Konten dari Pengguna

Sejatinya Hari Raya: Sucikan Hati, Bersihkan Diri

Miftahur Rizqi

Miftahur Rizqi

Mahasiswa Perbandingan Mazhab, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Miftahur Rizqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah sebulan lamanya kita berpuasa, maka sekarang tiba-lah masanya kita tumpahkan rasa senang dan rasa haru. Kita ungkapkan sepenuh hati rasa gembira dan rasa syahdu, sembari mengagungkan nama Allah Azza wa Jalla. “Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd”.

Hari demi hari sudah kita lewati, minggu demi minggu sudah kita lalui, bulan demi bulan sudah menghampiri, bahkan bulan Ramadhan tahun ini sudah kita jalani. Marilah kita selalu mengintropeksi diri, dengan menjalani segala perintahnya dan menjauhi segala yang dilarangnya

إمتثال المأمورات وجتناب المنهيات

Dokumen Pribadi

Dalam tradisi kekinian Idul Fitri banyak dimaknai sebagai perayaan dengan pakaian, kendaraan atau apapun yang baru, serta bertujuan untuk membanggakan hal-hal baru yang dimilikinya. Sehingga sering kali melupakan hakikat Idul Fitri adalah saatnya kita untuk meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah SWT setelah satu bulan penuh kita diberikan pelajaran yang berharga. Dalam kitab لَطَائِفُ الْمَعَارفْ Ibnu Rojab berkata:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدِ اِنَّـمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ وَلَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِبَاسِ وَالْمَرْكُوْبِ اِنَّـمَا الْعيْدُ لِمَنْ غَفَرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ

Artinya, "Hari raya bukanlah bagi orang yang pakaiannya baru, tetapi hari raya adalah bagi orang yang bertambah ketaatannya terhadap Allah SWT. Begitu pula hari raya bukan bagi orang yang memperbarui pakaian dan kendaraannya, tetapi hari raya adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya".

Selain kita bertekad untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah Yang Maha Pencipta, pada moment Idul Fitri kali ini, kita selayaknya juga memperbagus hubungan saudara, pertalian kerabat, dan interaksi sosial bermasyarakat. Dalam ajaran Islam telah diatur bahwa menjalin hubungan baik “Hablum minan-naas” sama pentingnya dengan “Hablum minallah”

Sebagai manusia yang tak luput dari salah, baik kesalahan kita disengaja maupun tidak disengaja. Baik kepada keluarga, saudara, tetangga, maupun teman dan kerabat. Marilah kita perbaiki dengan bermaaf-maafan. Allah SWT telah berfirman dalam Surat An-Nuur ayat 22:

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Wallahu A'lamu Bimurodihi:

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim):

لا يَرْحَمُ اللَّهُ مَن لا يَرْحَمُ النَّاسَ

Artinya “Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia (lainnya).” (Imam al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, 1989, h.48) Dalam riwayat lain dikatakan,

من لا يَرحم لا يُرحم

"Orang yang tidak mengasihi, maka tidak akan dikasihi.”

Ini menunjukkan bahwa kasih sayang sesama manusia tidak kalah pentingnya dengan ibadah yang bersifat vertikal, bahkan Allah, dalam hadits di atas, tidak akan mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya. Hal ini berarti bahwa Allah menghendaki hamba-hambanya membangun dunia yang harmonis; menciptakan lingkungan yang sehat dari kebencian; membiasakan kepedulian; membudayakan kasih sayang.