Belajar Makna Kemerdekaan Hakiki dan Bermartabat dari Sosok H. Agus Salim

Mahasiswa S-1 Ilmu Perpustakaan Universitas Terbuka. Pengusaha yang aktif menulis opini di media massa. Meminati dunia desain grafis dan literasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rizki Anugerah Lastiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agustus tiba, dan merah-putih kembali mendominasi sudut-sudut kota. Di bulan ini, kata "merdeka" diucapkan jutaan kali, mulai dari pidato kenegaraan hingga obrolan santai di warung kopi. Namun, di tengah semarak kemeriahan ini, mari kita sejenak mengambil jeda dan bertanya secara reflektif: Apa sebenarnya makna kemerdekaan yang hakiki bagi kita sebagai individu di era modern?
Secara kasat mata, merdeka sering disalahartikan sebagai kondisi tanpa batas—bebas melakukan apa saja tanpa kekangan. Padahal, jika kita membedahnya dari kacamata psikologi sosial, kebebasan tanpa batas justru berpotensi melahirkan anarki. Merdeka yang sesungguhnya bukanlah kebebasan yang liar, melainkan kebebasan yang terkontrol, terarah, dan bermartabat.
Anatomi Kemerdekaan Diri
Kemerdekaan hakiki adalah tentang self-determination atau determinasi diri. Ia mewujud dalam beberapa pilar esensial dalam kehidupan sehari-hari:
• Merdeka dalam Berpikir: Kemampuan untuk memilah informasi, tidak mudah terprovokasi, dan memiliki nalar kritis di tengah derasnya arus informasi.
• Merdeka dalam Mengambil Keputusan: Berani bertanggung jawab atas pilihan hidup tanpa harus tunduk pada validasi atau tekanan sosial yang toksik.
• Merdeka dalam Menyampaikan Pendapat: Bersuara lantang namun tetap beretika, mengedepankan dialog rasional di atas sentimen emosional.
• Merdeka dalam Memilih dan Berekspresi: Termasuk hal sederhana seperti memilih dan memakai pakaian. Kita berpakaian untuk mengekspresikan identitas dan kenyamanan diri, bukan sekadar membebek pada tren atau standar yang dipaksakan orang lain.
Seringkali, euforia kebebasan menjebak kita pada ilusi bahwa merdeka berarti memiliki hak mutlak untuk bertindak sebebas-bebasnya. Padahal, jika setiap individu menuntut kebebasan tanpa batas, yang lahir bukanlah keharmonisan sosial, melainkan sebuah anarki. Dalam kacamata sosiologi, kebebasan yang tidak dikalibrasi dengan batasan akan bersinggungan—bahkan menabrak dengan keras—kebebasan individu lain. Di sinilah letak ironinya: ketika semua orang merasa berhak berbuat semaunya sendiri, hakikat kemerdekaan itu justru mati dan tergantikan oleh kekacauan.
Oleh karena itu, kemerdekaan yang hakiki dan bermartabat sejatinya adalah "kebebasan yang terikat". Kalimat ini mungkin terdengar paradoks, namun aturan, norma, dan hukum yang berlaku di masyarakat hadir bukan untuk memasung kemerdekaan, melainkan untuk melindunginya. Hukum bertindak sebagai pagar pembatas yang memastikan bahwa ekspresi, tindakan, dan pilihan hidup kita tidak merugikan orang lain. Merdeka berarti kita secara sadar dan sukarela menundukkan diri pada kesepakatan bersama demi menjaga keseimbangan tatanan bermasyarakat.
Konsep kebebasan yang terkontrol ini wajib mewujud nyata dalam dua instrumen utama interaksi manusia: tindakan dan ucapan. Di era modern ini, kemerdekaan berpendapat kerap disalahartikan sebagai lisensi tak terbatas untuk menebar ujaran kebencian, cacian, atau informasi palsu dengan dalih "saya berhak bicara apa saja". Menjadi manusia merdeka tidak berarti kita bebas melukai kehormatan orang lain. Setiap kata yang diketik, setiap kalimat yang terucap, dan setiap langkah yang diambil tetap harus tunduk pada koridor hukum serta mempertimbangkan empati.
