Ketika AI Menjadi “Otak Kedua”: Mahasiswa Makin Cerdas atau Makin Bergantung?

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Padang (UNP)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Winda Rahayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital ini kemajuan teknologi tidak bisa dihindari oleh setiap kalangan, baik anak-anak, remaja ataupun dewasa. Namun sangat terasa di kalangan pelajar, khususnya mahasiswa. Ketika tugas diberikan beberapa jam kemudian pendahuluan, pembahasan dan kesimpulannya telah tersusun rapi. Tidak membutuhkan waktu panjang untuk membaca, tidak mengalami kebuntuan dan kendala lainnya. Dalam hal ini tugas memang selesai. Namun apakah proses belajar juga terjadi?
Kehadiran kecerdasan buatan atau yang bisa disebut AI telah mengubah cara mahasiswa menyelesaikan tugas. AI dapat membantu semua tugas menjadi lebih mudah, ringkas dan instan. Dan tentunya kemampuan ini membuat mahasiswa belajar lebih cepat dan efisien. Dan sampai saat ini pemerintah juga tidak menempatkan AI sebagai teknologi yang ditolak sepenuhnya, melainkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa AI seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti peran manusia. Pendidikan tetap membutuhkan pembentukan karakter, kemampuan berpikir kritis, refleksi etis, dan kendali manusia atas teknologi (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2026).
Di perguruan tinggi yang sering dibahas adalah mahasiswa menggunakan AI berarti curang, atau mahasiswa yang menggunakan AI berarti adaptif terhadap perkembangan zaman. Kajian sistematis menunjukkan bahwa kecerdasan buatan generatif dapat meningkatkan keterlibatan dan efisiensi belajar, tetapi juga menimbulkan risiko ketidakjujuran akademik apabila digunakan tanpa pedoman yang jelas (Bittle & El-Gayar, 2025).
Padahal sejak lama sebenarnya manusia juga sudah memindahkan beberapa pekerjaan mental kepada alat di luar diri, contohnya penggunaan kalkulator, catatan pengingat, kalender dan peta digital untuk menemukan jalan. Dalam psikologi kognitif proses ini disebut sebagai cognitive offloading (Risko & Gilbert, 2016)
Cognitive offloading terjadi ketika manusia mengurangi tuntutan mental dengan menyerahkan sebagian pekerjaan kognitif kepada alat eksternal. Dalam batas tertentu, tentunya ini bukan sesuatu yang buruk. Namun yang menjadi masalah saat ini bukanlah pekerjaan teknis yang dialihkan tapi kemampuan inti yang sebenarnya perlu dilatih melalui pendidikan.
Contohnya jika mahasiswa masih menggunakan AI untuk membantu memeriksa tatanan bahasa, mendapatkan contoh dalam pembelajaran. Hal ini masih bisa dikatakan sebagai alat bantu. Namun, apabila sudah menyerahkan seluruh proses, mulai dari merumuskan, menentukan teori, membuat argumen dan mengevaluasi tugas kepada AI, maka ini yang disebut dengan mengalihkan inti proses belajar.
Ketergantungan terhadap AI sulit dikenali karena manfaat langsung dari AI ini sangat terasa. Mahasiswa dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan mengurangi frustrasi dikarenakan kesulitan mencari sumber dll. Dalam jangka pendek tentu saja ini menguntungkan bagi mahasiswa karena walaupun kritis atau tidak tugas yang dihasilkan tetap terlihat baik.
Perbedaan akan terasa ketika mahasiswa diminta menjelaskan konsep dan mempertahankan argumen tanpa bantuan. Hal ini sebenarnya berbahaya karena saat mahasiswa yang bergantung kepada AI sebenarnya tidak sepenuhnya memahami tugas yang diserahkan karena pengetahuan tersebut belum benar-benar dibangun dalam pikiran (Zhu et al., 2026).
Wang et al. (2026) menunjukkan dua pola pemanfaatan AI di pendidikan tinggi. Pola yang mendukung learner agency berkaitan dengan self-regulated learning, self-efficacy, feedback literacy, dan keterlibatan reflektif. Pada pola pertama ini AI digunakan sebagai teman belajar. Mahasiswa tetap menentukan tujuan, memeriksa jawaban, dan mengambil keputusan sendiri. Sebaliknya, pola yang mengikis agency berkaitan dengan cognitive offloading, ketergantungan, penerimaan jawaban tanpa kritik, dan melemahnya penilaian mandiri. Pada pola kedua ini AI dijadikan sumber berpikir utama, mahasiswa tidak memeriksa secara kritis, hal ini dapat menimbulkan ketergantungan dan melemahkan kemampuan mahasiswa.
Namun tidak adil jika kita hanya membahas terkait mahasiswa. Kita juga perlu bertanya apakah tugas yang diberikan benar-benar dirancang untuk melatih kemampuan berpikir mahasiswa. Saat tugas yang diberikan hanya meminta mahasiswa untuk menjelaskan defenisi, merangkum teori atau menulis esai, maka tugas-tugas ini dapat dengan mudah dialihkan ke AI.
Menurut Long et al. (2026) menunjukkan bahwa AI paling efektif mendukung keterlibatan mahasiswa ketika ditempatkan dalam strategi pedagogis interaktif, seperti flipped classroom, project-based learning, dan scaffolded feedback loops. Temuan tersebut menegaskan bahwa dampak AI dipengaruhi oleh cara teknologi diintegrasikan ke dalam pembelajaran, bukan hanya oleh keberadaan teknologi itu sendiri.
Oleh karena itu, melarang penggunaan AI tanpa mengubah metode belajar-mengajar bukanlah solusi yang efektif. Namun dosen dapat memastikan mahasiswa tetap menjadi pelaku utama dalam proses berpikir. Beberapa proses mengajar yang bisa diterapkan adalah memperhatikan proses pembelajaran bukan hanya produk akhirnya.
Sehingga mahasiswa dapat diminta memberikan kerangka awal, catatan pemilihan sumber, dan informasi yang terverifikasi. Penggunaan AI juga dapat dibuat transparan. Mahasiswa dapat menjelaskan AI apa yang digunakan, tujuan penggunaannya dan perubahan yang dilakukan setelah menerima jawaban AI. Namun selain tugas-tugas tersebut, dalam proses pembelajaran mahasiswa masih tetap perlu dibiasakan berdiskusi spontan, presentasi, pemecahan kasus tanpa bantuan AI.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa AI bisa dijadikan sebagai “otak kedua” yang dapat membantu mahasiswa mengelola informasi, memperoleh umpan balik dan melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Akan tetapi, jika AI merupakan otak kedua maka fungsinya tidak boleh mengambil alih kendali dari otak pertama. Karena sejatinya proses belajar itu bukan hanya bertujuan membuat tugas selesai, tetapi untuk melatih seseorang menjadi lebih kritis, mengalami kebingungan, memecahkan masalah, dan mempertanggungjawabkan pemikiran.
Pada saat yang sama, dosen perlu merancang tugas yang tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga memberi ruang bagi proses berpikir, diskusi, refleksi, dan pembuktian pemahaman mahasiswa. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah mahasiswa menggunakan AI, melainkan apakah setelah menggunakan AI mahasiswa masih mampu berpikir, menjelaskan, dan mengambil keputusan secara mandiri.
