Kolesterol Tinggi di Usia Muda: Gaya Hidup Jadi Penyebab Utama?

Saya seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Ilmu keperawatan Saya juga mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa didepartem Pengembangan Organisasi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Aida Putri Dewanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kolesterol merupakan zat lemak yang secara alami diproduksi oleh organ hati (liver) dan memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh. Zat ini dibutuhkan untuk pembentukan hormon reproduksi seperti testosteron dan estrogen, serta membantu proses penyerapan vitamin yang larut dalam lemak, yaitu vitamin A, D, E, dan K. Meskipun memiliki fungsi yang vital, kadar kolesterol yang tidak seimbang dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama jika terjadi sejak usia muda.
Secara umum, kolesterol dalam tubuh dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu kolesterol baik (HDL) dan kolesterol jahat (LDL).
Kolesterol baik atau High Density Lipoprotein (HDL) berperan penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah. HDL bekerja dengan cara mengangkut kelebihan kolesterol dari berbagai jaringan tubuh, termasuk dinding pembuluh darah, kemudian membawanya kembali ke hati untuk diproses dan dibuang. Oleh karena itu, kadar HDL yang tinggi dalam tubuh sangat dianjurkan karena dapat membantu menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stroke.
Sebaliknya, kolesterol jahat atau Low Density Lipoprotein (LDL) memiliki fungsi mengantarkan kolesterol dari hati ke seluruh bagian tubuh. Namun, apabila kadar LDL dalam darah terlalu tinggi, kolesterol dapat menumpuk pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Penumpukan ini dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), yang pada akhirnya meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, terutama gangguan jantung dan pembuluh darah.
Berdasarkan kadar kolesterol total dalam darah, kondisi ini dapat dikategorikan menjadi beberapa tingkat, yaitu normal jika kurang dari 200 mg/dL, batas tinggi jika berada pada kisaran 200–239 mg/dL, dan tergolong tinggi apabila melebihi 240 mg/dL.
Upaya pengendalian kolesterol dapat dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti mengatur pola makan dengan menu seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik atau olahraga, menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol, serta mampu mengelola stres dengan baik. Langkah-langkah ini sangat penting, terutama bagi penderita hiperkolesterolemia, untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Saat ini, kasus hiperkolesterolemia pada remaja semakin meningkat. Sayangnya, masih banyak remaja yang belum menyadari pentingnya perubahan gaya hidup sebagai upaya pengendalian kondisi tersebut. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik, kolesterol tinggi dapat memicu berbagai komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, hingga peningkatan kadar trigliserida dalam darah.
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa proporsi masyarakat Indonesia dengan kadar kolesterol di atas normal lebih tinggi pada perempuan (39,6%) dibandingkan laki-laki (30,0%). Selain itu, prevalensi juga lebih banyak ditemukan pada masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dibandingkan pedesaan.
Penyebab Kolesterol Tinggi di Usia Muda
Beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kolesterol tinggi pada usia muda antara lain:
• Pola makan tidak sehat
Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, seperti gorengan, makanan cepat saji (fast food), serta makanan olahan, dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah.
• Kurangnya aktivitas fisik
Gaya hidup sedentari atau kurang bergerak menyebabkan pembakaran lemak dalam tubuh tidak optimal, sehingga kolesterol lebih mudah menumpuk.
• Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol
Merokok dapat menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) serta merusak pembuluh darah, sedangkan konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan kadar lemak dalam darah.
• Obesitas atau kelebihan berat badan
Berat badan yang berlebih berhubungan dengan peningkatan kadar LDL dan penurunan HDL, sehingga memperbesar risiko gangguan kesehatan.
• Faktor genetik (keturunan)
Riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama, bahkan sejak usia muda.
Gejala Kolesterol Tinggi di Usia Muda
Kolesterol tinggi sering disebut sebagai silent disease karena pada tahap awal biasanya tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:
• Mudah lelah dan pegal-pegal
Tubuh terasa cepat lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
• Nyeri dada
Terjadi terutama jika sudah ada penyempitan pembuluh darah yang mengganggu aliran darah ke jantung.
• Kesemutan atau kebas
Biasanya dirasakan pada tangan dan kaki akibat aliran darah yang kurang lancar.
