Gelar Sarjana, Gaji CS: Kenapa Pilih Sapu ketimbang Guru Honorer?

Mahasiswa S-1 Ilmu Perpustakaan Universitas Terbuka. Pengusaha yang aktif menulis opini di media massa. Meminati dunia desain grafis dan literasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizki Anugerah Lastiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, di lobi sebuah gedung perkantoran yang megah, saya nyaris tidak mengenali sosok pria di balik seragam biru tua yang sibuk mengoperasikan mesin poles lantai. Dia adalah kawan lama saya, seorang lulusan S-1 Pendidikan yang beberapa tahun lalu masih semangat berdiskusi tentang metode mengajar di ruang kelas.
Saat mata kami bertemu, tidak ada gurat malu di wajahnya. Hanya senyum tipis yang mengiringi kalimat pendek namun menghunjam jantung: "Gelar sarjana saya simpan di lemari, Rizki. Sekarang saya pilih pegang sapu, karena gaji guru honorer tidak bisa membuat dapur di rumah berasap." Kalimat itu membuat saya terdiam. Di negeri yang katanya memuliakan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" ini, teman saya justru harus menanggalkan baju gurunya demi upah layak yang sesuai UMR.
Mari kita bicara jujur soal angka. Sebagai guru honorer di sebuah sekolah pinggiran, ia mungkin hanya menerima "honor" sebesar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan. Sebuah nominal yang sering kali lunas hanya untuk ongkos transportasi dan kuota internet demi mengirim tugas siswa. Sementara itu, sebagai cleaning service di gedung komersial, ia berhak atas upah layak sesuai UMR yang mencapai angka jutaan rupiah, lengkap dengan jaminan kesehatan (BPJS) dan tunjangan lembur yang hitungannya jelas.
Bagi mereka yang melihat dari jauh, pilihan ini mungkin tampak seperti "penurunan kasta" atau pengkhianatan terhadap gelar sarjana. Namun, bagi dia yang harus menghadapi tumpukan tagihan dan memastikan dapur tetap mengepul, ini adalah keputusan yang paling rasional. Idealisme memang terdengar seksi saat didiskusikan di bangku kuliah, tapi ia sering kali mendadak bisu ketika dihadapkan pada nota listrik yang sudah lewat jatuh tempo.
Secara psikologis, pilihan teman saya sebenarnya adalah upaya otak manusia untuk mencapai stabilitas emosional. Jika merujuk pada Hirarki Kebutuhan Maslow, kebutuhan dasar seperti pangan dan keamanan finansial berada di tingkat paling bawah; mereka adalah fondasi. Seseorang tidak akan pernah bisa mengajar dengan tenang (aktualisasi diri) jika perutnya lapar atau pikirannya terus dihantui oleh tagihan yang menunggak (kebutuhan fisiologis).
Ada beban mental yang jauh lebih berat ketika seseorang menyandang status 'terhormat' sebagai guru namun hidup dalam kemiskinan kronis. Kondisi ini sering memicu apa yang disebut para ahli sebagai scarcity mindset—sebuah kondisi di mana otak terlalu lelah memikirkan kekurangan uang sehingga fungsi kognitif lainnya menurun. Dengan memilih menjadi cleaning service yang memiliki penghasilan pasti, teman saya sebenarnya sedang menyelamatkan kesehatan mentalnya. Ia menukar "gengsi profesional" yang semu dengan "rasa aman" yang nyata.
Namun, tantangan terberat bagi teman saya ternyata bukanlah lelahnya fisik menyikat lantai atau membersihkan kaca seharian. Musuh terbesarnya adalah stigma masyarakat yang masih memuja "kulit" luar. Menjadi sarjana yang memegang sapu di mata orang lain adalah sebuah kegagalan, atau setidaknya, sebuah ironi yang layak dijadikan bahan kasak-kusuk tetangga. Ada banyak pertanyaan bernada kasihan yang sebenarnya lebih mirip tusukan: "Lho, jauh-jauh kuliah kok malah jadi CS?" atau "Apa nggak sayang ijazahnya?" Padahal, mereka yang bertanya tidak pernah tahu betapa sesaknya napas seorang pria saat harus pulang dengan tangan hampa di akhir bulan hanya demi menjaga gengsi. Teman saya mengajarkan satu hal penting: bahwa ijazah tidak pernah mengajarkannya untuk menjadi angkuh, melainkan untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab. Ia memilih menelan gengsinya dalam-dalam bersama debu yang ia bersihkan, demi memastikan bahwa martabat keluarganya tetap terjaga di atas meja makan. Baginya, lebih baik terlihat "rendah" di mana manusia tapi tegak di hadapan tanggung jawab, daripada terlihat "mulia" dalam balutan seragam guru tapi hidup dalam bayang-bayang utang yang tak kunjung usai.
Kisah teman saya ini adalah tamparan keras bagi kita semua yang masih sering terjebak dalam romantisme gelar. Kita sering kali terlalu sibuk menuntut dedikasi dari para pengajar, tanpa pernah benar-benar peduli apakah perut mereka sudah terisi atau apakah anak-anak mereka bisa sekolah dengan layak.
Pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mentereng seragam yang ia pakai atau seberapa tinggi gelar yang berderet di belakang namanya. Kehormatan yang sesungguhnya ada pada keberanian untuk jujur pada realita, menanggalkan ego, dan bekerja keras demi orang-orang yang dicintai. Saya bangga pada kawan saya itu. Di ujung sapu dan mesin polesnya, ia bukan sedang membuang ilmunya, melainkan sedang mempraktikkan pelajaran hidup yang paling hakiki: bahwa menjadi "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" memang gelar yang suci, namun ia tidak akan pernah sanggup membayar harga diri yang hancur karena gagal menafkahi keluarga.
