Konten dari Pengguna

Hijau yang Kian Hilang: Siapa Bertanggung Jawab?

Sorta Uli Gultom

Sorta Uli Gultom

Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sorta Uli Gultom tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kontras antara alam hijau yang lestari dan kerusakan akibat industri, menyoroti pertanyaan besar tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Gambar ini dihasilkan dari Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kontras antara alam hijau yang lestari dan kerusakan akibat industri, menyoroti pertanyaan besar tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Gambar ini dihasilkan dari Gemini AI.

Hijau pernah menjadi warna yang identik dengan kehidupan. Ia hadir di pepohonan yang rindang, sawah yang subur, dan hutan yang menjadi paru-paru dunia. Namun hari ini, hijau itu kian memudar. Kita tidak lagi hanya melihatnya berkurang, tetapi benar-benar menyaksikan bagaimana alam perlahan kehilangan daya hidupnya. Banjir datang lebih sering, suhu udara semakin panas, dan kualitas lingkungan terus menurun. Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya hijau ini?

Realitas menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia bukan sekadar isu, melainkan krisis nyata. Data terbaru menunjukkan bahwa deforestasi Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar 175 ribu hektare. Angka ini bahkan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 121 ribu hektare . Artinya, dalam satu tahun saja, ratusan ribu hektare hutan hilang-

setara dengan luas puluhan ribu lapangan sepak bola. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian besar deforestasi terjadi di kawasan hutan yang seharusnya dilindungi.

Di Pulau Sumatera, termasuk wilayah yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, situasinya tidak kalah memprihatinkan. Pada tahun 2024, deforestasi di Sumatera mencapai lebih dari 78 ribu hektare, atau sekitar 44 persen dari total deforestasi nasional . Provinsi seperti Riau, Aceh, Jambi, hingga Sumatera Utara menjadi wilayah dengan tingkat kehilangan hutan yang tinggi. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi gambaran nyata bahwa lingkungan di sekitar kita sedang mengalami tekanan besar.

Lalu, apa penyebabnya? Jawabannya tidak tunggal. Deforestasi terjadi karena berbagai faktor yang saling berkaitan: pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, aktivitas pertambangan, pembangunan infrastruktur, hingga kebakaran hutan. Bahkan, proyek-proyek besar yang bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi turut menyumbang hilangnya kawasan hijau. Di satu sisi, pembangunan memang penting. Namun di sisi lain, pembangunan tanpa kendali justru menjadi ancaman bagi keberlanjutan lingkungan.

Di sinilah letak persoalan utamanya. Kita sering kali terjebak dalam pola pikir bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan adalah dua hal yang saling bertentangan. Padahal, keduanya seharusnya berjalan beriringan. Ketika hutan ditebang tanpa perencanaan yang matang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga oleh manusia. Banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga krisis air bersih adalah konsekuensi nyata dari hilangnya fungsi ekologis hutan.

Namun, menyalahkan satu pihak saja tidak cukup. Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar dalam membuat dan menegakkan kebijakan lingkungan. Ketika izin pembukaan lahan diberikan tanpa pengawasan ketat, maka kerusakan menjadi sulit dikendalikan. Regulasi yang lemah atau tidak konsisten akan membuka ruang bagi eksploitasi yang berlebihan.

Di sisi lain, korporasi juga memegang peran penting. Banyak perusahaan yang masih menjadikan alam sebagai objek eksploitasi demi keuntungan jangka pendek. Praktik pembalakan liar, pembukaan lahan secara besar-besaran, dan minimnya komitmen terhadap rehabilitasi lingkungan menjadi masalah yang terus berulang. Padahal, keberlanjutan bisnis seharusnya tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan.

Namun, yang sering luput dari perhatian adalah peran kita sebagai masyarakat. Kita mungkin tidak menebang hutan secara langsung, tetapi gaya hidup kita turut berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Konsumsi produk berbasis sumber daya alam yang berlebihan, penggunaan plastik sekali pakai, hingga kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar adalah bagian dari masalah yang lebih besar.

Sebagai contoh sederhana, banyak dari kita masih membuang sampah sembarangan atau tidak memilah sampah. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa limbah plastik yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari lingkungan dan bahkan masuk ke ekosistem perairan. Ini menunjukkan bahwa masalah lingkungan bukan hanya persoalan besar di tingkat nasional, tetapi juga berakar dari kebiasaan kecil sehari-hari.

Bagi orang tua, isu ini menjadi semakin penting karena menyangkut masa depan anak-anak. Anak-anak hari ini akan tumbuh di dunia yang kualitas lingkungannya sangat bergantung pada keputusan yang kita ambil sekarang. Jika kita terus abai, maka generasi mendatang akan mewarisi lingkungan yang rusak, bukan yang lestari. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan sejak dini menjadi kunci penting. Anak-anak perlu diajarkan untuk mencintai alam, memahami pentingnya menjaga lingkungan, dan membangun kebiasaan hidup yang ramah lingkungan.

Sementara itu, bagi anak-anak dan generasi muda, kesadaran lingkungan harus menjadi bagian dari identitas. Mereka tidak hanya menjadi korban dari kerusakan lingkungan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Gerakan kecil seperti menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik, atau menghemat energi dapat memberikan dampak yang signifikan jika dilakukan secara kolektif.

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang bertanggung jawab?” tidak memiliki satu jawaban tunggal. Pemerintah, korporasi, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana setiap pihak menyadari tanggung jawabnya dan mulai bertindak.

Kita tidak bisa lagi menunggu. Data deforestasi yang terus meningkat adalah peringatan bahwa waktu kita semakin terbatas. Jika tidak ada perubahan nyata, maka hijau yang tersisa akan terus berkurang hingga akhirnya hilang. Dan ketika itu terjadi, yang hilang bukan hanya pohon atau hutan, tetapi juga kualitas hidup manusia itu sendiri.

Karena itu, langkah ke depan harus jelas. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang berpihak pada lingkungan dan memastikan penegakan hukum yang tegas. Korporasi harus beralih ke praktik bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Sementara masyarakat harus mulai dari hal sederhana: mengubah pola hidup menjadi lebih peduli lingkungan.

Menjaga alam bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Hijau yang kian hilang adalah peringatan keras bagi kita semua. Jika kita masih ingin melihat bumi yang layak dihuni oleh anak dan cucu kita, maka saatnya berhenti saling menyalahkan dan mulai mengambil peran. Karena pada akhirnya, tanggung jawab terbesar ada pada kita bersama.