Prestasi Itu Akan Kembali Ke Diri Sendiri

Students at the State University of Malang. Sports coaching education study program.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Gusti Syecha Rafael tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang akhir-akhir ini sering mampir ke kepala saya, seperti notif Shopee PayLater yang muncul tiap akhir bulan. Bahwa dalam olahraga, prestasi itu akhirnya bukan ditentukan oleh siapa pelatih kita, seberapa bagus fasilitasnya, atau apakah kita pakai barang baru saat latihan. Prestasi itu mau digimanain juga tetap baliknya ke diri kita sendiri.
Awalnya saya tidak benar-benar percaya. Saya pikir, selama ini saya rajin latihan, ikut semua program, hadir paling awal, pulang paling akhir, ya otomatis berkembang dong. Wong rumusnya sudah jelas latihan banyak sama dengan prestasi bagus. Tapi ternyata hidup dan olahraga itu tidak sesederhana rumus matematika kelas 1 SD.
Saya punya pengalaman yang bikin kepala saya seperti kejedug sendiri kayak abis nabrak tiang gawang. Waktu itu saya lagi giat-giatnya latihan. Serius banget. Sampai rasanya kalau ada daftar hadir latihan, saya pasti paling atas. Sementara teman saya ini, tipe atlet musiman. Yang datang kalau sempat,kalau mood, kalau lagi ada maunya. Pokoknya yang penting hadir kadang-kadang.
Secara logika, ya jelas harusnya saya yang lebih berkembang dong. Saya yang latihan mati-matian. Saya yang berkeringat tiap hari. Tapi dia? Ya kadang muncul kadang hilang kayak notif mantan yang cuma muncul pas malam minggu doang.
Tetapi ketika pertandingan tiba, kenyataannya malah bikin saya ngelamun. Dia tampil lebih baik, tenang, fokus, dan seperti tidak membawa beban apa-apa. Sedangkan saya? Saya malah ribet dengan pikiran saya sendiri.
Saat itu saya baru sadar satu hal ternyata yang menentukan bukan cuma latihan, tetapi bagaimana kita hadir dalam latihan itu.
Saya, benar rajin latihan. Tapi rajin saja tidak cukup kalau kepala saya sibuk mikir kuliah, urusan rumah, atau pikiran “aduh harus menang nih”. Teman saya yang jarang latihan justru lebih fokus saat hadir, seperti membuka aplikasi roblox dan memainkan Grow a Garden yang berkebun untuk mengembangkan bibitnya.
Disitulah saya mulai paham merasa nyesek dikit tetapi ooooo seperti itu
Pelatih bisa memberi program yang luar biasa detail. Teman-teman bisa kasih semangat seperti supporter dadakan. Orang rumah bisa mendoakan sepenuh hati. Tapi kalau diri sendiri belum benar-benar mau, ya percuma.
Kadang kita ini juga hidup di lingkungan olahraga yang suka menyalahkan hal eksternal contohnya seperti salah peralatan, salah wasit, salah fasilitas, dan lain sebagainya. Padahal kalau jujur, banyak atlet yang lebih rajin cari alasan daripada cari cara berkembang. Kita hidup di budaya yang sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab, tapi malas bertanya ‘saya sendiri sebenarnya sudah benar belum?’”
Olahraga, kalau dipikir-pikir, itu sejenis cermin. Ia memperlihatkan dengan jujur siapa kita sebenarnya terutama pada saat waktu kita tidak siap.
Kalau dibawa ke level yang lebih filosofis, prestasi itu bukan soal siapa yang paling kuat, siapa yang paling berotot, atau siapa yang paling langganan latihan. Prestasi itu soal siapa yang paling bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
Dan tanggung jawab itu tidak bisa dititipkan.
Tidak bisa titip ke pelatih: “Pak, tolong latih saya biar auto jago.”
Tidak bisa titip ke teman: “Eh, bantu semangatin, biar aku nggak down pas sparing.”
Tidak bisa titip ke Tuhan terus tanpa usaha: “Tuhan, besok aku lomba, mohon ditolong ya… tapi latihannya jangan dipaksa.”
Mungkin pelatih akan menjawab, “Ooooo PKD! (Pemain Karepe Dewe).”
Sedangkan Tuhan pun mungkin juga menjawab, “Nak, aku bantu yang berusaha juga xixixi.”
Saya kemudian sadar latihan itu penting. Tapi niatnya harus benar. Kita bisa latihan tiap hari, tapi kalau di kepala cuma ada pikiran “yang penting hadir”, ya hasilnya kosong. Tapi kalau kita hadir dengan kesadaran penuh, dengan kemauan untuk berubah, maka bahkan satu jam latihan pun bisa berarti jauh lebih besar.
Faktor mental juga tidak kalah penting. Orang yang jujur dengan dirinya sendiri akan lebih siap ketika bertanding. Ia tahu di mana letak kelemahannya, tahu apa yang perlu diperbaiki, dan tahu bagaimana mengatasi rasa takut atau gugup.
Faktor sosial, budaya, dan keberuntungan juga kadang ikut main tapi semuanya tetap kembali ke satu poros yaitu diri kita sendiri.
Akhirnya saya pelan-pelan memahami bahwa prestasi bukan hadiah dari langit. Prestasi itu kumpulan dari keputusan kecil yang kita ambil tiap hari mau latihan atau tidak, mau serius atau tidak, mau ngeluh atau maju, mau nyoba lagi atau menyerah.
Latihan itu bisa dipaksa.
Tetapi keinginan itu tidak bisa dipaksa.
Dan prestasi itu jelas lahir dari keinginan.
Prestasi itu lahir dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari, entah itu memilih hadir latihan, memilih fokus, memilih jujur pada diri sendiri, atau memilih kembali bangkit setelah jatuh.
Pelatih, teman, fasilitas, dan keberuntungan memang bisa membantu, tapi mereka hanya bonus. Motor utamanya tetap ada pada diri kita. Dan kalau diri kita sendiri tidak mau bergerak, mau dilatih serajin apa pun, hasilnya akan tetap sama, “Kosong”.
Justru di situlah letak keindahan olahraga. Bahwa semua orang punya peluang yang sama untuk berkembang, asal mereka mau bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Mau jujur dengan prosesnya. Mau menghadapi rasa malasnya. Mau berdamai dengan egonya.
Karena pada saat pertandingan dimulai, pelatih tidak bisa ikut membantu, fasilitas tidak bisa menutupi kurangnya niat, dan teori latihan tidak bisa menyelamatkan mental yang rapuh. Yang turun ke gelanggang ya cuma kita dan semua keputusan kecil yang kita ambil selama ini.
Lucunya, justru itu keadilan olahraga yang paling telanjang dia tidak peduli siapa yang paling cerewet di grup WhatsApp, siapa yang paling sering update story latihan, atau siapa yang paling rajin nyalahin keadaan. Yang ia pedulikan hanyalah siapa yang benar-benar siap.
Jadi kalau besok-besok hasilnya masih ‘gitu-gitu aja’, mungkin bukan dunia yang salah. Mungkin yang perlu kita lakukan cuma satu hal sederhana berhenti nyari alasan, dan mulai nyari diri sendiri.
