Konten dari Pengguna

Tinospora crispa Manfaat Kesehatan yang Tersembunyi di Balik Rasa Paling Pahit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghina Hikmaturrahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau ada satu tanaman yang membuat siapa pun langsung meringis saat mencicipinya, itu adalah brotowali. Batangnya yang direbus menghasilkan cairan pahit yang hampir tidak tertandingi dalam dunia jamu Indonesia. Tapi justru di balik kepahitan itulah, Tinospora crispa manfaat kesehatannya paling menarik perhatian dunia ilmiah. Penelitian terbaru membuktikan bahwa brotowali bukan sekadar "obat pahit" yang diminum karena terpaksa. Ia adalah tanaman dengan kemampuan memodulasi sistem imun yang mekanismenya sudah teridentifikasi hingga ke tingkat molekuler.

Tinospora crispa Manfaat Kesehatan yang Sudah Dipakai Lintas Peradaban

Ilustrasi Tinospora crispa brotowali batang jamu pahit imunomodulator Indonesia.Photo by GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tinospora crispa brotowali batang jamu pahit imunomodulator Indonesia.Photo by GPT AI

Tinospora crispa adalah tanaman asli Asia Tenggara dan Afrika yang di Indonesia dikenal sebagai brotowali, di Malaysia sebagai patawali, dan di Thailand sebagai boraphet. Tanaman ini digunakan secara tradisional untuk mengobati penyakit kuning, rematik, gangguan kemih, demam, malaria, diabetes, peradangan, dan hipertensi.

Yang membuat brotowali istimewa dibanding tanaman jamu lain adalah kedalaman riset yang sudah mengujinya. Sebanyak 167 fitokonstituen yang termasuk dalam 12 kategori kimia berbeda termasuk alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan senyawa fenolik telah berhasil diisolasi dari berbagai bagian tanaman ini. Ini bukan tanaman yang hanya punya satu atau dua senyawa aktif. Ia adalah gudang senyawa bioaktif yang kompleks dan beragam.

Imunomodulator Senjata Utama yang Membuat Brotowali Berbeda

Dari seluruh aktivitas farmakologis brotowali yang sudah diteliti, kemampuan imunomodulatornya adalah yang paling unik dan paling relevan untuk konteks kesehatan modern.

Imunomodulator adalah zat yang memodifikasi respons sistem imun terhadap ancaman. Imunomodulator memodulasi dan memperkuat sistem imun, menjaganya tetap siap menghadapi ancaman apa pun. Ini berbeda dari sekadar antiinflamasi biasa yang hanya menekan respons imun. Brotowali tidak sekadar meredam peradangan ia secara aktif melatih dan mengoptimalkan cara sistem imun tubuh merespons ancaman.

Efek imunomodulatori brotowali sudah diteliti karena penggunaannya secara tradisional untuk mengobati berbagai gangguan inflamasi yang berkaitan dengan sistem imun. Dan penelitian terbaru sudah mengidentifikasi mekanismenya hingga ke jalur sinyal molekuler yang sangat spesifik. Eurekabiomedical

Bagaimana Brotowali Berbicara dengan Sel Imun Tubuh?

Ini adalah bagian yang paling menarik dari riset brotowali modern dan yang paling jarang diketahui publik umum.

Ekstrak etanol brotowali yang terstandarisasi meningkatkan pelepasan mediator proinflamasi pada makrofag manusia U937 yang dipriming LPS melalui stimulasi jaringan sinyal MAPK, NF-kB, dan PI3K-Akt. Tiga jalur sinyal ini MAPK, NF-kB, dan PI3K-Akt adalah tiga dari jalur paling fundamental dalam regulasi respons imun manusia. Obat-obat imunoterapi modern yang dikembangkan untuk kanker dan penyakit autoimun pun bekerja dengan menarget jalur-jalur yang sama.

Penelitian lain mengidentifikasi dua senyawa utama yang bertanggung jawab atas efek imunomodulator brotowali. Enam senyawa diketahui termasuk magnoflorin dan syringin diisolasi dari ekstrak brotowali menggunakan berbagai teknik kromatografi, dan efeknya pada kemotaksis, fagositosis, produksi spesies oksigen reaktif, nitrit oksida, prostaglandin E2, dan sitokin proinflamasi termasuk TNF-a, IL-1b, dan IL-6 sudah diinvestigasi.

Kemotaksis dan fagositosis adalah dua kemampuan inti sel imun. Kemotaksis adalah kemampuan sel imun bergerak menuju lokasi infeksi, sementara fagositosis adalah kemampuan "menelan" dan menghancurkan patogen. Brotowali terbukti mempengaruhi kedua fungsi fundamental ini.

Antidiabetes dengan Mekanisme Ganda

Selain imunomodulasi, sebagian besar studi berfokus pada aktivitas antidiabetes dan kardiak, termasuk mekanisme kerja pada tingkat molekuler, dari ekstrak dan fitokonstituen brotowali.

Brotowali juga memiliki aktivitas antioksidan, efek imunomodulatori, aktivitas antinositeptif, dan efek hipoglikemik. Untuk manajemen diabetes, penelitian metabolomik terbaru mengidentifikasi bahwa senyawa aktif brotowali mampu menghambat enzim alfa-glukosidase dan alfa-amilase, dua enzim kunci dalam penyerapan gula di usus mekanisme yang sama dengan obat diabetes acarbose yang diresepkan dokter.

Potensi Antikanker yang Sedang Serius Diteliti

Salah satu front riset paling aktif untuk brotowali adalah potensi antikankernya. Uji aktivitas antikanker dilakukan pada model sel kanker payudara MCF-7 menggunakan metode MTT Assay, dan hasil pengujian menunjukkan bahwa 15 ekstrak batang brotowali yang diambil dari 5 lokasi di Jawa Timur memiliki perbedaan signifikan dalam aktivitas antikanker.

Variasi aktivitas antikanker berdasarkan lokasi tumbuh ini adalah temuan yang menarik karena menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dan tanah tempat brotowali tumbuh memengaruhi profil senyawa aktifnya. Ini penting untuk standardisasi bahan baku jika brotowali ingin dikembangkan menjadi produk fitofarmaka yang konsisten kualitasnya.

Profil Keamanan yang Perlu Diperhatikan

Seperti semua tanaman obat dengan aktivitas biologis yang kuat, brotowali juga memiliki batas keamanan yang perlu diperhatikan. Rasa pahitnya yang ekstrem bukan sekadar sensasi rasa, melainkan cerminan dari konsentrasi senyawa aktif yang tinggi. Dalam dosis sangat besar, beberapa senyawa dalam brotowali berpotensi menimbulkan efek toksik pada hati.

Inilah mengapa penggunaan brotowali dalam bentuk suplemen terstandarisasi yang dosisnya terukur jauh lebih aman dibandingkan merebus batangnya sendiri di rumah tanpa takaran yang jelas. Dan seperti selalu, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah terbaik sebelum menggunakannya sebagai terapi pendamping.