Pada akhirnya, puncak tertinggi dari sebuah kemerdekaan adalah hadirnya rasa tanggung jawab. Kebebasan yang sejati baru bisa tercapai ketika kita mampu mengendalikan ego pribadi dan menyelaraskannya dengan etika kemanusiaan serta hukum yang berlaku. Inilah esensi dari kemerdekaan yang bermartabat; sebuah kebebasan elegan yang tidak hanya bertujuan memuliakan diri sendiri, tetapi juga secara aktif menjaga martabat orang-orang di sekeliling kita.
Kemerdekaan yang hakiki dan bermartabat membutuhkan kematangan emosional dan intelektual. Di sinilah kita perlu menengok kembali sejarah dan belajar dari sosok manusia Indonesia yang merdeka seutuhnya: H. Agus Salim.
Teladan Kebebasan Bermartabat ala H. Agus Salim
H. Agus Salim, yang kerap dijuluki "The Grand Old Man", adalah manifestasi sempurna dari konsep merdeka yang hakiki. Beliau adalah seorang diplomat ulung, intelektual, dan poliglot (menguasai banyak bahasa asing). Namun, yang paling menonjol dari beliau bukanlah sekadar kecerdasannya, melainkan kemerdekaan jiwanya.
"Memimpin adalah menderita." — Pameo terkenal H. Agus Salim yang mencerminkan ketulusannya.
Mari kita bedah kemerdekaan H. Agus Salim berdasarkan pilar-pilar di atas:
1. Kemerdekaan Berpikir dan Berpendapat yang Tak Tergoyahkan
Agus Salim tidak pernah merasa inferior (rendah diri) di hadapan penjajah. Secara intelektual, ia sejajar—bahkan melampaui—para tokoh kolonial. Saat beliau berpidato dan diejek oleh kelompok lawan politik dengan suara embikan kambing (merujuk pada janggutnya yang khas), beliau tidak marah. Dengan tenang dan jenaka beliau membalas, "Saya heran, di ruangan ini banyak manusia terpelajar, tapi mengapa ada suara kambing?" Itulah wujud kemerdekaan emosional; beliau tidak membiarkan provokasi orang lain merenggut kedamaian pikirannya.
2. Merdeka dalam Berekspresi dan Berpakaian
Sebagai seorang diplomat yang dihormati di forum internasional, Agus Salim hidup dalam kesederhanaan yang ekstrem. Ia sering kali hanya mengenakan pakaian sederhana, bahkan pernah menghadiri acara resmi dengan pakaian yang jauh dari standar kemewahan Barat. Mengapa? Karena beliau tahu bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh jahitan kain di tubuhnya, melainkan oleh isi kepala dan integritas di dalam dadanya. Ia merdeka dari tuntutan materialisme kolonial. Beliau memilih pakaian yang nyaman dan pantas menurut prinsipnya, bukan menurut standar orang lain.
3. Kebebasan yang Terarah pada Tujuan Besar
Semua kebebasan yang dimiliki H. Agus Salim—berpikir, bersikap, dan berbusana—tidak digunakan untuk kesombongan pribadi. Kebebasannya sepenuhnya terarah untuk diplomasi dan perjuangan pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia, salah satunya di negara-negara Timur Tengah. Inilah bukti bahwa kemerdekaannya sangat bermartabat dan memiliki tujuan (purpose-driven).
Menjadi Manusia Indonesia Seutuhnya
Menjelang peringatan kemerdekaan ini, kisah H. Agus Salim menampar kesadaran kita. Sudahkah kita benar-benar merdeka? Ataukah kita masih menjadi tawanan dari tren media sosial, ekspektasi orang lain, dan ketakutan untuk berbeda?
Kemerdekaan yang hakiki berarti kita memiliki kendali penuh atas diri kita sendiri, sembari tetap menghormati hak dan kemerdekaan orang lain. Kebebasan kita dibatasi oleh tanggung jawab moral dan etika sosial. Itulah yang membuatnya bermartabat.
Mari rayakan Agustus ini tidak hanya dengan mengibarkan bendera di halaman rumah, tetapi juga dengan memerdekakan isi kepala dan jiwa kita. Jadilah manusia yang merdeka secara utuh; bebas yang terarah, bebas yang terkontrol, dan bebas yang bermartabat.
