Konten dari Pengguna

Senangnya, 15 Buku Anak Bertema Unik Hasil Lokakarya Yayasan Litara Telah Terbit

Urfa Qurrota Ainy

Urfa Qurrota Ainy

Alumni Psikologi Universitas Padjadjaran. Penulis buku, editor bersertifikat, dan penggiat literasi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Urfa Qurrota Ainy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Senangnya, 15 Buku Anak Bertema Unik Hasil Lokakarya Yayasan Litara Telah Terbit
zoom-in-whitePerbesar

Anak sulung saya yang atas keinginannya kami panggil 'Kakak' (6,5 tahun) adalah anak perempuan yang peka dan perasa. Mungkin karena itu ia mudah tersentuh saat saya membacakan buku-buku cerita dengan tema yang emosional. Misalnya, ketika saya membacakan buku Petualangan Sekeping Kancing (2015, Penerbit Kanisius) karya Veronica Widyastuti dan Mira Widhayati di laman Literacy Cloud, Kakak menangis dan menumpahkan isi hatinya kepada saya. Dengan jujur, ia bercerita bahwa ia pun sering merasakan apa yang Si Kancing rasakan, yaitu merasa dilupakan, diabaikan, dan dianggap tak penting.

Petualangan Sekeping Kancing mengisahkan kancing yang terlepas dari pakaian dan diabaikan oleh banyak orang. Buku dapat dibaca secara gratis di laman www.literacycloud.org.
zoom-in-whitePerbesar
Petualangan Sekeping Kancing mengisahkan kancing yang terlepas dari pakaian dan diabaikan oleh banyak orang. Buku dapat dibaca secara gratis di laman www.literacycloud.org.

Kapan ia merasakannya? Rupanya, tiap kali saya memarahinya. Saya bersyukur ia bercerita, saya pun menyambutnya dengan pelukan, kecupan, dan permintaan maaf. Seperti orang tua pada umumnya, saya tak pernah bermaksud membuatnya merasakan demikian, hanya saja di tengah kelelahan dan keterbatasan, terkadang saya lupa dan kesulitan mengendalikan diri.

Buku ini menjadi cermin sehingga anak saya menemukan momen untuk mengekspresikan perasaannya kepada saya. Pengalaman itu adalah satu dari sekian cerita nyata yang menunjukkan betapa besar dampak membacakan buku cerita berkualitas, terutama yang mengangkat tema-tema langka dan sulit, kepada anak-anak kita.

Mengikuti Lokakarya Menulis Buku Cerita Anak

Saya sangat bersyukur bisa belajar membuat buku cerita anak langsung dari para ahlinya. Akhir Maret 2021, naskah cerita anak saya dan 24 cerita lainnya terpilih dari 300-an cerita untuk mengikuti lokakarya penulisan cerita anak bersama The Asia Foundation, Litara Foundation, dan Estee Lauder Charitable Company. Uniknya, hampir seluruh penulis, ilustrator, editor, dan desainer yang terlibat adalah perempuan. Hanya satu desainer (art editor) laki-laki, selebihnya adalah perempuan. Selain itu, tokoh ceritanya pun disyaratkan harus anak perempuan. Program ini sesuai dengan cita-cita besar kita, yakni melihat lebih banyak perempuan berdaya.

Melihat nama besar The Asia Foundation dan Litara Foundation dalam percaturan literasi anak, siapa yang tak grogi? Apalagi tema yang diangkat cukup menantang, yakni "Cerita Sunyi dari Pinggir". Tema ini mencuplik sisi-sisi tak terlihat dari kehidupan masyarakat Indonesia, kita biasa menyebutnya dengan istilah 'marjinal'. Beruntung, lokakarya tersebut memang sejak awal diperuntukkan bagi penulis cerita anak pemula. Orang baru seperti saya jadi tak terlalu merasa kikuk.

Saya masih ingat isi sambutan Ibu Hana Satriyo, Deputy Country Representative The Asia Foundation, tema "Cerita Sunyi dari Pinggir" diusung untuk "membuka mata" kita bahwa ada dunia yang berbeda di luar diri kita. Beliau juga berkata bahwa anak-anak perlu mengetahui bahwa kehidupan tidak melulu seperti acara YouTube, TikTok, atau konten di Instagram yang penuh kemudahan, ingar bingar, dan canda tawa. Ada anak-anak yang secara sosial termarjinalkan: menyandang disabilitas, tinggal nun jauh di pelosok desa yang susah sinyal dan susah air, ada yang untuk membeli sebungkus es krim harus menabung dua hari, dan banyak lagi.

