ditemukan oleh sejumlah anggota Kompaks di Upang, OKI (foto; abp/Urban Id)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang tahun 2019 ini membuat sebagian besar lahan gambut, khususnya di daerah Ogan Komering Ilir (OKI), habis terbakar.

Namun hal tersebut justru menarik perhatian masyarakat sekitar untuk datang ke lokasi eks karhutla. Sebab, di lokasi tersebut banyak ditemukan sejumlah benda-benda bersejarah yang diyakini berasal dari zaman Kerajaan Sriwijaya.

Ketua Komunitas Palembang Antik Kreatif Sriwijaya (Kompaks), Hermayudi, mengatakan daerah OKI khususnya wilayah Cengal, Karang Agung, dan Air Sugihan, memang menjadi lokasi yang banyak ditemukan sejumlah benda bersejarah. Bahkan, hal itu sudah terjadi pasca-kahutla besar di tahun 2015 lalu.

"Jadi fenomena perburuan harta karun Sriwijaya di lokasi itu sebenarnya bukanlah hal yang baru. Hanya lokasinya saja yang berbeda," kata Hermayudi, Rabu (2/10).

Dirinya bilang, sejumlah anggota juga banyak yang menemukan benda-benda bersejarah di lokasi tersebut. Seperti; keramik, patung, perhiasan emas, batu mulia, dan manik-manik. Menurutnya, sejumlah barang yang ditemukan di wilayah pesisir OKI hampir sama dengan barang yang ditemukan di Sungai Musi, Palembang.

Sejumlah koin perak dan perunggu milik anggota Kompaks yang ditemukan di sejumlah lahan gambut di OKI, Sumsel (abp/Urban Id)

"Jadi kalau melihat dari temuannya itu persis dengan yang ditemukan di Sungai Musi, atau era Kerajaan Sriwijaya. Keyakinan ini juga sudah melalui pengamatan arkeolog," katanya.

Sementara itu, Arkeolog dari Balai Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Retno Purwanti, mengatakan wilayah pesisir timur Sumatera, seperti OKI, memang diketahui sebagai pusat perdagangan atau juga pelabuhan besar di zaman Kerajaan Sriwijaya.

Menurutnya, penemuan harta karun di kawasan pantai timur Sumatera Selatan sudah ada sejak tahun 1990-an. Berawal dari laporan salah satu kepala desa di daerah Karsngagung Tengah yang datang ke Balai Arkeologi Sumsel dengan membawa contoh benda yang ditemukan.

"Benda tersebut berupa pecahan gerabah. Dari laporan ini Balar Sumsel mengadakan penelitian di daerah Karangagung pada tahun 1999-2003," katanya.

Selain itu, pada lokasi tersebut banyak ditemukan benda dan tiang-tiang rumah dari abad ke-3-4 Masehi. Setelah itu penelitian dilakukan di Air Sugihan dan mendapatkan benda-benda arkeologi, yang berdasarkan penanggalan karbon (karbon dating) berasal dari abad ke 9-14 Masehi atau masih dalam masa Sriwijaya.

"Sementara penelitian di daerah Cengal dilakukan sejak tahun 2012 dengan temuan kemudi perahu dan benda arkeologi yang berdasarkan penanggalan karbon berasal dari masa keruntuhan Sriwijaya sampai masa Kesultanan Palembang," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, masyarakat di daerah sekitar sudah mulai menjadikan lahan gambut yang terbakar menjadi tempat perburuan benda-benda bersejarah itu.

"Kalaupun menggali tidak harus terlalu dalam. Warga juga tak jarang menemukan benda yang terbuat dari emas di lokasi itu, " katanya.

Meski begitu, kata dia, hasil perburuan benda bersejarah yang dilakukan masyarakat jarang yang dilaporkan ke Balai Arkeologi. Sehingga dikhawatirkan dapat menyulitkan para peneliti untuk merangkai cerita sejarah yang ada di kawasan pesisir.

"Kami khawatir benda-benda bersejarah di sana sudah habis, sehingga akan lebih sulit bagi kami untuk menceritakan sejarah di masa itu," katanya. (jrs)