Perempuan dan Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat : Tantangan dan Solusi

Pensiunan PNS 30 tahun, kini fokus pada lingkungan, pertanian, dan perencanaan. Meski pensiun sejak 2021, semangat eksplorasi isu lingkungan, teknologi, dan kesehatan mental tak pernah padam. Berdedikasi penuh!
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari DANIEL GAGARIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, isu mengenai lingkungan kerja yang tidak sehat (toxic) semakin mencuat, terutama yang melibatkan perempuan di posisi kepemimpinan. Ekspektasi terhadap pemimpin perempuan dan laki-laki seringkali sama, namun perempuan seringkali menghadapi tekanan yang lebih besar dalam menunjukkan keseimbangan antara ketegasan dan keramahan.
Dinamika Gender dalam Kepemimpinan
Survei menunjukkan bahwa karyawan cenderung lebih percaya pada pemimpin perempuan dalam hal keramahan dan kepedulian terhadap kesejahteraan, sementara pemimpin laki-laki lebih dipercaya dalam hal kepemimpinan umum dan ketegasan. Profesor Hélène Lee-Gosselin dari Université Laval menjelaskan bahwa masyarakat seringkali memiliki stereotip gender yang tersembunyi. Secara sadar, orang mungkin mengklaim tidak memiliki prasangka, tetapi perilaku mereka seringkali mencerminkan bias seksis.
Ekspektasi Ganda: Perempuan diharapkan untuk memenuhi standar gender tradisional (merawat, memperhatikan harmoni) dan pada saat yang sama, standar seorang pemimpin. Kegagalan dalam memenuhi salah satu dari ekspektasi ini dapat mengakibatkan penilaian negatif.
Mitos Pemimpin Ideal: Atribut yang secara tradisional dikaitkan dengan laki-laki (berorientasi pada tindakan, ambisius) seringkali dianggap sebagai ciri-ciri pemimpin yang efektif. Sementara itu, kualitas yang diasosiasikan dengan perempuan (peduli, mendengarkan) kurang dihargai, meskipun pendekatan kepemimpinan transformasional modern mulai mengakui pentingnya kualitas-kualitas ini.
Lingkungan Kerja Toxic: Dampak dan Cara Mengatasi
Lingkungan kerja yang tidak sehat dapat memiliki dampak yang merusak pada kesejahteraan karyawan. Sandrine Lévy-Amon, seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa lingkungan toxic adalah lingkungan yang penuh tekanan, membuat individu merasa kewalahan dan tidak mampu menghadapi tuntutan pekerjaan. Indikator Lingkungan Kerja Toxic:
Kurangnya dukungan dan kepercayaan dari rekan kerja atau atasan.
Ketidakjelasan ekspektasi dan kurangnya pengakuan atas pekerjaan yang dilakukan.
Ketakutan untuk berbicara, meminta bantuan, atau mengungkapkan kebutuhan karena takut dihakimi.
Hipervigilensi terhadap kesalahan sekecil apapun.
Dampak Lingkungan Kerja Toxic:
Kesehatan Fisik dan Mental: Meningkatnya risiko penyakit jantung, gangguan muskuloskeletal, masalah kesehatan mental, dan kelelahan.
Produktivitas: Penurunan kehadiran, keterlibatan, produktivitas, dan inovasi.
"Budaya Tirani": Perilaku buruk dari atasan menyebar ke seluruh tim, membuat suasana kerja tidak sehat dianggap biasa.
Strategi Mengatasi Lingkungan Kerja Toxic:
Menetapkan Batasan yang Jelas: Memisahkan kehidupan kerja dan pribadi, misalnya dengan mematikan telepon setelah jam kerja.
Mencari Dukungan Sosial: Berbicara dengan kolega yang memiliki pengalaman serupa.
Mendokumentasikan Bukti: Menyimpan email atau percakapan yang menunjukkan perilaku tidak profesional atau pelecehan.
Memahami Hak-Hak Karyawan: Mempelajari kebijakan perusahaan dan undang-undang tenaga kerja setempat.
Mengajukan Keluhan: Jika memungkinkan, mengajukan keluhan ke departemen SDM atau manajemen yang lebih tinggi.
Pertimbangkan untuk Resign: Jika situasinya tidak membaik, pertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain demi kesehatan dan kesejahteraan Anda.
Peran Perempuan dalam Menciptakan Perubahan
Perempuan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan inklusif. Ini dapat dilakukan dengan:
Mendukung satu sama lain: Membangun jaringan dukungan dan berbagi pengalaman.
Menjadi contoh yang baik: Menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan beretika.
Menantang perilaku toxic: Tidak mentolerir perilaku yang merugikan dan berbicara ketika melihat ketidakadilan.
Mempromosikan kesadaran: Meningkatkan kesadaran tentang isu-isu lingkungan kerja melalui komunikasi dan pendidikan.
Kesimpulan
Lingkungan kerja toxic merupakan masalah serius yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan dan produktivitas karyawan. Perempuan seringkali menghadapi tantangan unik dalam lingkungan seperti ini karena adanya stereotip gender dan ekspektasi ganda. Namun, dengan memahami dinamika yang terlibat, mengambil tindakan untuk melindungi diri sendiri, dan bekerja sama untuk menciptakan perubahan positif, kita dapat membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan inklusif untuk semua.
Sumber:
1. Letarte, Martine. "Climat toxique au travail: moins de latitude pour les femmes gestionnaires." premières en affaires, 7 November 2022.
2. Salaun, Justine. "Votre environnement de travail est-il toxique ?" Femme Actuelle.
3. Hickok, Hannah. "Pourquoi l'environnement de travail toxique vous suit à la maison." BBC News Afrique, 6 April 2021.
4. "Les femmes et l'environnement." Site de l'Association Adéquations.
