Pengembangan dan Pembelajaran Talenta: Belajar Tidak Harus di Ruang Kelas

Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen S1
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Firza Ardhia Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba ingat kembali pelatihan kerja yang pernah kita ikuti. Ruang rapat dingin, proyektor menyala, pemateri berbicara dua jam, lalu ada daftar hadir dan sertifikat di akhir. Dua minggu kemudian, berapa banyak yang masih kita ingat?
Ternyata belajar tidak selalu terjadi di ruang kelas.
Dalam manajemen talenta, pengembangan dan pembelajaran talenta berarti upaya perusahaan meningkatkan kemampuan karyawan yang berpotensi, supaya siap memegang peran yang lebih besar. Tujuannya bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi memastikan kemampuan itu benar-benar dipakai dalam pekerjaan.
Pelatihan formal tetap penting untuk membangun dasar. Misalnya kelas tentang pelayanan pelanggan, aplikasi akuntansi, atau dasar kepemimpinan. Tapi pelatihan sering berhenti pada teori, sehingga perlu ditemani cara belajar lain.
Mentoring dan coaching membuat karyawan dibimbing langsung oleh orang yang lebih berpengalaman. Seorang staf baru yang duduk bersebelahan dengan seniornya, misalnya, bisa belajar cara menangani keluhan pelanggan dengan melihat langsung, bukan hanya membaca modul.
Rotasi jabatan memberi kesempatan mengenal bagian lain. Staf bagian penjualan yang sempat ditempatkan di bagian gudang akan lebih paham kenapa pesanan kadang terlambat, dan itu mengubah cara ia bekerja dengan tim lain.
Penugasan proyek memberi ruang mencoba tanggung jawab baru, misalnya memimpin acara kecil perusahaan atau menyusun laporan untuk atasan. Di sini karyawan belajar mengambil keputusan, bukan hanya mengikuti instruksi.
Pembelajaran daring juga makin sering dipakai karena bisa diakses kapan saja, misalnya lewat video pendek atau kursus yang bisa diselesaikan di sela jam kerja.
Dalam dunia SDM, ada pandangan umum bahwa sebagian besar pembelajaran terjadi lewat pengalaman kerja langsung, disusul belajar dari orang lain, dan hanya sebagian kecil lewat pelatihan formal. Proporsinya berbeda di tiap perusahaan, tapi pesannya jelas: pelatihan perlu ditemani pengalaman nyata supaya hasilnya terasa.
Hasilnya perlu dicek. Apakah kemampuan karyawan meningkat? Apakah mereka lebih siap mengisi posisi yang lebih tinggi? Dari situ program bisa diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan tiap orang. Lingkungan kerja juga menentukan: karyawan lebih mudah belajar kalau atasan memberi ruang untuk mencoba, menerima masukan, dan tidak menghukum setiap kesalahan.
Jadi mengembangkan talenta bukan hanya soal mengadakan pelatihan. Bagi perusahaan, talenta yang terus belajar membuat organisasi lebih siap menghadapi perubahan. Bagi karyawan, kesempatan berkembang biasanya membuat mereka lebih termotivasi dan betah. Belajar yang paling terasa justru yang berjalan setiap hari, di tempat kerja itu sendiri.
