Konten dari Pengguna

Jualan Ramai Belum Tentu Untung: Kesalahan Pedagang dalam Mengelola Uang

Meki Suhendri

Meki Suhendri

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meki Suhendri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://images.pexels.com/photos/36860073/pexels-photo-36860073.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://images.pexels.com/photos/36860073/pexels-photo-36860073.jpeg

Ada pedagang yang setiap hari dagangannya terlihat ramai. Pembeli datang silih berganti. Uang masuk terus. Dari luar, bisnisnya terlihat baik-baik saja.

Tetapi ketika ditanya, “Untungnya berapa hari ini?”, jawabannya sering tidak jelas.

Di sinilah persoalan banyak usaha kecil dimulai. Jualan ramai belum tentu berarti bisnis menghasilkan keuntungan.

Banyak pedagang lebih fokus menghitung berapa uang yang masuk daripada berapa keuntungan yang sebenarnya tersisa.

Padahal, uang hasil penjualan bukan semuanya milik pemilik usaha.

Uang Masuk Bukan Berarti Keuntungan

Misalnya seorang pedagang makanan mendapatkan penjualan Rp1 juta dalam satu hari.

Angka Rp1 juta tersebut terlihat besar.

Tetapi dari uang itu masih ada biaya bahan baku, minyak, gas, kemasan, listrik, transportasi, sewa tempat, hingga biaya lainnya.

Jika seluruh biaya mencapai Rp750 ribu, maka keuntungan yang tersisa bukan Rp1 juta, melainkan sekitar Rp250 ribu.

Masalahnya, sebagian pedagang tidak menghitung sampai sejauh itu.

Ketika uang di tangan terasa banyak, sebagian langsung digunakan untuk kebutuhan pribadi. Akhirnya, ketika tiba waktunya membeli bahan baku lagi, modal sudah berkurang.

Besoknya harus mencari uang lagi.

Bisnis akhirnya seperti berlari di tempat.

Kesalahan Pertama: Mencampur Uang Usaha dan Uang Pribadi

Ini mungkin kesalahan yang paling sering terjadi pada bisnis kecil.

Uang hasil jualan masuk ke satu dompet atau satu rekening. Dari tempat yang sama, pemilik mengambil uang untuk membeli bahan dagangan, membayar kebutuhan rumah, membeli sesuatu untuk pribadi, bahkan membayar tagihan lain.

Semua bercampur.

Akibatnya, pemilik usaha sulit mengetahui kondisi bisnis sebenarnya.

Apakah usaha sedang untung?

Apakah modalnya bertambah?

Atau sebenarnya usaha hanya terlihat berjalan karena uang terus berputar?

Pemerintah sendiri menekankan pentingnya pencatatan keuangan bagi pelaku usaha. Kementerian UMKM melalui SMEsta menjelaskan bahwa pencatatan yang baik membantu pelaku usaha menentukan harga jual, mengetahui keuntungan atau kerugian, memahami arus kas, dan mengambil keputusan bisnis.

Artinya, mencatat keuangan bukan hanya pekerjaan perusahaan besar.

Pedagang kecil pun membutuhkannya.

Kesalahan Kedua: Menganggap Semua Uang di Kas sebagai Milik Sendiri

Seorang pedagang mendapatkan uang Rp500 ribu dari hasil jualan hari ini.

Karena melihat uang tersebut ada di laci, muncul pikiran, “Hari ini dapat Rp500 ribu.”

Padahal, belum tentu.

Sebagian dari uang tersebut sebenarnya adalah modal untuk membeli bahan dagangan berikutnya.

Jika seluruh uang diambil untuk kebutuhan pribadi, usaha akan kehilangan modal untuk beroperasi.

Inilah alasan mengapa pedagang perlu membedakan setidaknya tiga hal: modal, omzet, dan keuntungan.

Modal adalah uang yang digunakan untuk menjalankan usaha.

Omzet adalah total penjualan.

Sementara keuntungan adalah sisa setelah pendapatan dikurangi berbagai biaya usaha.

Ketiganya berbeda.

Sederhana, tetapi sering tertukar.

Kesalahan Ketiga: Tidak Tahu Berapa Biaya Sebenarnya

Kesalahan lainnya adalah menentukan harga hanya berdasarkan harga pesaing.

Misalnya pedagang melihat orang lain menjual makanan seharga Rp10 ribu. Ia kemudian ikut menjual Rp10 ribu.

Masalahnya, belum tentu biaya produksinya sama.

Pedagang lain mungkin membeli bahan baku dalam jumlah besar sehingga mendapatkan harga lebih murah. Bisa jadi tempat usahanya milik sendiri. Bisa juga biaya operasionalnya lebih rendah.

Sementara pedagang yang baru mulai mungkin mempunyai biaya lebih tinggi.

