Konten dari Pengguna

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026: Mengapa Sulit Melaju Lebih Tinggi?

Daffa Arlingga

Daffa Arlingga

Mahasiswa program studi Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Daffa Arlingga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu isu penting dalam ekonomi makro. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung berada di kisaran 5 persen, sementara target yang lebih tinggi masih sulit dicapai. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah persoalannya terletak pada konsumsi masyarakat, investasi, atau produktivitas industri?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui aktivitas industri dan manufaktur. (Foto: Getty Images/Unsplash+)
zoom-in-whitePerbesar
Pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui aktivitas industri dan manufaktur. (Foto: Getty Images/Unsplash+)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu isu penting dalam ekonomi makro. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung berada di kisaran 5 persen, sementara target yang lebih tinggi masih sulit dicapai. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah persoalannya terletak pada konsumsi masyarakat, investasi, atau produktivitas industri?

Penelitian Zahra dan rekan-rekan (2026) dalam Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum mengkaji hambatan pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada era Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Menggunakan pendekatan deskriptif-komparatif kualitatif dengan data sekunder, penelitian tersebut menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi selama periode yang dikaji masih cenderung berada di kisaran 5 persen. Hambatan yang disoroti meliputi konsumsi rumah tangga, investasi produktif, produktivitas industri, ketergantungan komoditas, dan tekanan ekonomi global. Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan persoalan struktural yang perlu ditangani secara berkelanjutan.

Konsumsi Rumah Tangga Masih Menjadi Penopang Ekonomi

Konsumsi rumah tangga berperan penting dalam menggerakkan kegiatan ekonomi. Ketika masyarakat berbelanja, pelaku usaha memperoleh pendapatan dan aktivitas produksi ikut berjalan. Namun, daya beli yang tertekan oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dapat membatasi pengeluaran masyarakat.

Penelitian Zahra dan rekan-rekan (2026) menyoroti konsumsi rumah tangga sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan sulitnya mencapai pertumbuhan lebih tinggi. Artinya, penguatan ekonomi perlu didukung oleh pendapatan yang lebih baik, lapangan kerja produktif, dan sumber pertumbuhan lain agar tidak hanya bergantung pada konsumsi.

Investasi Indonesia Perlu Meningkatkan Produktivitas

Investasi dapat mendorong pertumbuhan melalui perluasan usaha, peningkatan kapasitas produksi, dan penciptaan lapangan kerja. Akan tetapi, jumlah investasi yang besar belum tentu menghasilkan manfaat optimal jika tidak meningkatkan kemampuan produksi nasional.

Penelitian Zahra dan rekan-rekan (2026) mengidentifikasi rendahnya investasi produktif sebagai salah satu hambatan struktural. Temuan ini menegaskan pentingnya investasi yang mendukung teknologi, keterampilan tenaga kerja, dan pengembangan industri bernilai tambah, bukan hanya mengejar besarnya modal yang masuk.

Produktivitas Industri dan Sektor Manufaktur

Sektor manufaktur dapat meningkatkan nilai ekonomi dengan mengolah bahan mentah menjadi produk jadi. Selain menciptakan lapangan kerja, kegiatan tersebut membuka peluang pengembangan usaha pendukung dan memperkuat daya saing produk Indonesia.

Namun, penelitian Zahra dan rekan-rekan (2026) juga menyoroti lemahnya produktivitas industri sebagai tantangan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, peningkatan teknologi, inovasi, efisiensi produksi, dan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari strategi pembangunan industri nasional.

Ketergantungan Komoditas Membatasi Ketahanan Ekonomi

Indonesia memiliki sumber daya alam yang mendukung ekspor. Meski demikian, ketergantungan pada komoditas membuat perekonomian berisiko terpengaruh perubahan harga dan permintaan global.

Penelitian Zahra dan rekan-rekan (2026) memasukkan ketergantungan komoditas serta tekanan ekonomi global sebagai hambatan yang perlu diperhatikan. Salah satu upaya untuk mengurangi risiko tersebut adalah memperluas diversifikasi ekonomi dan mengembangkan industri pengolahan agar Indonesia memperoleh nilai tambah lebih besar dari sumber daya alamnya.

Pertumbuhan Ekonomi Harus Sejalan dengan Kesejahteraan

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu secara otomatis dirasakan secara merata oleh masyarakat. Pekerjaan yang layak, pendidikan, daya beli, dan pengurangan kemiskinan tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi.

Studi Sultan, Rahayu, dan Purwiyanta (2023) dalam Jurnal Informatika Ekonomi Bisnis menggunakan metode regresi linear berganda atau Ordinary Least Squares (OLS). Penelitian ini menganalisis hubungan pertumbuhan ekonomi dengan indikator kesejahteraan, termasuk inflasi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pendidikan, kemiskinan, dan pengangguran. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Temuan tersebut memperkuat pentingnya melihat pertumbuhan ekonomi bersama indikator sosial. Peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan perluasan kesempatan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, dan upaya menjaga daya beli masyarakat. Baca penelitian.

Kesimpulan: Tantangan Ekonomi Indonesia 2026

Dua penelitian tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja. Konsumsi rumah tangga, investasi produktif, produktivitas industri, ketergantungan komoditas, dan kesejahteraan masyarakat perlu diperhatikan secara bersamaan.

Mendorong pertumbuhan lebih tinggi membutuhkan kebijakan yang memperkuat kemampuan produksi nasional sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan investasi yang produktif, industri yang lebih kompetitif, dan kesempatan ekonomi yang lebih merata, pertumbuhan ekonomi diharapkan tidak hanya meningkat secara angka, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Daffa Arlingga, Ungu Bahagia Warna, dan Violet Fiesta Warna.

Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang.