Konten dari Pengguna

Mahasiswa Baru Tidak Cukup Hanya Diperkenalkan pada Kampus

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agnes Miranda Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki perguruan tinggi bukan sekadar berpindah dari seragam sekolah ke pakaian bebas atau dari ruang kelas sekolah ke ruang kuliah. Bagi mahasiswa baru, masa awal perkuliahan merupakan proses beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki kebiasaan, aturan, dan tanggung jawab yang berbeda. Karena itu, menurut saya, mahasiswa baru tidak cukup hanya diberi informasi mengenai kampus. Mereka juga perlu diberi ruang untuk mengenal, bertanya, dan memahami bagaimana sebenarnya kehidupan sebagai mahasiswa.

Selama ini, kegiatan pengenalan mahasiswa baru sering kali identik dengan penyampaian informasi. Mahasiswa diperkenalkan dengan program studi, dosen, organisasi, kegiatan kampus, hingga berbagai aturan akademik. Informasi tersebut tentu penting, tetapi pengenalan yang hanya berhenti pada penyampaian informasi belum tentu membuat mahasiswa benar-benar siap menjalani kehidupan perkuliahan.

Mahasiswa baru membutuhkan lebih dari sekadar tahu siapa dosennya, apa program studinya, atau organisasi apa saja yang tersedia. Mereka juga perlu memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan dosen, bagaimana mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan lain, bagaimana mencari informasi secara mandiri, serta bagaimana bersikap ketika menghadapi masalah selama perkuliahan.

Menurut saya, hal inilah yang sering kali luput dari pembicaraan tentang masa awal mahasiswa. Ketika seseorang masuk perguruan tinggi, ia tidak lagi berada dalam lingkungan yang sepenuhnya mengarahkan setiap langkahnya. Mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri. Tugas tidak selalu diingatkan satu per satu, informasi akademik perlu dicari sendiri, dan keputusan untuk mengikuti kegiatan tertentu juga menjadi tanggung jawab masing-masing.

Kondisi tersebut membuat kegiatan pengenalan mahasiswa baru seharusnya tidak dipandang sebagai kegiatan formalitas. Kegiatan semacam ini justru dapat menjadi kesempatan pertama bagi mahasiswa untuk memahami lingkungan yang akan mereka jalani selama beberapa tahun ke depan.

Salah satu contohnya dapat dilihat melalui kegiatan Pengenalan Profil Himpunan Mahasiswa dan Seputar Perkuliahan (PPHSP) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan organisasi mahasiswa, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kehidupan akademik dan kemahasiswaan kepada mahasiswa baru Pendidikan Ekonomi.

sumber gambar pribadi

PPHSP yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada 28 Februari 2026 mengangkat tema “Membangun Karakter dan Kesiapan Akademik Mahasiswa Baru Pendidikan Ekonomi”. Kehadiran ketua program studi, dosen, serta pengurus Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik dan kemahasiswaan yang akan mereka jalani.

Namun, menurut saya, nilai penting dari kegiatan tersebut bukan terletak pada siapa saja yang hadir atau bagaimana rangkaian acaranya berlangsung. Hal yang lebih penting adalah apa yang mahasiswa baru dapatkan setelah kegiatan tersebut selesai.

Pengenalan kampus seharusnya mampu membuat mahasiswa baru merasa bahwa mereka memiliki tempat untuk bertanya ketika belum memahami sesuatu. Mereka juga perlu mengetahui bahwa kehidupan kampus bukan hanya tentang mengikuti perkuliahan dan mendapatkan nilai, tetapi juga tentang membangun kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Di sinilah organisasi mahasiswa dapat memiliki peran yang cukup penting. Himpunan mahasiswa seharusnya tidak hanya dikenal sebagai pihak yang membuat program kerja, mengadakan seminar, atau melaksanakan berbagai kegiatan. Bagi mahasiswa baru, organisasi mahasiswa juga dapat menjadi ruang untuk belajar dari mahasiswa yang sudah lebih dulu mengalami proses perkuliahan.

Mahasiswa tingkat atas tentu memiliki pengalaman yang berbeda dengan mahasiswa baru. Mereka sudah lebih dulu menghadapi tugas, berkomunikasi dengan dosen, mengikuti kegiatan organisasi, mengatur waktu, hingga menghadapi berbagai persoalan selama kuliah. Pengalaman tersebut sebenarnya dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan mahasiswa baru.

Karena itu, saya melihat kegiatan pengenalan seperti PPHSP akan lebih bermakna jika tidak berhenti pada satu kali pertemuan. Pengenalan seharusnya menjadi pintu masuk menuju proses pendampingan yang lebih berkelanjutan. Setelah mahasiswa mengetahui siapa dosennya dan apa itu HIMA, mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan mendapatkan informasi ketika menghadapi persoalan dalam kehidupan perkuliahan.

Apalagi pelaksanaan kegiatan secara daring menunjukkan bahwa pengenalan mahasiswa baru tidak selalu harus dilakukan di dalam ruangan. Teknologi dapat menjadi sarana untuk mempertemukan mahasiswa baru dengan lingkungan akademik dan organisasi. Namun, menurut saya, penggunaan teknologi sebaiknya tidak membuat proses pengenalan menjadi sekadar penyampaian materi satu arah.

Mahasiswa baru tetap membutuhkan interaksi. Mereka perlu diberi kesempatan untuk bertanya, menyampaikan pengalaman, bahkan menceritakan kebingungan yang mereka alami. Dengan begitu, kegiatan pengenalan tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang mengetahui informasi, tetapi juga mahasiswa yang merasa lebih siap menghadapi kehidupan kampus.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya persoalan datang ke kelas, mengerjakan tugas, lalu mendapatkan nilai. Ada proses belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab di dalamnya. Proses tersebut tentu tidak selesai dalam satu kegiatan pengenalan.

Menurut saya, justru karena itulah kegiatan seperti PPHSP memiliki arti yang lebih luas. PPHSP bukan sekadar agenda organisasi atau kegiatan yang selesai setelah acara ditutup. Jika dirancang dengan baik dan dilanjutkan dengan ruang interaksi setelah kegiatan, PPHSP dapat menjadi salah satu langkah awal mahasiswa baru untuk memahami bahwa dunia perkuliahan adalah lingkungan yang harus mereka kenali sekaligus mereka jalani secara mandiri.

Mahasiswa baru tidak hanya membutuhkan seseorang yang memberi tahu mereka tentang dunia kampus. Mereka membutuhkan ruang untuk mengenalinya secara perlahan, bertanya ketika bingung, dan belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah lebih dulu menjalaninya.

Sebab, mengenalkan kampus bukan hanya tentang menunjukkan apa yang ada di dalamnya. Yang tidak kalah penting adalah membantu mahasiswa baru memahami bagaimana mereka dapat tumbuh dan menemukan tempatnya di dalam dunia tersebut.