Kalau harga ditentukan hanya karena “pedagang lain juga menjual segitu”, bisnis bisa saja ramai tetapi marginnya terlalu tipis.

Karena itu, sebelum menentukan harga, pedagang perlu mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produknya.

Jangan hanya bertanya, “Barang ini laku berapa?” tetapi juga bertanya, “Setelah semua biaya dibayar, saya mendapatkan berapa?”

Kesalahan Keempat: Terlalu Banyak Mengambil Keuntungan di Awal

Ada juga pedagang yang ketika dagangan mulai ramai langsung merasa bisnisnya sudah berhasil.

Uang hasil jualan kemudian digunakan untuk membeli barang pribadi, mengganti kendaraan, makan di luar, atau memenuhi berbagai kebutuhan lain.

Tidak salah menikmati hasil usaha.

Namun, bisnis yang masih berkembang juga membutuhkan uang untuk tumbuh.

Sebagian keuntungan seharusnya bisa dikembalikan ke bisnis.

Misalnya untuk menambah stok, memperbaiki peralatan, meningkatkan kualitas produk, memperbaiki kemasan, atau mencoba strategi pemasaran baru.

Kalau seluruh keuntungan selalu diambil, bisnis bisa sulit berkembang.

Bisnis Kecil Justru Membutuhkan Pengelolaan yang Sederhana

Banyak orang mengira mengelola keuangan bisnis membutuhkan sistem yang rumit.

Padahal, pedagang kecil bisa memulainya dengan cara sederhana.

Setiap hari cukup mencatat:

Berapa uang yang masuk?

Berapa uang yang keluar?

Untuk apa uang tersebut digunakan?

Berapa modal yang masih tersedia?

Berapa keuntungan yang diperoleh?

Tidak perlu langsung menggunakan sistem akuntansi yang rumit.

Buku tulis, spreadsheet, atau aplikasi pencatatan sederhana pun bisa menjadi awal.

Yang penting bukan alatnya.

Yang penting adalah kebiasaannya.

BPS dalam Profil Industri Mikro dan Kecil 2024 juga menunjukkan bahwa usaha mikro dan kecil masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan akses dan modal serta kualitas sumber daya manusia dan manajemen.

Artinya, kemampuan mengelola usaha bukan persoalan tambahan.

Itu bagian dari kemampuan bertahan.

Jangan Tertipu oleh Ramainya Pembeli

Ada satu hal yang perlu dipahami oleh setiap pedagang: ramai bukan ukuran satu-satunya keberhasilan bisnis.

Warung yang setiap hari ramai belum tentu lebih sehat daripada warung yang pembelinya lebih sedikit tetapi memiliki margin keuntungan yang lebih baik dan pengelolaan keuangan yang rapi.

Begitu juga dengan bisnis online.

Pesanan banyak belum tentu berarti keuntungan besar jika biaya produksi, diskon, biaya platform, promosi, pengiriman, dan biaya lainnya terlalu tinggi.

Karena itu, jangan hanya mengejar penjualan.

Kejar juga kesehatan bisnis.

Lebih baik memahami angka bisnis sendiri daripada sekadar merasa senang karena melihat uang masuk.

Pedagang Harus Belajar Menjadi Pengelola

Menjadi pedagang bukan hanya soal kemampuan menjual.

Ketika usaha mulai berjalan, pemilik juga harus belajar menjadi pengelola.

Harus tahu kapan membeli stok.

Harus tahu produk mana yang paling menguntungkan.

Harus tahu pengeluaran mana yang bisa dikurangi.

Harus tahu berapa uang yang boleh digunakan untuk kebutuhan pribadi.

Dan yang paling penting, harus tahu apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan.

Banyak usaha kecil sebenarnya memiliki produk yang bagus dan pelanggan yang cukup.

Masalahnya bukan selalu kurang pembeli.

Kadang masalahnya adalah uang usaha tidak dikelola dengan baik.

Jangan Sampai Ramai di Depan, tetapi Bocor di Belakang

Bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang terlihat ramai.

Bisnis yang sehat adalah bisnis yang setelah semua kebutuhan dibayar masih memiliki keuntungan dan modal yang cukup untuk terus berjalan.

Karena itu, pedagang tidak perlu malu mulai mencatat.

Tidak perlu menunggu bisnis menjadi besar.

Justru ketika bisnis masih kecil, kebiasaan mengelola uang harus mulai dibangun.

Sebab ketika omzet sudah semakin besar, kesalahan kecil dalam mengelola uang juga bisa menjadi semakin besar.

Jualan memang penting. Tetapi tahu ke mana uang hasil jualan pergi jauh lebih penting.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pedagang bukan hanya berapa banyak pembeli yang datang.

Tetapi berapa banyak nilai yang berhasil disisakan setelah semua biaya dibayar.

Jangan hanya bangga karena dagangan ramai. Pastikan bisnis benar-benar menghasilkan.