Konten dari Pengguna

Menulis sebagai Jalan Pengembangan Kompetensi Guru

Yudhi Kurnia

Yudhi Kurnia

Guru Informatika, STEM, Penulis

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yudhi Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guru Asyik Menulis, Sumber : Image ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Guru Asyik Menulis, Sumber : Image ChatGPT

Menjadi seorang guru bukan hanya soal mengajar di kelas, menyampaikan materi, lalu menutup pertemuan dengan doa. Guru adalah sosok pembelajar yang terus berkembang. Harapan seorang guru tentu sederhana tetapi mendalam: kegiatan pembelajaran berjalan lancar, murid mampu memahami dengan baik, dan dirinya sendiri tidak berhenti belajar. Kompetensi guru tidak boleh stagnan; ia harus tumbuh, baik melalui pelatihan formal maupun aktivitas nonlinier yang memperkaya pengalaman dan memperluas wawasan.

Salah satu aktivitas yang dapat menjadi sarana pengembangan diri guru adalah menulis. Aktivitas ini sering dipandang sepele, bahkan dianggap sebagai beban tambahan di tengah kesibukan sekolah. Namun, sejatinya menulis dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi perjalanan profesional seorang pendidik. Guru yang juga penulis memiliki kepekaan lebih tinggi terhadap lingkungan, peka pada detail kehidupan sehari-hari, dan mampu merefleksikan pengalaman dalam bentuk kata-kata.

Fenomena yang ditemui di kelas, dinamika di lingkungan sekolah, hingga isu pendidikan yang ramai diperbincangkan di media sosial dapat menjadi sumber ide segar untuk ditulis. Melalui tulisan, seorang guru bisa mengolah pengalaman menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain. Tulisan itu dapat berupa artikel ilmiah, opini di media massa, catatan refleksi, bahkan kisah inspiratif yang mampu menggugah pembaca.

Namun, jalan menuju kebiasaan menulis bagi guru memang tidak selalu mulus. Padatnya tugas mengajar, administrasi sekolah, hingga kegiatan ekstrakurikuler membuat guru kerap kehabisan waktu dan energi. Menulis pun akhirnya ditunda, atau hanya menjadi keinginan yang tak pernah diwujudkan.

Meski demikian, ada beberapa tips sederhana agar aktivitas menulis tidak menjadi beban, melainkan bagian dari keseharian seorang guru:

Pertama, belajar terus.

Guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Dengan terus memperbarui pengetahuan, guru memiliki bahan segar untuk ditulis. Setiap materi baru, pengalaman pelatihan, atau diskusi dengan rekan sejawat dapat menjadi inspirasi tulisan.

Kedua, banyak membaca.

Membaca adalah pintu masuk menuju tulisan yang kaya. Dengan membaca buku, artikel, jurnal, maupun berita, guru mendapatkan beragam perspektif. Semakin banyak bahan bacaan, semakin kaya pula sudut pandang yang bisa dituangkan dalam tulisan.

Ketiga, peka terhadap fenomena.

Kepekaan sosial sangat penting. Guru bisa menulis dari hal-hal kecil yang terjadi di kelas: respon murid terhadap sebuah metode pembelajaran, dinamika ketika bekerja kelompok, hingga keresahan siswa menghadapi ujian. Bahkan fenomena di masyarakat, seperti tren media sosial atau isu pendidikan nasional, bisa menjadi bahan tulisan reflektif.

Keempat, gunakan alat bantu menulis.

Tidak jarang ide muncul di waktu yang tidak terduga. Dengan memanfaatkan aplikasi catatan di ponsel atau sekadar selembar kertas kecil di saku, ide-ide itu bisa segera ditangkap sebelum terlupakan. Menulis bukan harus dimulai dari tulisan panjang; catatan singkat yang dikumpulkan bisa menjadi bahan artikel di kemudian hari.

Kelima, menulis setiap hari.

Kebiasaan menulis harus dibangun setiap hari. Tuliskan ide, gagasan ataupun hanya sekadar ungkapan dalam beberapa kata setiap harinya. Media sosial sudah sangat dekat dengan dunia guru, jadikanlah media tersebut sebagai medan untuk membiasakan diri dalam menulis. Sertakan setiap gambar yang Anda bagikan di media sosial dengan sedikit catatan. Hal ini akan menjadi kebiasaan baik. Ingatlah bahwa gambar tanpa keterangan adalah “hoax”.

Dengan menerapkan tips tersebut, menulis akan terasa lebih ringan. Guru tidak harus menunggu waktu luang yang panjang; cukup beberapa menit setiap hari untuk menuliskan ide yang muncul.

Lebih jauh, menulis bagi guru bukan sekadar aktivitas pribadi, melainkan kontribusi nyata untuk pendidikan. Tulisan guru bisa menjadi inspirasi bagi rekan sejawat, motivasi bagi murid, sekaligus suara kritis bagi pembuat kebijakan. Ketika guru berani menulis di media massa, ia ikut serta membangun wacana pendidikan nasional. Pandangan guru dari kelas yang nyata sangat berharga dibandingkan analisis yang hanya berbasis data statistik.

Selain itu, menulis juga memperkuat identitas profesional guru. Dalam era Kurikulum Merdeka, guru dituntut untuk kreatif, reflektif, dan mampu mengintegrasikan pengalaman dengan pengetahuan. Menulis adalah sarana refleksi yang efektif. Dari tulisan, guru belajar menyusun argumen, menata pikiran, sekaligus merekam perjalanan pengajarannya.

Maka, sudah saatnya guru memandang menulis bukan sebagai beban, melainkan kebutuhan. Tidak perlu menunggu menjadi ahli, cukup mulai dari hal sederhana. Tulisan pertama mungkin terasa kaku, tetapi seiring waktu akan lebih mengalir.

Bagi guru, menulis adalah bentuk belajar sepanjang hayat. Menulis adalah cara untuk mengasah kepekaan, melatih keterampilan berpikir kritis, serta memperkuat kontribusi pada dunia pendidikan. Seperti kata pepatah, “Apa yang ditulis akan abadi, sementara ucapan sering kali menguap.”

Ketika guru menulis, ia tidak hanya membangun dirinya sendiri, tetapi juga menorehkan jejak pengetahuan bagi generasi yang akan datang.***