Konten dari Pengguna

Kenapa Perusahaan Besar Bisa Bangkrut Padahal Produknya Terkenal?

Meki Suhendri

Meki Suhendri

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meki Suhendri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://images.pexels.com/photos/39351204/pexels-photo-39351204.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
https://images.pexels.com/photos/39351204/pexels-photo-39351204.jpeg

Kalau sebuah perusahaan sudah terkenal, produknya ada di mana-mana, punya banyak pelanggan, bahkan sudah dikenal sampai luar negeri, kita mungkin berpikir perusahaan tersebut pasti aman.

Ternyata tidak selalu.

Salah satu contoh yang cukup mengejutkan di Indonesia adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Perusahaan tekstil yang pernah menjadi salah satu pemain besar di industri tekstil tersebut resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang pada Oktober 2024.

Padahal, Sritex bukan perusahaan kecil.

Perusahaan ini pernah memproduksi sekitar 24 juta potong kain per tahun dan mengekspor produknya ke puluhan negara. Sritex juga pernah memproduksi pakaian untuk merek ternama serta seragam militer untuk berbagai negara.

Lalu muncul pertanyaan yang menarik:

Kalau perusahaan sebesar itu bisa jatuh, sebenarnya apa yang membuat sebuah bisnis bangkrut?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana “produknya sudah tidak laku”.

Terkenal Tidak Sama dengan Sehat

Kesalahan pertama yang sering dilakukan masyarakat adalah menganggap popularitas sebagai tanda kesehatan bisnis.

Padahal keduanya berbeda.

Sebuah perusahaan bisa memiliki merek terkenal, pelanggan yang banyak, dan penjualan yang besar, tetapi tetap mengalami masalah keuangan.

Mengapa?

Karena perusahaan tidak hidup hanya dari penjualan.

Ada biaya bahan baku, gaji karyawan, sewa, listrik, distribusi, bunga pinjaman, pajak, investasi, dan berbagai kewajiban lain yang harus dibayar.

Bahkan ketika sebuah perusahaan mencatat penjualan yang besar, belum tentu seluruh uang tersebut sudah masuk ke kas perusahaan.

Ada penjualan yang masih berupa piutang.

Ada barang yang masih berada di gudang.

Ada kewajiban yang harus dibayar dalam waktu dekat.

Karena itu, omzet besar belum tentu berarti perusahaan memiliki uang tunai yang cukup.

Inilah salah satu alasan mengapa melihat sebuah bisnis hanya dari seberapa terkenal produknya bisa menyesatkan.

Sritex Memberikan Pelajaran Penting

Kasus Sritex menunjukkan betapa rumitnya persoalan tersebut.

Sebelum dinyatakan pailit, Sritex sudah menghadapi tekanan keuangan yang cukup berat. Berdasarkan laporan yang dikutip Kompas, pada 2020 total utang Sritex mencapai sekitar Rp17,1 triliun, sementara asetnya sekitar Rp26,9 triliun. Perusahaan juga menghadapi kewajiban terhadap ribuan karyawan.

Masalah kemudian tidak berhenti pada besarnya utang.

Sritex juga menghadapi penurunan pendapatan akibat pandemi, persaingan industri tekstil global, gangguan rantai pasok, serta tekanan dari produk tekstil impor.

Artinya, perusahaan menghadapi dua persoalan sekaligus.

Di satu sisi, kewajiban keuangan harus tetap dibayar.

Di sisi lain, kondisi pasar tidak lagi sekuat sebelumnya.

Ketika pemasukan melemah sementara kewajiban tetap berjalan, ruang perusahaan untuk bertahan menjadi semakin sempit.

Pada akhirnya, perusahaan yang sebelumnya terlihat sangat besar pun bisa kehilangan kemampuan untuk memenuhi kewajibannya.

Utang Bisa Menjadi Pedang Bermata Dua

Utang sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk dalam bisnis.