Akan tetapi, bukan berarti anak-anak mesti menjalani kedewasaan sebelum waktunya. Bukan berarti anak-anak dipaksa untuk memahami bahwa hidup itu susah dan harus menangisinya. Sebaliknya, dengan tema tersebut, para penulis dan ilustrator diharapkan menunjukkan bahwa dalam keterbatasan dan kesulitan sekalipun, anak-anak adalah sosok yang selalu punya harapan, semangat, kreativitas, serta membawa keceriaan.

Dokumentasi kegiatan lokakarya daring bersama The Asia Foundation dan Litara Foundation. Sumber: Instagram @litara.foundation.

Menceritakan Tema Sulit agar Terasa Dekat dengan Anak-Anak

Bagaimana menceritakan kisah tentang kehidupan kelompok yang marjinal secara sosial, ekonomi, budaya, maupun disabilitas, kepada anak-anak? Phew, saya katakan dengan jujur: Tidak mudah. Menceritakannya kepada orang dewasa saja sulit, apalagi kepada pembaca cilik. Akan tetapi, bimbingan dari fasilitator, Ibu Sofie Dewayani dan Ibu Eva Nukman, serta para editor membuat itu semua menjadi mungkin dilakukan. Meski demikian, semua penulis harus melalui puluhan revisi dan tugas yang menguras perasaan. Setiap kata yang tertulis dalam naskah benar-benar harus dipertimbangkan dengan matang. Bahkan, kami pun melakukan field test kepada anak-anak untuk memastikan ceritanya dapat dipahami.

Ada banyak sekali ilmu yang saya peroleh dari fasilitator dan editor, terutama editor saya, Ibu Dian Kristiani yang karyanya sudah ratusan. Namun, yang paling "menempel" adalah soal buku yang ramah anak. Dari para guru tersebut saya belajar bahwa buku anak sejatinya bukan hanya memperkaya anak kita dengan kekayaan intelektual ataupun moralitas, melainkan juga kekayaan imajinasi, perspektif, dan yang terpenting kekayaan emosi. Karena itulah kita mesti berhenti mencari rekomendasi buku anak sekadar demi "memuaskan" keinginan kita sebagai orang tua.

"Buku supaya anak jadi penurut apa, ya?"

"Ada buku agar anak jadi rajin salat, nggak?"

Buku anak bukanlah sarana untuk menjejal-jejalkan nasihat dan moralitas yang kita harapkan dapat mengubah anak secara ajaib dalam semalam. Dari Bu Sofie, Bu Eva, dan para editor, saya belajar bahwa buku anak yang baik dapat menggambarkan perilaku anak secara alamiah dan merefleksikan perasaan anak-anak sehingga anak yang membacanya merasa dekat dengan cerita tersebut. Salah satu tandanya, mereka jadi merasa punya teman dan dipahami, barangkali seperti pengalaman anak saya ketika membaca Petualangan Sekeping Kancing.

Jadi, sudah saatnya kita hijrah dari buku-buku yang sebatas berisi perintah, larangan, nasihat orang tua, ataupun kata-kata mutiara, kepada buku-buku yang lebih ramah untuk anak-anak, yakni buku-buku yang menunjukkan sikap dan perilaku yang "anak-anak banget" sambil tetap mengandung nilai positif tanpa harus menggurui.

Buku berkualitas menstimulasi perkembangan berpikir anak-anak. <a href='https://www.freepik.com/vectors/background'>Background vector created by bluelela - www.freepik.com</a>

Dan Inilah Dia 15 Buku Anak Jebolan Lokakarya Tersebut

Singkat cerita, dari 25 naskah yang lolos mengikuti lokakarya, diseleksilah menjadi 15 naskah yang setelah proses revisi "berdarah-darah" pada akhirnya diterbitkan dalam format buku digital di platform Let's Read.

