Konten dari Pengguna

Biaya: Tentang Harga Asli yang Gagal Kita Hitung

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Satria Purwanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sudut sebuah kedai kopi waralaba global yang membelah keriuhan kawasan bisnis Jakarta, seorang pria paruh baya terpaku menatap layar ponselnya. Ada binar kecemasan yang tertangkap samar saat ia melihat mutasi rekening: transferan biaya semesteran sekolah internasional anaknya baru saja sukses terkirim, menguapkan angka yang setara dengan satu unit motor matic baru. Di luar, di balik dinginnya basement, sebuah SUV hitam keluaran terbaru miliknya terparkir rapi—menanti setoran cicilan yang bersiap mengimpit di tanggal tua, berkejaran dengan tagihan kartu kredit sisa liburan akhir tahun lalu yang dipaksakan demi label "waras". Jika Anda kebetulan duduk di sisinya dan bertanya mengapa hidup terasa mencekik leher padahal gajinya sudah menyentuh dua digit besar, ia hanya akan melempar senyum kecut, memijat pelipisnya yang pening, lalu bergumam lirih: “Biaya hidup sekarang emang gila, Mas. Nggak ada pilihan.”

Gambar dibuat dengan Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat dengan Gemini AI

Namun, di sinilah letak salah kalkulasi massal kita: kita dengan sukarela menyerahkan tenggorokan kita pada jerat bernama gengsi ekonomi. Kita kerap menunjuk hidung zaman dan mengambinghitamkan "biaya hidup" (cost of living), padahal yang sebetulnya sedang kita bayar mati-matian di atas panggung sandiwara ini adalah "biaya gaya hidup" (cost of lifestyle). Kita terjebak dalam delusi kosmetik sosial yang akut; menganggap semua pengeluaran tinggi ini sebagai kewajaran modernitas, tanpa pernah berani jujur pada cermin bahwa sebagian besarnya hanyalah ongkos beli tiket agar terlihat setara di mata orang asing.

Tragedinya, mata kita telah dikaburkan oleh nominal. Kita mengira "biaya" melulu soal deretan angka nol yang tertera di atas selembar kertas tagihan atau saldo yang terpotong di aplikasi perbankan. Kita alpa bahwa setiap kali kita menggeser kartu untuk hal-hal yang melampaui batas waras kemampuan, kita tidak sedang menukar uang kertas. Kita sedang menandatangani kontrak penyerahan ketenangan batin kita untuk berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—ke depan.

Saat Tagihan Finansial Mulai Menyamar Menjadi Tagihan Mental

Mengapa kekeliruan menghitung ongkos hidup ini menjadi sebuah bom waktu yang mengerikan? Karena ketika angka di rekening terus dikuras habis demi merawat standar fiktif lingkungan, mata uang yang kita gunakan untuk membayar sebenarnya jauh lebih mahal dari rupiah: kita sedang menukar waktu luang, kesehatan fisik, dan kebebasan kita untuk memilih jalan hidup.

Saat Anda memutuskan mengambil cicilan rumah mentereng yang melahap hingga 70 persen pendapatan bulanan, atau memburu gawai model paling mutakhir yang sebetulnya tak mengubah fungsi apa pun, biaya aslinya tidak pernah berhenti di angka kontrak pinjaman. Biaya sejatina adalah jam tidur Anda yang menguap karena cemas memikirkan target kerja esok pagi. Biaya aslinya adalah keharusan Anda untuk menundukkan kepala dan bertahan di bawah telunjuk bos yang toksik, semata-mata karena Anda tidak lagi memiliki kemewahan finansial untuk berdiri tegak dan berkata, “Saya mengundurkan diri.”

Kerusakan paling fatal dari salah hitung ini justru merayap dan merusak ruang paling sakral dalam hidup kita. Kita mengorbankan kedekatan emosional, pulang ke rumah dengan raga yang lelah dan jiwa yang kosong, lalu mencoba menebus dosa ketidahadiran itu dengan membelikan anak atau pasangan barang-barang mahal. Hubungan antarmanusia bergeser menjadi transaksional. Kita menciptakan labirin setan yang absurd: membeli barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang belum tentu kita miliki, untuk mengesankan orang yang bahkan tidak kita sukai—sembari menumbalkan orang-orang yang justru paling tulus mencintai kita.

Ekonomi modern sangat lihai menyembunyikan biaya psikologis ini di balik karpet merah kemudahan. Mereka memanjakan kita dengan candu paylater, namun menutup rapat kenyataan bahwa yang sebetulnya sedang digadaikan adalah kedaulatan masa depan kita. Kita melangkah ke kantor sebagai budak korporasi yang patuh, bukan karena loyalitas profesi, melainkan karena ketakutan akut akan status gagal bayar di pertengahan bulan. Kita telah menukar kemerdekaan hidup yang tak ternilai harganya demi segenggam kenyamanan artifisial yang lekas usang.

Mengaudit Ulang Harga Kehidupan Lewat Akuntansi Jiwa yang Jujur

Keluar dari perangkap inflasi gaya hidup ini tidak lantas menuntut Anda untuk mengambil langkah ekstrem; membuang seluruh kartu debit, lalu hidup asketis layaknya pertapa di tengah hutan. Solusinya adalah sebuah pemberontakan kesadaran yang radikal, sebuah keberanian untuk melakukan "True Cost Analysis" (Analisis Biaya Sejati) terhadap setiap rupiah yang keluar dari dompet kita.

Langkah pertama adalah mengubah satuan hitung kita secara radikal: ubah mata uang menjadi jam kerja. Sebelum Anda memutuskan menggeser kartu untuk sepasang sepatu desainer atau tiket konser internasional yang menggiurkan, duduklah sejenak dan hitunglah: berapa puluh jam atau berapa minggu Anda harus memeras keringat di kubikel kerja demi menghasilkan uang sejumlah itu? Jika sepasang sepatu seharga lima juta rupiah setara dengan dua minggu kerja keras penuh tekanan, intrik kantor, dan air mata, tanyakan pada jiwa Anda yang paling dalam: Apakah benda mati ini benar-benar layak ditukar dengan setengah bulan dari sisa umur saya di bumi? Ketika perspektif ini tertanam, kabut dopamin yang memicu sifat impulsif biasanya akan luruh seketika.

Langkah kedua, buatlah garis demarkasi yang tegas antara "Biaya Bertahan Hidup" dan "Biaya Membeli Validasi". Kita membutuhkan keberanian sosial yang besar untuk menurunkan standar penampilan luar demi menaikkan kapasitas kedamaian di dalam. Katakan "tidak" dengan anggun pada lingkar pergaulan yang menguras tabungan, batasi kunjungan ke kafe-kafe mahal yang dikunjungi hanya demi estetika feeds media sosial, dan mulailah menemukan kebanggaan dalam kesederhanaan yang fungsional.

Pada akhirnya, memahami arti biaya yang sesungguhnya adalah tentang merebut kembali kemudi atas hidup kita sendiri. Manusia yang paling kaya bukanlah dia yang menumpuk barang mewah di atas tumpukan utang yang bertebaran, melainkan dia yang memiliki kebutuhan paling sedikit sehingga hidupnya tidak bisa didikte atau dibeli oleh siapa pun. Berhentilah mengira bahwa hidup ini mahal. Hidup sering kali terasa mengimpit hanya karena kita membayar terlalu mahal untuk sebuah topeng bernama gengsi. Mulailah berhemat untuk hal-hal yang fana, agar Anda selalu memiliki modal yang cukup untuk membiayai kedamaian sejati di dalam jiwa Anda sendiri.