Potongan Video, Literasi Digital, dan Tuntutan Berpikir Jernih

Guru Informatika, STEM, Penulis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yudhi Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Betapa berbahayanya sebuah potongan video yang viral di media sosial. Video singkat yang dipotong dari peristiwa utuh seakan menjadi senjata yang bisa menyerang siapa pun. Sering kali, potongan itu tidak mewakili keseluruhan cerita, bahkan bisa menimbulkan kesalahpahaman besar. Apa pun yang berupa cuplikan singkat pasti hampir lepas dari konteks, sehingga bisa mengaburkan fakta. Di sinilah pentingnya literasi digital: kemampuan untuk membaca, menganalisis, dan memverifikasi informasi sebelum memercayai atau menyebarkannya.
Fenomena viral ini sesungguhnya bukanlah hal baru. Dari dulu, berita yang sensasional selalu lebih cepat menyebar dibanding berita yang mendalam. Namun, perbedaannya kini adalah kecepatan dan jangkauan. Satu potongan video bisa tersebar ke ribuan orang dalam hitungan menit, menembus batas ruang dan waktu. Dalam situasi seperti ini, masyarakat dituntut untuk lebih waspada, lebih sabar, dan lebih kritis. Kita tidak bisa lagi bergantung hanya pada satu sumber. Perlu upaya cek silang, membaca ulang, dan mencari penjelasan dari berbagai sudut pandang.
Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) kian memperpanjang daftar hal yang harus diperiksa sebelum memercayai sesuatu. AI memungkinkan manipulasi konten secara lebih canggih. Video bisa dipotong, gambar bisa dimanipulasi, bahkan suara bisa dipalsukan dengan begitu meyakinkan. Fenomena deepfake menjadi bukti betapa mudahnya realitas dipalsukan. Apa yang tampak asli belum tentu benar-benar nyata. Tanpa literasi digital, masyarakat bisa dengan mudah terjebak dalam jebakan visual yang menipu.
Maka dari itu, langkah sederhana seperti “berhenti sejenak” menjadi sangat penting. Jangan mudah percaya, jangan terburu-buru bereaksi, dan jangan cepat menyebarkan. Latih diri untuk berhenti sejenak, bernapas, berpikir jernih sebelum jari melanjutkan scrolling. Sikap ini bukan sekadar etika bermedia, melainkan bagian dari pertahanan diri di tengah banjir informasi.
Masalah lain yang muncul adalah daya tangkap orang terhadap informasi yang semakin pendek. Dalam budaya digital yang serba cepat, konsentrasi orang terhadap satu hal menurun drastis. Generasi sekarang terbiasa dengan konten berdurasi 15 detik dengan judul yang provokatif dan dengan narasi singkat penuh emosi. Akibatnya, kemampuan untuk membaca secara mendalam, menganalisis, dan memahami konteks semakin menipis. Inilah yang disebut oleh banyak pakar sebagai krisis konsentrasi. Makin banyak informasi yang dikonsumsi, makin sedikit perhatian yang benar-benar bisa diberikan.
Buah dari kondisi ini adalah munculnya reaksi-reaksi spontan yang sering kali keliru. Potongan video bisa membuat orang marah, tersulut emosi, bahkan melakukan tindakan nyata tanpa sempat memastikan kebenarannya. Padahal, sering kali setelah fakta utuh muncul, perasaan menyesal datang terlambat. Dalam titik inilah, budaya be calm menjadi penting. Kita perlu melatih diri untuk tidak terseret arus emosi yang dibangun oleh media sosial.
Kearifan lokal sebenarnya sudah lama mengajarkan hal ini. Paribasa Sunda mengatakan: di beuweung diutahkeun, yang kurang lebih berarti apa yang sudah ditelan harus dipikirkan kembali dengan matang sebelum diucapkan atau disebarkan. Prinsip ini sangat relevan dalam konteks literasi digital. Informasi yang kita terima ibarat makanan yang masuk ke mulut. Tidak semua harus langsung ditelan mentah-mentah. Ada yang perlu dikunyah, ada yang perlu dipilah, bahkan ada yang sebaiknya dibuang karena beracun.
Dengan demikian, menghadapi derasnya arus informasi, masyarakat perlu kembali kepada kebiasaan berpikir kritis, sabar, dan penuh pertimbangan. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai atau aplikasi, tetapi kemampuan untuk membaca tanda-tanda, menganalisis isi, menimbang konsekuensi, dan menyaring mana yang pantas diterima. Tanpa literasi ini, kita akan menjadi korban dari potongan video, berita palsu, dan manipulasi digital.
Media sosial memang tidak bisa dihindari. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, justru karena itu, kita perlu hadir dengan sikap yang lebih bijak. Jangan jadikan diri sebagai corong penyebar kabar yang tak jelas kebenarannya. Jangan pula menjadi korban yang mudah dipermainkan oleh potongan narasi. Mari belajar untuk lebih tenang, lebih sabar, dan lebih berhati-hati.
Akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya pada teknologi, melainkan pada manusia itu sendiri. Bagaimana kita mengelola emosi, bagaimana kita menahan diri, dan bagaimana kita menjaga kewarasan dalam menghadapi banjir informasi. Pada akhirnya, literasi digital bukan hanya keterampilan, melainkan juga karakter. Dengan bekal itu, kita bisa tetap jernih, tetap tenang, dan tetap manusiawi di tengah arus deras dunia digital.
