Ketakutan yang Menular dari Beranda

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Deny Febrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak pernah sebelumnya manusia begitu mudah merasa takut oleh pengalaman orang lain. Di media sosial, cerita tentang perceraian, kebangkrutan, penyakit, atau kegagalan karir muncul setiap hari dan perlahan diterima sebagai gambaran umum kehidupan. Beranda digital tidak lagi sekadar menyebarkan informasi. Ia juga memproduksi ketakutan.
Fenomena tersebut tidak muncul karena masyarakat kekurangan informasi. Sebaliknya, masyarakat justru dibanjiri informasi. Persoalannya terletak pada semakin kaburnya batas antara pengalaman pribadi, opini, dan fakta.
Salah satu contoh yang menarik dapat dilihat dari meningkatnya perhatian terhadap orthorexia nervosa, yaitu obsesi berlebihan terhadap pola makan yang dianggap sehat. Seseorang yang mengalami kondisi ini tidak lagi sekadar menjaga asupan makanan, tetapi mulai membangun aturan yang sangat kaku mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Makanan tertentu dianggap bersih dan aman, sementara makanan lain dipandang sebagai ancaman bagi kesehatan.
Pada 2026, jurnal PLOS One menerbitkan sebuah tinjauan sistematis terhadap 31 penelitian yang dilakukan di berbagai negara sepanjang 2017–2024. Hasilnya menunjukkan hubungan yang konsisten antara penggunaan media sosial dan meningkatnya kecenderungan orthorexia. Risiko tersebut lebih tinggi pada pengguna yang sering terpapar konten diet, kebugaran, transformasi tubuh, serta konten kesehatan yang beredar di platform berbasis visual seperti Instagram dan TikTok.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menyebarkan informasi mengenai kesehatan. Media sosial juga membentuk cara orang memandang tubuh, makanan, dan risiko. Ketika seseorang terus-menerus melihat konten yang mengaitkan satu jenis makanan dengan penyakit tertentu, muncul kesan bahwa hubungan tersebut bersifat mutlak, meskipun kenyataannya ilmu kesehatan hampir selalu berbicara dalam konteks probabilitas dan faktor risiko.
Yang menarik, persoalan serupa tidak hanya terjadi pada isu kesehatan. Di media sosial, kegagalan rumah tangga yang direkam dalam video singkat dapat membuat sebagian orang memandang pernikahan sebagai sumber penderitaan. Kisah kebangkrutan seorang pelaku usaha dapat memunculkan keyakinan bahwa berwirausaha terlalu berbahaya. Cerita tentang pemutusan hubungan kerja dapat melahirkan kecemasan bahwa tidak ada pekerjaan yang benar-benar aman. Beranda media sosial perlahan berubah menjadi ruang produksi ketakutan.
Persoalan muncul ketika pengalaman individual diterima sebagai kebenaran umum. Dalam tradisi ilmu pengetahuan, satu pengalaman tidak pernah cukup untuk menghasilkan kesimpulan yang berlaku luas. Peneliti membutuhkan data yang memadai, metode yang dapat diuji, serta temuan yang dapat diverifikasi. Sebaliknya, media sosial sering kali bekerja dengan logika yang berbeda. Pengalaman yang paling emosional, paling mengejutkan, atau paling menakutkan justru memperoleh perhatian terbesar.
Logika tersebut diperkuat oleh algoritma. Platform digital tidak dirancang untuk mengukur akurasi informasi. Algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Konten yang memicu keterkejutan, kemarahan, kecemasan, atau rasa takut sering memperoleh jangkauan yang lebih luas dibandingkan penjelasan yang hati-hati dan berbasis bukti.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja terus meningkat di banyak negara. Laporan tersebut juga menyoroti kaitannya dengan berbagai persoalan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis. Di saat yang sama, remaja dan dewasa muda menjadi kelompok yang paling intens terpapar arus informasi digital setiap hari.
Situasi ini semakin kompleks karena perubahan cara masyarakat menentukan siapa yang layak dipercaya. Di ruang digital, kredibilitas sering kali tidak lagi ditentukan oleh kompetensi, melainkan oleh visibilitas. Seseorang dapat memiliki jutaan pengikut dan dianggap sebagai rujukan dalam bidang kesehatan, psikologi, keuangan, atau pendidikan tanpa memiliki latar belakang keilmuan yang relevan.
Tentu tidak semua influencer menyebarkan informasi yang keliru. Banyak pula yang menghadirkan edukasi berkualitas. Namun status sebagai influencer pada dasarnya menunjukkan kemampuan membangun audiens, bukan bukti kompetensi profesional. Sayangnya, kedua hal tersebut sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang sama.
Kondisi ini mudah ditemukan di Indonesia. Konten kesehatan, investasi, pengembangan diri, hubungan romantis, dan pengasuhan anak menjadi salah satu kategori yang paling banyak dikonsumsi publik. Dalam ruang yang sangat kompetitif tersebut, penyederhanaan persoalan sering menjadi strategi untuk menarik perhatian. Isu yang kompleks diringkas menjadi beberapa kalimat yang mudah diingat. Nuansa ilmiah yang seharusnya menyertai sebuah penjelasan sering kali hilang.
Akibatnya, publik semakin sering mengambil keputusan berdasarkan cerita yang viral dibandingkan pengetahuan yang teruji. Pengalaman seseorang dianggap mewakili pengalaman semua orang. Pendapat pribadi diterima sebagai fakta. Viralitas perlahan menggantikan validitas.
Di sinilah tantangan terbesar masyarakat digital saat ini. Kita tidak sedang menghadapi krisis informasi, melainkan krisis penilaian terhadap informasi. Kemampuan paling penting bukan lagi sekadar mengakses pengetahuan, tetapi membedakan mana pengalaman, mana opini, dan mana temuan yang benar-benar didukung oleh bukti.
Tanpa kemampuan tersebut, media sosial akan terus menghasilkan siklus ketakutan yang baru. Bukan karena dunia menjadi lebih berbahaya, melainkan karena pengalaman segelintir orang terus-menerus tampil di layar kita dan perlahan dianggap sebagai kenyataan yang berlaku bagi semua orang.