Sedikit tentang Let's Read, platform ini adalah perpustakaan buku anak digital hasil inisiasi The Asia Foundation untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak di negara-negara tertentu di Asia. Let's Read tersedia dalam bentuk situs dan aplikasi ponsel. Di dalamnya terdapat ratusan buku anak digital dari berbagai negara di Asia yang dapat diakses secara gratis dan mudah. Uniknya, terdapat berbagai bahasa yang bisa kita pilih, termasuk bahasa daerah seperti Minangkabau, Sunda, Jawa, Batak Toba, dan Bali.

Dan, inilah dia 15 buku anak hasil godokan lokakarya sejak Maret 2021, yang diperuntukkan bagi anak-anak dalam rentang usia 9--12 tahun.

Bukit Sinyal menyoroti perjuangan sekolah daring di desa.

1. Bukit Sinyal

Gendis tinggal di desa yang berada di pelosok pegunungan Jawa Timur. Saat pandemi berlangsung, ia harus belajar daring dengan menggunakan gawai Ayah. Saat belajar daring, Gendis harus pergi ke bukit sebagai tempat satu-satunya yang menerima sinyal gawai dengan baik. Hari ini Gendis harus pergi ke bukit, tetapi Ayah belum pulang juga. Bisakah akhirnya Gendis belajar daring, sementara hari beranjak malam?

Bukit Sinyal karya Reni Astuti dan ilustrator Azkiya Karima menangkap fenomena terkini dalam situasi pandemi, yakni sekolah daring dan masalah yang mengiringinya. Kisah Gendis sangat mewakili jutaan anak-anak Indonesia yang mesti berhadapan dengan berbagai tantangan kala pandemi, soal gawai, kuota internet, sinyal, dan keharusan untuk turut membantu orangtua. Meski demikian, semuanya digambarkan dengan sentuhan optimisme dan keceriaan khas anak-anak.

Si Pejuang Air mencuplik bencana kekeringan di Sumba

2. Si Pejuang Air

Nesa baru saja pindah ke sebuah desa di Timur Sumba. Di sana, saat musim kemarau air sulit didapatkan. Biasanya Ibu yang mengambil air, tapi Ibu sedang sakit. Nesa memberanikan diri untuk mengikuti anak-anak di desa itu mencari air. Tempat mengambil air ternyata jauh sekali. Panas menyengat, debu, jalanan yang berbatu dan menurun terjal membuat Nesa begitu lelah. Apakah Nesa berhasil menjadi pejuang air?

Saat dipresentasikan pertama kali oleh penulis dan ilustratornya, Ervina Hasibuan dan Clara Mengko, hati saya sudah jatuh cinta pada cerita ini. Betapa tidak, cerita ini adalah kenyataan yang dihadapi anak-anak di Sumba. Hati siapa tak terenyuh oleh sikap gigih Nesa untuk mencari air, meski ia harus berjibaku dengan jalanan terjal dan cuaca panas.

Cepat Kering, Bunga Kemboja! memotret hubungan kakak beradik yang hangat.

3. Cepat Kering, Bunga Kemboja!

Janu menginginkan es krim, tetapi mereka tidak punya uang. Ratih, kakaknya, mengajaknya mencari bunga kemboja untuk dijual. Namun, menjemur bunga kemboja ternyata tidak mudah. Apa saja tantangan yang mereka temui?

Ketika lokakarya berlangsung, seorang editor terkesima dengan ide cerita karya Yusfin Rahayu ini. Pasalnya, tidak banyak yang tahu bahwa ada pekerjaan mencari bunga kemboja untuk dijual ke pabrik dupa. Saya sendiri baru mengetahuinya. Tak hanya itu, kisah kehangatan kakak beradik Ratih dan Janu melelehkan hati siapa pun yang membacanya, itu semua tak lepas dari kehebatan ilustrator Agnezia Zefanya dalam memvisualisasikan kisah luar biasa ini.

Festival, Aku Datang! adalah cerita tentang harapan dan penerimaan

4. Festival, Aku Datang!

Euis penasaran sekali saat teman-temannya bercerita tentang festival yang meriah. Dia sungguh ingin melihatnya sendiri. Ternyata, festival memang luar biasa!

Kisah garapan Tantra Rahmadia ini membuat saya berkelana ke masa kecil. Saya yang sejak kecil tinggal di Tanah Pasundan bisa merasa akrab dengan keinginan Euis dalam buku ini. Kemeriahan festival serta semangat dan kebahagiaan Euis tergambarkan dengan sempurna oleh ilustrasi karya Amalia Dian. Lebih dari itu, kisah ini mengajarkan tentang harapan sekaligus penerimaan bilamana harapan tersebut tak bisa kita wujudkan.

Tarian Sunyi berkisah tentang keberanian melawan keraguan.

5. Tarian Sunyi

Mentari ingin menari, tetapi dia tidak yakin dia bisa. Mentari pun memutuskan untuk mencoba. Ternyata susah. Berkali-kali Mentari salah. Mengapa Mentari bisa salah? Apakah akhirnya Mentari bisa menari?

Sarah Fauzia sang penulis pernah menjadi guru untuk murid-murid difabel. Pengalaman itu nampaknya menginspirasinya menulis Tarian Sunyi, buku yang saya bilang sebagai hadiah berharga untuk anak-anak tuli karena tak banyak buku yang mengangkat tema seperti ini. Kegigihan Mentari sangat khas anak-anak dan pastinya menginspirasi pembaca cilik kita. Widyasari Hanaya sang ilustrator menyempurnakan keindahan cerita dengan visual yang memukau dan mengandung kejutan di beberapa halaman.

Kalung Istimewa berkisah tentang anak-anak istimewa lewat sudut pandang sebuah koin.

6. Kalung Istimewa

Koni koin terjatuh di depan sekolah Olin. Olin mengambil Koni. Apa, ya, yang akan Olin lakukan pada Koni?

Melihat sampulnya kita akan langsung tahu bahwa buku ini mengisahkan anak yang terlahir dengan down syndrome. Uniknya, Fiqih Nindiya Palupi sang penulis menyajikannya dari sudut pandang sebuah koin. Sebuah perspektif yang bagi saya pribadi mengesankan dan out of the box. Menambah rasa penasaran, bukan? Tulisan ini berjodoh dengan gaya ilustrasi yang serasi karya ilustrator asal Bandung, Diani Apsari.

Aduh! menceritakan keseharian anak difabel di panti asuhan.

7. Aduh!

Aduh, lagi-lagi Bena terlambat bangun. Bagaimana ini? Bena harus segera ke sekolah. Hari ini ada ujian. Ah, itu mudah! Bena bisa mengatasi semuanya. Benarkah itu? Apakah Bena berhasil tiba di sekolah tepat waktu?

Saat mengikuti audisi, sebetulnya bukan ini cerita yang saya kirimkan ke Litara. Perubahannya cukup banyak, sekitar 95%. Kok, bisa? Awalnya, naskah saya sungguh kacau: ketidaklogisan cerita, akhir yang terlalu melodramatis, tokoh yang belum jelas perwatakannya, alur yang tanpa konflik. Syukurlah saya mendapat banyak sekali pengayaan dalam lokakarya.

Lewat buku ini, saya mencoba memotret setitik keseharian anak di panti asuhan yang jauh berbeda dengan kehidupan anak yang tinggal bersama orangtuanya, tetapi tetap disajikan dengan asyik dan lucu. Terima kasih pada partner saya, Hany Juwita atas visualisasi yang ciamik dan "hidup".

Pesan Warna-Warni mengisahkan pertemanan dengan anak disabilitas.

8. Pesan Warna-Warni

Tari baru pindah sekolah. Banyak sekali teman barunya. Namun, kenapa Pelangi teman sebangkunya tak pernah bicara sepatah kata pun di kelas? Apa Pelangi tidak suka berteman? Ikuti perjalanan Tari menemukan keistimewaan teman sebangkunya itu.

Membaca judul, sinopsis, serta melihat sampulnya, kita diliputi rasa penasaran sehingga mungkin menebak-nebak apa yang terjadi pada Pelangi. Dan, saat membaca ceritanya, tirai itu disibak perlahan-lahan dengan elegan oleh sang penulis, Dina Antonina, dan ilustrator, Adinda Novalyawati. Temanya baru bagi saya, bahkan mungkin bagi dunia buku anak. Tentang apa itu? Silakan temukan sendiri kejutannya.

Pergilah, Monster Pengganggu! menceritakan seorang anak yang mengalami serangan panik dan fobia.

9. Pergilah, Monster Pengganggu!

Hana akan menonton pertunjukan tari adiknya di festival tahunan sekolah. Namun, di sana ramai sekali. Hana sering mengalami serangan panik dalam suasana yang ramai. Serangan panik itu dibayangkannya sebagai monster nakal dan ia namai Gorigori. Gorigori membuat jantungnya berdebar kencang dan nafasnya sesak. Apa yang akan ia lakukan jika Gorigori muncul? Dapatkah Hana mengalahkan Gorigori dan menonton pertunjukan adiknya?

Buku ini melengkapi koleksi buku bertema disabilitas bersama buku Kalung Istimewa, Tarian Sunyi, Aduh!, dan Pesan Warna-Warni. Penulisnya, Cempaka Noviwijayanti, merupakan lulusan Psikologi UI, lewat buku ini ia mengajak pembaca menyadari kondisi psikologis yang masih jarang diketahui, yakni panick attack dan agorafobia. Sang ilustrator, Juliana Lemong, menggambarkan Gorigori dengan fun tanpa menghilangkan citra monster.

Roti Harapan mencuplik keinginan Keona untuk bersekolah tinggi, alih-alih menikah di usia dini.

10. Roti Harapan

Goretti sahabat Keona tidak sekolah lagi karena harus menikah. Keona tidak ingin seperti Goretti. Keona ingin terus sekolah. Apa yang harus dilakukan Keona agar bisa terus sekolah?

Perkawinan anak masih marak terjadi, terlebih di masa pandemi, banyak anak perempuan putus sekolah karena masalah finansial. Jessica Valentina berhasil menuliskan tema sulit tersebut menjadi buku anak yang cemerlang. Tokoh digambarkan sebagai subjek yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah. Kita pun akan menemukan keindahan motif kain tenun lewat ilustrasi cantik karya Stephanie Susilo.

Gula Merah Tobalo menceritakan orang-orang berkulit belang di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

11. Gula Merah Tobalo

Beddu membantu Ibu berjualan kue di pasar. Pembeli sangat ramai sehingga kue-kue mereka habis terjual. Mereka perlu gula aren lebih banyak untuk membuat kue lagi. Banyak hal menarik yang baru diketahui Beddu saat harus membeli gula aren tersebut.

Buku ini menceritakan orang-orang berkulit belang di Kab. Barru, Sulawesi Selatan, yang biasa dipanggil Tobalo. Unik, bukan? Saya sendiri baru kali ini mengetahuinya. Banyak hal menarik dari Tobalo yang diceritakan dalam buku karya Nur Inayah Syar dan Sufina Wamina Rizki.

Tunggu Aku! mengisahkan keinginan besar seorang anak perempuan yang tinggal di pinggiran Jakarta.

12. Tunggu Aku!

Lita sangat menyukai semua hal tentang pilot wanita. Idolanya adalah Amelia Earhart, yang dibacanya dari buku pemberian Bapak. Lita juga sangat mengidolakan Pilot Ajeng, seorang pilot pesawat tempur wanita pertama Indonesia. Lita bahkan bercita-cita ingin jadi pilot pesawat tempur. Karena itu, begitu mengetahui bahwa Pilot Ajeng akan melakukan atraksi saat perayaan Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara. Lita tak ingin melewatkan acara tersebut. Bagaimana caranya? Dapatkah Lita menyaksikan atraksi tersebut?

Sofia Natalia Zebua membuat kami semua kagum karena Sofia adalah peserta paling muda di antara 15 penulis peserta lokakarya. Ya, ia masih duduk di bangku SMA saat mengikuti lokakarya. Karyanya sungguh luar biasa. Ilustrasinya dikerjakan dengan cantik oleh Stephanie Valentine.

Pesan dalam Amplop bercerita tentang hubungan pertemanan manis antara dua anak dari strata sosial berbeda.

13. Pesan dalam Amplop

Setiap bulan, Marlina mendapatkan amplop berisi santunan dan pesan-pesan penyemangat. Marlina ingin menghadiahkan amplop juga kepada sahabatnya. Apa, ya, isi amplop Marlina?

Dunia anak-anak yang digambarkan oleh Yulina Trihaningsih dalam buku ini sangat terasa apa adanya dan membuat haru. Persahabatan dua anak dari kelompok sosial yang berbeda diceritakan lewat metafora sebuah amplop. Ilustrasinya sangat serasi dengan tema cerita, dibuat oleh Jennifer Amaris.