Perusahaan bisa menggunakan utang untuk membeli mesin, membuka pabrik, menambah kapasitas produksi, atau melakukan ekspansi.

Masalahnya muncul ketika utang tumbuh lebih cepat daripada kemampuan perusahaan menghasilkan uang.

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki peluang bisnis besar.

Perusahaan kemudian meminjam uang untuk membuka pabrik baru.

Jika permintaan meningkat, keputusan tersebut mungkin menghasilkan keuntungan besar.

Tetapi bagaimana jika permintaan justru turun?

Pabrik tetap harus dirawat.

Bunga utang tetap harus dibayar.

Karyawan tetap membutuhkan gaji.

Kreditur tetap menunggu pembayaran.

Di sinilah ekspansi yang awalnya terlihat sebagai tanda pertumbuhan bisa berubah menjadi beban.

Dalam kasus Sritex, berbagai analisis mengenai kepailitannya menyoroti besarnya beban utang dan tekanan terhadap kemampuan perusahaan membayar kewajiban. Bahkan laporan DPR mengenai kasus tersebut menyoroti kombinasi utang, ekspansi, penurunan pasar tekstil global, dan tekanan produk impor sebagai faktor yang memperburuk kondisi perusahaan.

Jadi, pertumbuhan bisnis tidak selalu berarti kondisi keuangan semakin sehat.

Bisnis bisa tumbuh sekaligus semakin berisiko.

Penjualan Besar Tidak Menjamin Arus Kas Aman

Ada satu istilah yang sering terdengar dalam dunia bisnis: arus kas.

Sederhananya, arus kas menggambarkan uang yang benar-benar masuk dan keluar dari perusahaan.

Ini berbeda dengan laba.

Perusahaan bisa mencatat laba dalam laporan keuangan, tetapi pada saat yang sama mengalami kesulitan kas.

Bagaimana mungkin?

Misalnya sebuah perusahaan menjual barang senilai Rp10 miliar kepada pelanggan dengan pembayaran 90 hari.

Secara akuntansi, penjualan tersebut dapat dicatat sebagai pendapatan sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun perusahaan belum tentu menerima Rp10 miliar tersebut hari itu juga.

Sementara itu, perusahaan tetap harus membayar gaji, pemasok, listrik, cicilan, dan biaya operasional lainnya.

Kalau pembayaran dari pelanggan terlambat, perusahaan bisa mengalami tekanan kas.

Karena itu, salah satu pelajaran penting dari kasus perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan adalah:

jangan hanya bertanya berapa besar penjualannya, tetapi juga bagaimana kondisi kasnya.

Produk Terkenal Juga Bisa Kehilangan Pasar

Masalah lain adalah perubahan pasar.

Konsumen tidak pernah berjanji akan menggunakan produk yang sama selamanya.

Selera berubah.

Teknologi berubah.

Harga berubah.

Kompetitor muncul.

Cara orang berbelanja juga berubah.

Perusahaan yang pernah menjadi pemimpin pasar bisa tertinggal jika tidak mampu mengikuti perubahan tersebut.

Sritex sendiri menghadapi tekanan dari industri tekstil global. Perusahaan menyebut pandemi, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, dan perubahan prioritas konsumen di sejumlah pasar ekspor sebagai bagian dari tekanan yang dihadapi.

Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya harus mempertahankan produk.

Perusahaan juga harus mempertahankan relevansi.

Produk yang terkenal hari ini belum tentu menjadi pilihan utama lima atau sepuluh tahun kemudian.

Perusahaan Besar Bukan Berarti Kebal dari Kesalahan

Ada anggapan bahwa perusahaan besar memiliki sumber daya yang cukup untuk menghadapi masalah apa pun.

Justru ukuran perusahaan terkadang membuat persoalan menjadi lebih kompleks.

Semakin besar perusahaan, semakin besar pula biaya yang harus dikelola.

