Telinga Pertama dari Lidah Petani: Masalah Besar Tidak Pernah Datang Tanpa Tanda

PNS Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) atau lebih gampang disebut "Dokter Tanaman"
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Bunga Purnamasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat menulis ini, saya sedang menuju sebuah danau, di kiri dan kanan ilalang tumbuh lebih tinggi dari tubuh saya. Ditemani Ketua Kelompok Tani, Bapak H. Abdul Masturi, saya menyusuri jalan setapak menuju lokasi. Jujur, saya tidak berani berjalan sendirian ke sana karena khawatir ada binatang buas di balik ilalang. Namun rasa penasaran membuat saya tetap melangkah. Saya ingin melihat langsung danau yang selama ini hanya saya dengar lewat cerita.
Setelah sampai di lokasi yang dituju, saya terkejut. Di hadapan saya terbentang sebuah danau dengan air yang melimpah. Tak jauh dari danau dengan air yang begitu banyak, sawah-sawah di sekitarnya justru kehausan. Pemandangan yang sangat kontras untuk dilihat.
Kontras tersebut kemudian mengusik pikiran saya. Saya mulai teringat bahwa persoalan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru muncul hari ini. Kebutuhan sudah disampaikan, tetapi langkah untuk mewujudkannya belum secepat yang diharapkan.
Danau itu sebenarnya bukan satu-satunya sumber air di sekitar persawahan. Tidak jauh dari sana terdapat sebuah bendungan yang selama ini menjadi tumpuan pengairan sawah. Namun, di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan, ketinggian air di dalam bendungan tidak lagi cukup untuk mengalirkan air hingga ke area persawahan.
Di antara danau dan bendungan itu sebenarnya ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Keduanya hanya berjarak sekitar 500 meter, salah satu upaya yang kemudian kami dorong adalah membuat saluran penghubung agar ketersediaan air di danau dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pengairan persawahan.
Sebagai telinga pertama yang mendengar keluh kesah petani sekaligus menjadi penyambung lidah antara petani dan instansi, seringkali saya harus berhadapan dengan sistem yang tidak selalu dapat bergerak sesuai kebutuhan di lapangan.
Saya tahu, informasi dari lapangan juga memiliki batas waktu. Tidak semua hal dapat menunggu, salah satunya tanaman padi petani yang sudah mulai mengering akibat kehausan.
Pada upaya mencapai swasembada pangan, menjaga tanaman yang sudah ditanam agar tetap tumbuh dan menghasilkan juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Sebab, swasembada pangan bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil ditanam, tetapi juga tentang bagaimana menjaga potensi hasil tersebut agar tidak hilang sebelum masa panen tiba.
Di tengah musim kering yang berkepanjangan, setiap sumber air menjadi sangat berharga. Andai kita lebih tanggap, danau yang sekarang di hadapan saya seharusnya menjadi solusi tanpa harus petani merasakan kerugian akibat kekeringan terlebih dahulu.
Keluhan sederhana dari masyarakat, permintaan yang disampaikan berulang kali dan informasi dari orang-orang yang paling dekat dengan persoalan. Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil, namun jika dikumpulkan dan diperhatikan dengan serius, di dalamnya terdapat tanda bahwa sesuatu sedang membutuhkan perhatian.
Masalah besar sering kali tidak datang secara tiba-tiba. Biasanya diawali oleh tanda-tanda yang sebenarnya sudah bisa kita lihat. Persoalannya bukan selalu karena kita tidak mengetahui tanda tersebut, melainkan karena tidak semua tanda segera diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Pengalaman ini juga mengingatkan saya bahwa menjadi ASN di lapangan tidak selalu berarti memiliki kewenangan untuk menyelesaikan setiap persoalan secara langsung. Ada batas kewenangan, ada regulasi yang harus dilalui dan ada instansi lain yang perlu dilibatkan. Namun, keterbatasan tersebut bukan alasan untuk berhenti mendengar. Justru dari sinilah peran seorang ASN diuji. Bagaimana memastikan informasi yang kita terima perlu dijaga agar tetap bergerak menuju pihak yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjutinya.
Apa yang saya lihat hari ini mungkin hanya satu kisah di satu tempat. Namun, semangat untuk bertindak sebelum masalah membesar adalah nilai yang relevan bagi setiap ASN di mana pun mereka mengabdi.
ASN bidang kesehatan dapat mencegah penyakit sebelum berkembang menjadi wabah, ASN bidang pendidikan dapat mendeteksi risiko anak putus sekolah sebelum mereka benar-benar meninggalkan bangku sekolah, ASN bidang kebencanaan dapat memetakan risiko sebelum bencana terjadi, begitu pula ASN bidang pertanian yang dapat membaca ancaman serangan hama dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) sebelum kehilangan hasil panen terjadi.
Bagi saya, pengabdian bukan tentang seberapa besar jabatan atau seberapa luas kewenangan yang dimiliki. Pengabdian adalah tentang tetap bagaimana kita memberikan manfaat dari posisi yang kita miliki. Tidak semua persoalan dapat kita selesaikan sendiri, tetapi selalu ada sesuatu yang bisa kita lakukan agar persoalan tersebut tidak berhenti begitu saja.
Pada akhirnya, menjadi ASN bukan hanya tentang hadir ketika masalah sudah membesar dan membutuhkan penanganan. Ada tanggung jawab untuk mendengar, membaca tanda dan memastikan informasi yang datang dari masyarakat tidak berhenti hanya sebagai laporan. Karena sering kali, sebelum sebuah masalah menjadi besar, ia sudah lebih dulu mengetuk lewat tanda-tanda kecil.
Dan mungkin, di situlah arti menjadi "Telinga Pertama," bukan sekadar mendengar suara yang datang, tetapi memastikan suara itu tidak terlambat untuk didengar.
