Analisis SDM: Sebelum Menghitung Kebutuhan Karyawan, Pahami Dulu Faktornya

Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen S1
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Firza Ardhia Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba perhatikan sebuah toko roti pada pukul lima sore. Antrean di kasir mengular sampai pintu, rak roti cepat kosong, dan pramuniaga bolak-balik ke dapur. Tapi kalau melihat toko yang sama pukul sepuluh pagi, suasananya berbeda: dua kasir duduk menunggu, dan lantainya sepi.
Toko yang sama bisa kekurangan sekaligus kelebihan orang.
Di sinilah analisis SDM dibutuhkan. Analisis SDM adalah proses menilai kebutuhan tenaga kerja perusahaan, lalu membandingkannya dengan karyawan yang sudah ada. Misalnya, satu kasir rata-rata bisa melayani 60 transaksi per jam, sedangkan di jam ramai toko menerima sekitar 150 transaksi. Dari hitungan sederhana itu ketahuan kapan orang benar-benar kurang, dan kapan hanya jadwalnya yang perlu diatur.
Sebelum menghitung jumlah karyawan, perusahaan perlu memahami dulu faktor yang memengaruhi permintaan SDM.
Faktor dari luar ikut memengaruhi kebutuhan karyawan. Kondisi ekonomi menentukan daya beli pelanggan, teknologi membuat sebagian pekerjaan berubah (misalnya pesanan lewat aplikasi antar yang butuh orang untuk mengemas), persaingan dengan toko di sekitar memengaruhi jumlah pembeli, dan aturan ketenagakerjaan membatasi cara perusahaan mengelola karyawan.
Faktor dari dalam juga berperan. Target bisnis seperti membuka cabang baru, volume penjualan, anggaran gaji, dan desain organisasi menentukan berapa orang yang masuk akal dipekerjakan. Produktivitas karyawan juga penting, begitu pula keluar-masuk karyawan, misalnya karyawan senior yang akan pensiun atau resign.
Setelah faktornya jelas, perusahaan memilih teknik prakiraan. Ada teknik kuantitatif yang memakai data, seperti analisis tren, rasio, dan regresi. Ada teknik kualitatif yang memakai penilaian, seperti pendapat manajer atau teknik Delphi.
Pilihan teknik tergantung beberapa hal: jangka waktu prakiraan, kelengkapan dan kualitas data, ukuran organisasi, stabilitas kondisi bisnis, serta biaya dan keahlian yang tersedia. Cabang baru yang belum punya data penjualan, misalnya, lebih cocok memadukan angka dengan pengalaman manajer. Toko lama dengan data tiga tahun bisa lebih mengandalkan angka.
Jadi lain kali melihat toko yang antreannya panjang, kita bisa ingat bahwa jumlah karyawan di baliknya bukan tebakan. Ada faktor yang dipahami dulu, baru kemudian dihitung, supaya sebuah usaha tidak kekurangan orang di jam sibuk dan tidak kelebihan orang di jam sepi.