Semakin banyak pabrik, semakin besar kebutuhan investasi.

Semakin banyak karyawan, semakin besar kewajiban operasional.

Semakin luas pasar, semakin kompleks rantai pasoknya.

Jika keputusan strategis salah, dampaknya juga bisa jauh lebih besar.

Karena itu, perusahaan besar tetap membutuhkan manajemen risiko yang kuat.

Popularitas tidak menggantikan pengelolaan keuangan.

Merek terkenal tidak menggantikan inovasi.

Jumlah pelanggan tidak menggantikan arus kas.

Dan ukuran perusahaan tidak otomatis membuat sebuah bisnis sehat.

Kita Sering Melihat Bisnis dari Sisi yang Salah

Sebagai konsumen, kita biasanya melihat perusahaan dari hal yang paling mudah terlihat.

Produknya.

Tokonya.

Iklannya.

Jumlah pengikutnya.

Popularitas mereknya.

Padahal kondisi paling penting justru sering tidak terlihat.

Berapa utangnya?

Apakah perusahaan menghasilkan arus kas yang sehat?

Apakah biaya operasionalnya terkendali?

Apakah pelanggan masih bertumbuh?

Apakah perusahaan mampu membayar kewajibannya?

Apakah bisnisnya masih relevan dengan perubahan pasar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang terdengar lebih rumit dibanding sekadar melihat apakah sebuah produk terkenal.

Tetapi justru di situlah kesehatan sebuah bisnis sebenarnya diuji.

Kasus Sritex memperlihatkan bahwa perusahaan dengan sejarah panjang dan pasar internasional sekalipun dapat menghadapi masalah serius ketika tekanan utang, pasar, dan likuiditas bertemu dalam waktu yang bersamaan.

Pelajaran untuk Bisnis Kecil Juga

Menariknya, pelajaran dari perusahaan besar sebenarnya tidak hanya berlaku untuk perusahaan besar.

Pelaku UMKM juga bisa belajar dari persoalan yang sama.

Jangan terlalu cepat menambah utang hanya karena penjualan sedang bagus.

Jangan membuka cabang hanya karena satu lokasi ramai.

Jangan menganggap omzet sebagai keuntungan.

Dan jangan menggunakan seluruh keuntungan untuk ekspansi tanpa menyisakan dana untuk menghadapi masa sulit.

Bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang mampu tumbuh ketika keadaan sedang baik.

Bisnis yang sehat adalah bisnis yang memiliki cukup kemampuan untuk bertahan ketika keadaan berubah.

Jangan Tertipu oleh Besarnya Nama

Pada akhirnya, kebangkrutan perusahaan besar memberikan pelajaran yang cukup sederhana.

Nama besar bukan jaminan.

Produk terkenal bukan jaminan.

Pelanggan banyak bukan jaminan.

Bahkan penjualan besar pun bukan jaminan.

Yang membuat perusahaan bertahan adalah kemampuan mengelola seluruh bagian bisnis secara seimbang: keuangan, utang, arus kas, operasional, sumber daya manusia, inovasi, dan kemampuan membaca perubahan pasar.

Sebab dunia bisnis tidak pernah memberikan jaminan bahwa perusahaan yang besar akan selalu menjadi besar.

Hari ini bisa menjadi pemimpin pasar.

Besok bisa menghadapi tekanan.

Dan jika masalah dibiarkan terlalu lama, perusahaan yang terlihat kuat dari luar bisa ternyata sedang berjuang keras untuk bertahan dari dalam.

Mungkin karena itu, ketika kita melihat sebuah perusahaan terkenal, pertanyaannya tidak seharusnya hanya:

“Seberapa besar bisnisnya?”

Tetapi juga:

“Seberapa sehat bisnisnya?”

Karena dalam dunia bisnis, besar belum tentu kuat, terkenal belum tentu sehat, dan ramai belum tentu menguntungkan.