Membumikan Pancasila Sebagai Algoritma Moral Anak Muda di Era Digital

Mahasiswa S-1 Ilmu Perpustakaan Universitas Terbuka. Pengusaha yang aktif menulis opini di media massa. Meminati dunia desain grafis dan literasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rizki Anugerah Lastiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah mencatat bahwa "Kesaktian" Pancasila selalu diuji oleh benturan fisik dan politik yang berdarah—mulai dari tragedi G30S/PKI hingga domestikasi ideologi sebagai alat pemukul kritik di era Orde Baru. Namun di abad ke-21, musuh baru Pancasila tidak lagi berwujud pemberontakan bersenjata atau totalitarianisme negara, melainkan untaian kode tak kasat mata bernama Artificial Intelligence (AI). Ketika pemuda-pemudi Indonesia tumbuh dalam ekosistem digital yang pragmatis dan cenderung menelan mentah-mentah ideologi transnasional lewat For Your Page (FYP) media sosial, Pancasila dihadapkan pada ujian eksistensial. Apakah dasar negara ini masih sakti, atau ia akan usang digilas algoritma?
Untuk memahami bagaimana Pancasila bisa mengarungi badai digital hari ini, kita harus memutar jarum jam kembali ke titik nol. Kita perlu melihat bagaimana ideologi ini pertama kali dirumuskan bukan sebagai dogma mati, melainkan sebagai sebuah pandangan dunia yang dinamis.
Dari Meja BPUPKI: Pancasila sebagai Ideologi Terbuka
Ketika Bung Karno berdiri di podium sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, ia memeras saripati peradaban Nusantara menjadi lima sila. Bung Karno tidak sedang menciptakan sebuah dogma kaku, melainkan sebuah philosophische grondslag (dasar filsafat) dan weltanschauung (pandangan dunia).
Pancasila sejak awal dirancang sebagai ideologi terbuka (open ideology). Sifatnya yang cair dan adaptif justru menjadi kekuatan utama. Para pendiri bangsa sadar bahwa Indonesia adalah eksperimen kebangsaan yang besar. Agar bisa bertahan melintasi zaman, fondasinya harus kokoh namun tidak boleh beku oleh perubahan eksternal.
Namun, sifat adaptif ini ibarat pisau bermata dua. Dalam perjalanannya, kelenturan Pancasila justru kerap ditarik ke arah ekstrem oleh syahwat politik penguasa dari masa ke masa.
Ujian Darah dan Manipulasi Kuasa: Dari G30S/PKI hingga Orde Baru
Ujian fisik terbesar pertama kali hadir dalam tragedi G30S/PKI pada tahun 1965. Di tengah pusaran konflik ideologi global antara komunisme dan kapitalisme, Pancasila diuji dalam narasi pertumpahan darah. Pada fase krusial ini, Pancasila membuktikan "kesaktiannya" sebagai titik temu nasional (common denominator) yang mencegah Indonesia runtuh ke dalam jurang perang saudara yang berkepanjangan.
Sayangnya, pasca-1965, narasi kesaktian ini mengalami pergeseran makna yang ironis di tangan rezim Orde Baru. Pancasila direduksi melalui indoktrinasi masif penataran P4 dan dijadikan instrumen pemukul politik. Siapa pun yang mengkritik jalannya pemerintahan akan dengan mudah dicap "anti-Pancasila". Di balik tameng ideologi yang disakralkan secara semu itu, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) justru tumbuh subur dan merusak sendi-sendi keadilan sosial.
Trauma kolektif terhadap eksploitasi Pancasila oleh Orde Baru ini melahirkan efek bandul yang ekstrem ketika gerbang Reformasi 1998 dibuka. Karena telanjur diidentikkan sebagai alat kekuasaan rezim lama, Pancasila sempat mengalami "amnesia ideologis" dalam ruang publik kita.
