Konten dari Pengguna

Mengapa Lulusan Perguruan Tinggi Sulit Mendapat Pekerjaan yang Sesuai?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmah Handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ahmad Hanif Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ahmad Hanif Unsplash

Perguruan tinggi sering dianggap sebagai salah satu jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Setelah bertahun-tahun menjalani perkuliahan, menyelesaikan tugas, mengikuti ujian, hingga menyelesaikan skripsi, lulusan tentu berharap dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan kemampuan mereka.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Masih banyak lulusan perguruan tinggi yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan pekerjaan. Sebagian lainnya sudah bekerja, tetapi bidang pekerjaannya tidak sepenuhnya sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: mengapa gelar sarjana belum selalu menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai? Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga dengan kebutuhan industri, pengalaman kerja, dan hubungan antara dunia pendidikan dengan pasar tenaga kerja.

Ketika Gelar Belum Menjamin Pekerjaan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan universitas pada 2025 mencapai 5,39 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa masih ada lulusan pendidikan tinggi yang belum terserap dalam dunia kerja.

Kondisi ini bukan berarti pendidikan tinggi tidak memberikan manfaat. Pendidikan tetap berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan dan kualitas sumber daya manusia. Namun, memperoleh gelar akademik saja belum tentu cukup untuk menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan.

Perusahaan juga mempertimbangkan keterampilan, pengalaman, kemampuan berkomunikasi, serta kesiapan calon pekerja dalam menghadapi tuntutan pekerjaan. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi lulusan tidak hanya berkaitan dengan tingkat pendidikan, tetapi juga kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja.

Ada Jarak antara Kampus dan Dunia Kerja

Salah satu penyebab sulitnya lulusan mendapatkan pekerjaan yang sesuai adalah ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri. Permasalahan ini dikenal dengan istilah mismatch, yaitu kondisi ketika pendidikan atau keterampilan seseorang tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.

Dalam publikasi tahun 2025 mengenai ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan pemuda Indonesia, BPS membahas fenomena ketika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada yang dibutuhkan pekerjaannya.

Perkembangan teknologi dan perubahan pola bisnis membuat kebutuhan perusahaan terus berkembang. Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan digital, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi.

Sementara itu, proses penyesuaian kurikulum pendidikan membutuhkan waktu. Apabila pembelajaran di perguruan tinggi tidak diimbangi dengan keterampilan praktis yang relevan, lulusan berpotensi menghadapi kesulitan ketika memasuki dunia kerja.

Pengalaman Kerja Menjadi Tantangan bagi Fresh Graduate

Selain kesenjangan keterampilan, pengalaman kerja juga menjadi salah satu tantangan bagi lulusan baru atau fresh graduate. Banyak perusahaan mencari kandidat yang sudah memiliki pengalaman, sedangkan lulusan baru belum tentu mempunyai kesempatan untuk bekerja secara profesional.

Situasi ini menciptakan tantangan tersendiri. Lulusan membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh pengalaman, tetapi pada saat yang sama pengalaman sering menjadi salah satu persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan.

Padahal, pengalaman tidak selalu harus berasal dari pekerjaan tetap. Kegiatan magang, organisasi mahasiswa, kepanitiaan, proyek kampus, dan kegiatan kewirausahaan dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan praktis.

International Labour Organization (ILO) juga menyoroti pentingnya hubungan antara pendidikan dan dunia industri dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi pekerjaan. Pengalaman praktis dan kerja sama antara lembaga pendidikan dengan perusahaan dapat membantu meningkatkan kesiapan lulusan.

Karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan masa kuliah untuk mengembangkan kemampuan di luar kegiatan akademik. Dengan begitu, mereka tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga pengalaman yang dapat mendukung proses mencari pekerjaan.

Apakah Salah Memilih Jurusan?

Sebagian lulusan merasa khawatir ketika pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan jurusan yang telah ditempuh. Padahal, bekerja di bidang yang berbeda tidak selalu berarti salah memilih jurusan atau gagal memanfaatkan pendidikan.

Dunia kerja memiliki cakupan yang lebih luas daripada pembagian program studi di perguruan tinggi. Lulusan manajemen, misalnya, dapat bekerja di bidang pemasaran, administrasi, sumber daya manusia, penjualan, pelayanan pelanggan, maupun pengembangan usaha.