Warna Baruku adalah cerita tentang anak perempuan yang ingin membuktikan kemampuannya.

14. Warna Baruku

Alma kesal. Ayah sering melarangnya melakukan ini dan itu. Alasannya karena Alma perempuan. Suatu hari, Alma ingin mengganti warna kamarnya. Alma tidak suka warna merah muda. Di luar dugaan, Ayah setuju. Ayah dan Kak Yodi yang akan mengecat kamar Alma. Namun pada hari yang dijanjikan, Ayah dan Kak Yodi malah sibuk melakukan hal lain. Apa yang kemudian dilakukan oleh Alma? Berhasilkah dia mendapat warna baru untuk kamarnya?

Siapa bilang isu sulit seperti kesetaraan tidak bisa dijadikan cerita untuk anak? Sekar Ayu Adhaningrum membuktikan bahwa itu bisa dilakukan dengan tetap merefleksikan perilaku anak-anak secara alamiah. Sang ilustrator, Nuurin Aulia memberi sentuhan yang khas pada gaya ilustrasinya.

Genggaman Tangan adalah kisah tentang seorang anak yang tetap bertahan meski sang ibu telah tiada.

15. Genggaman Tangan

Kimi kehilangan ibu ketika gunung es runtuh. Kimi sedih sekali. Apakah Kimi bisa berburu makanan tanpa ditemani Ibu?

Buku ini saya simpan sebagai penutup bukan tanpa alasan. Saya sangat tersentuh ketika membaca cerita finalnya karena temanya sangat relevan dengan kondisi pandemi saat ini. Banyak anak yang kehilangan orangtuanya karena wabah. Sungguh kehilangan yang amat besar untuk negara ini. Mawani Gultom melalui tokoh Kimi seperti sedang memeluk anak-anak yang tengah berduka. Ilustrasi karya Muninggar Herdianing menyempurnakan kisah haru ini menjadi sebuah kado terindah.

com-Ilustrasi anak sedang membaca buku sebagai salah satu kegiatan untuk menstimulasi kecerdasan. Foto: Shutterstock

Buku dan Tantangan Membesarkan Anak-anak Tangguh di Masa Krisis

Tak dimungkiri bahwa pandemi mendatangkan berbagai tantangan dan keterbatasan, khususnya untuk anak-anak. Keterbatasan pendidikan, ekonomi, sampai kehilangan orangtua kini seperti menjadi hantu bagi masa depan mereka. Namun, sebagai orang dewasa, kita punya tanggung jawab supaya kondisi tersebut tidak memutus harapan dan mencuri keceriaan dari mata mereka.

Dalam momen yang bersamaan, 15 buku anak ini lahir. Semua temanya sangat pas dengan situasi saat ini yang tidak mudah kita hadapi, yakni tentang mengatasi kesulitan hidup, keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan, juga kehilangan. Tentu bukan kebetulan jika kisah-kisah dalam buku-buku tersebut menginspirasi kekuatan harapan, ketangguhan, dan keceriaan bagi anak-anak. Semoga saja kelima belas buku tersebut turut berperan untuk membesarkan anak-anak yang tangguh melewati masa krisis ini.

Saya tak sabar mengenalkan tokoh anak perempuan dalam 15 buku tersebut kepada Kakak, anak sulung saya, dan adik perempuannya. Semoga mereka tumbuh jadi anak perempuan yang tangguh seperti Gendis, Nesa, Ratih, Euis, Mentari, Olin, Bena, Pelangi, Hana, Keona, Sanna, Lita, Marlina, Alma, dan Kimi.

Selamat dan terima kasih untuk The Asia Foundation, Litara Foundation, penulis, ilustrator, editor, dan semua yang terlibat dalam pembuatan buku ini. Dan, untuk sahabat-sahabat cilik, selamat membaca, selamat menjelajahi keragaman semesta!

Selengkapnya, silakan kunjungi laman Let's Read atau unduh aplikasinya di playstore. Ratusan buku anak berkualitas dalam genggaman. Mudah dan gratis!

Aplikasi Let's Read dapat diunduh di ponsel atau tablet.