Kelengahan kita dalam merawat narasi Pancasila pasca-Reformasi inilah yang membuka celah bagi invasi baru yang jauh lebih subtil. Hari ini, ruang siber kita tidak lagi sekadar diperebutkan oleh narasi politik lokal, melainkan dikendalikan oleh kecerdasan buatan. Di sinilah Pancasila harus berhadapan langsung dengan watak pragmatis generasi digital.
Menghadapi "Generasi Algoritma": Tiga Ancaman Laten AI
Pemuda-pemudi Indonesia hari ini adalah generasi yang menghargai efisiensi, kecepatan, dan kenyamanan digital. Karakteristik pragmatis ini sangat klop dengan apa yang ditawarkan oleh AI. Namun, ketika kepasifan kognitif ini bertemu dengan ekosistem AI yang manipulatif tanpa adanya filter ideologi yang kuat, Pancasila langsung dihadapkan pada tiga ancaman laten:
• Pertama, Komodifikasi Kebenaran (Mengikis Sila Kedua). Sila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" kini digoyang oleh kehadiran Generative AI dan teknologi deepfakes. Kebenaran kini bisa dipabrikasi secara instan demi kepentingan elektoral atau ekonomi. Ketika video rekayasa AI digunakan untuk memitnah dan menyebarkan hoaks rasial, kemanusiaan kita sedang didegradasi. Anak muda yang pragmatis sering kali malas melakukan cross-check, sehingga terjebak dalam penghakiman massal di media sosial.
• Kedua, Lanskap Post-Truth dan Echo Chamber (Mengancam Sila Ketiga). Sila "Persatuan Indonesia" kini berhadapan dengan algoritma recommendation system. AI dirancang untuk mengurung pengguna dalam filter bubble—menyajikan konten yang hanya sesuai dengan bias dan kemarahan mereka. Akibatnya, polarisasi menajam. Anak muda terjebak dalam ruang gema kelompoknya sendiri, yang lambat laun mematikan semangat gotong royong dan toleransi.
• Ketiga, Kemalasan Kognitif (Mematikan Esensi Sila Keempat). Demokrasi kita berbasis pada "Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan". Kata kuncinya adalah hikmat—sebuah proses berpikir mendalam yang melibatkan empati dan nalar kritis. Sayangnya, ketergantungan pada Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT memicu kemalasan berpikir. AI tidak memiliki hikmat atau kebijaksanaan; ia hanya memprediksi kata berdasarkan probabilitas statistik. Jika keputusan masa depan diserahkan pada "saran" AI tanpa dialektika pemikiran manusia, esensi musyawarah kita telah mati.
Menghadapi konvergensi antara disinformasi bertenaga AI dan pragmatisme anak muda ini, kita tiba pada sebuah refleksi akhir yang krusial. Jika tantangan zaman telah bermutasi dari peluru menjadi algoritma, lantas bagaimana kita menjawab gugatan tentang relevansi ideologi ini?
Kesimpulan: Pancasila sebagai "Algoritma Moral" Kita
Jawabannya tegas: Pancasila masih sangat relevan dan sakti, tetapi dengan satu syarat besar. Kesaktian Pancasila hari ini tidak boleh lagi terjebak dalam ritus seremonial, pidato kaku, atau hafalan butir-butir sila yang usang. Pancasila harus dire-aktualisasi menjadi sebuah Literasi Digital Berbasis Etika—sebuah "algoritma moral" yang tertanam kuat dalam kognisi setiap anak muda Indonesia.
Sila pertama hingga kelima adalah filter terbaik untuk menyaring bias, hoaks, dan dehumanisasi teknologi. Menolak kemajuan AI adalah kemunduran tekno-ekonomic, namun menerima AI tanpa jangkar Pancasila adalah bentuk bunuh diri kebudayaan. Di tangan pemuda yang kritis, Pancasila harus menjadi kompas utama agar AI bekerja untuk memuliakan kemanusiaan, bukan justru mendikte kemanusiaan kita. Selamat Hari Lahir Pancasila!