• Muncul xanthelasma
Ditandai dengan benjolan kecil berwarna kekuningan di sekitar mata akibat penumpukan lemak.
• Pusing atau sakit kepala
Dapat terjadi karena gangguan sirkulasi darah.
Gejala muncul saat komplikasi Umumnya keluhan baru dirasakan ketika sudah terjadi komplikasi serius, seperti penyakit jantung atau stroke.
Pencegahan Kolesterol Tinggi di Usia Muda
Upaya mencegah kolesterol tinggi sebaiknya dilakukan sejak dini dengan menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Menerapkan pola makan seimbang
2. Melakukan aktivitas fisik secara rutin.
3. Menjaga berat badan tetap ideal.
4. Menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.
5. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Apa Saja Pengobatan Kolesterol ?
Pengobatan Kolesterol didominasi oleh penggunaan obat golongan statin. Beberapa poin penting terkait terapi yang digunakan antara lain:
• Golongan statin sebagai terapi utama
Obat statin merupakan pilihan utama dalam pengobatan hiperlipidemia karena terbukti efektif dalam menurunkan kadar kolesterol LDL serta mengurangi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.
• Simvastatin paling banyak digunakan
Simvastatin menjadi obat yang paling sering diresepkan dibandingkan jenis statin lainnya, seperti atorvastatin.
• Faktor biaya memengaruhi pemilihan obat
Penggunaan simvastatin lebih dominan karena harganya relatif lebih terjangkau dan sesuai dengan ketentuan pembiayaan melalui program BPJS, yang banyak digunakan oleh pasien rawat jalan.
• Perbedaan karakteristik farmakologis obat
Simvastatin memiliki waktu paruh (t½) yang lebih pendek dibandingkan dengan atorvastatin dan rosuvastatin, sehingga umumnya dianjurkan untuk dikonsumsi pada malam hari agar lebih efektif.
• Penggunaan obat golongan lain
Selain statin, terdapat juga penggunaan obat golongan asam fibrat seperti fenofibrat dan gemfibrozil, meskipun jumlah penggunaannya lebih sedikit.
Kolesterol memang dibutuhkan oleh tubuh, tetapi kadarnya harus tetap terjaga agar tidak menimbulkan masalah kesehatan. Pada usia muda, kolesterol tinggi sering tidak disadari, sehingga penting untuk mulai menerapkan gaya hidup sehat sejak dini.
Dengan meningkatnya kesadaran, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda, diharapkan risiko terjadinya komplikasi akibat kolesterol tinggi dapat diminimalkan. Menjaga kesehatan sejak dini bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang demi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.
Daftar Pustaka
Arief, R. Q., Prasetyaning, L. W., & Jamila Arief, M. (2023). Risiko tinggi dislipidemia pada remaja obesitas: Menggali faktor dan implikasinya terhadap kesehatan kardiovaskular. Al GIZZAI: Public Health Nutrition Journal, 3(2), 77–89.
https://journal.uinalauddin.ac.id/index.php/algizzai/article/view/38932/17807
Paulina, A., Perangin Angin, M., & Hidayaturahmah, R. (2023). Evaluasi penggunaan obat kolesterol pada pasien hiperlipidemia di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Mutiara Bunda. Jurnal Farmasi Malahayati, 6(1), 63–75.
https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/farmasi/article/download/8199/pdf
Putra, B. P. (2025). Mengungkap fakta di balik mitos kolesterol: Apa yang perlu kita ketahui? Rumah Sakit Akademik UGM. https://rsa.ugm.ac.id/mengungkap-fakta-di-balik-mitos-kolesterol-apa-yang-perlu-kita-ketahui
Sari, K. I. P., Muthoharoh, S., & Widiyawati, R. (2023). Studi korelasi pola makan dengan kadar kolesterol pada pasien strok. Jurnal Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan, 2(1), 48–61. https://e-journal.lppmdianhusada.ac.id/index.php/PIPK/article/download/282/260
Suciawati, A., Silawati, V., & Mulyani, D. (2025). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar kolesterol pada remaja putri. Jurnal Ilmiah Kebidanan Indonesia, 15(1). https://journals.uima.ac.id/index.php/jiki/article/view/387