Hal yang lebih penting adalah kesesuaian antara keterampilan yang dimiliki dan tanggung jawab pekerjaan. Pengetahuan yang diperoleh selama kuliah tetap dapat digunakan dalam berbagai bidang, selama lulusan mampu menyesuaikan diri dan mengembangkan kompetensinya.

Namun, ketidaksesuaian pekerjaan perlu menjadi perhatian apabila seseorang tidak dapat menggunakan kemampuan yang dimiliki atau bekerja pada posisi yang tidak memberikan kesempatan untuk berkembang. Dalam kondisi tersebut, pendidikan dan keterampilan yang telah diperoleh berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Bukan Hanya Tanggung Jawab Mahasiswa

Ketika lulusan perguruan tinggi mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan, masalah tersebut sering dianggap sebagai akibat kurangnya kemampuan individu. Padahal, persoalan ini juga berkaitan dengan kondisi pasar tenaga kerja dan kesiapan sistem pendidikan.

Perguruan tinggi memiliki peran untuk memastikan pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan industri. Kerja sama dengan perusahaan, program magang, pembelajaran berbasis kasus nyata, dan pelatihan keterampilan dapat membantu mahasiswa memahami dunia kerja sebelum lulus.

Pemerintah juga perlu memperkuat program pelatihan dan menyediakan informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja. Informasi tersebut dapat membantu lembaga pendidikan dan calon pekerja memahami keterampilan yang dibutuhkan oleh berbagai sektor industri.

Di sisi lain, perusahaan dapat memberikan kesempatan yang lebih luas kepada lulusan baru melalui program magang, pelatihan, dan posisi tingkat pemula. Kesempatan tersebut dapat membantu lulusan memperoleh pengalaman sekaligus memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengembangkan calon tenaga kerja sesuai kebutuhan mereka.

Dengan adanya kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha, kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan pekerjaan diharapkan dapat dikurangi.

Mahasiswa Perlu Mulai Bersiap Sebelum Lulus

Meskipun terdapat berbagai tantangan struktural, mahasiswa tetap dapat mengambil langkah untuk meningkatkan kesiapan memasuki dunia kerja. Persiapan karier sebaiknya tidak baru dimulai setelah wisuda, tetapi dilakukan sejak masih menjalani perkuliahan.

Mahasiswa dapat mulai mengenali bidang pekerjaan yang diminati, mengikuti program magang, membangun portofolio, serta mengembangkan keterampilan komunikasi dan digital. Pengalaman berorganisasi juga dapat membantu melatih kerja sama tim, kepemimpinan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Selain itu, mahasiswa perlu memahami bahwa kebutuhan dunia kerja terus berubah. Kemampuan untuk belajar secara mandiri dan beradaptasi menjadi penting agar lulusan dapat mengikuti perkembangan teknologi dan tuntutan pekerjaan.

Prestasi akademik tetap penting, tetapi akan lebih bermanfaat apabila diimbangi dengan pengalaman dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam situasi nyata.

Pendidikan Tinggi Harus Terhubung dengan Dunia Kerja

Pada akhirnya, persoalan lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bukan hanya tentang jumlah lapangan kerja yang tersedia. Persoalan ini juga berkaitan dengan kualitas pekerjaan, kesesuaian keterampilan, dan kesempatan bagi lulusan untuk mengembangkan potensinya.

Pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya berorientasi pada kelulusan dan pemberian gelar, tetapi juga pada pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Sementara itu, perusahaan perlu memberikan ruang bagi lulusan baru untuk belajar dan memperoleh pengalaman profesional.

Indonesia memiliki potensi besar melalui jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh pendidikan yang relevan, keterampilan yang memadai, dan kesempatan kerja yang sesuai.

Dengan memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri, lulusan diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan pendidikan, tetapi juga lebih siap menghadapi persaingan kerja.

Keberhasilan pendidikan tinggi pada akhirnya tidak cukup diukur dari banyaknya mahasiswa yang memperoleh gelar. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk membangun kehidupan kerja yang produktif dan berkelanjutan.