Meneladani Nyai Badriyah Fayumi: Ulama, Pesantren, dan Kesetaraan

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhamad Abizard tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Meneladani Nyai Badriyah Fayumi: Ulama, Pesantren, dan Kesetaraan.

Di tengah pandangan umum bahwa panggung dakwah keagamaan kerap didominasi oleh laki-laki, sosok Dra. Nyai Hj. Badriyah Fayumi, Lc., M.A. hadir membawa pesan kesetaraan yang sangat relevan. Beliau merupakan ulama perempuan asal Pati, Jawa Tengah, sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an wal Hadits di Bekasi.
Lewat tutur katanya yang sejuk namun tegas, Nyai Badriyah memberikan pelajaran penting bagi kita: bahwa kedalaman ilmu agama dan perjuangan kesetaraan gender sejatinya bisa berjalan bersisian secara harmonis.
Melacak Akar Keilmuan: Dari Pesantren hingga Al-Azhar Kairo
Menelusuri perjalanan hidup beliau, fondasi keilmuan Nyai Badriyah memang sangat kokoh. Lahir dari keluarga pesantren, sejak kecil beliau sudah terbiasa menggeluti kajian kitab kuning. Perjalanan akademisnya berlanjut ke IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, hingga memantapkan sanad keilmuannya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Perpaduan antara tradisi intelektual Kairo dan keilmuan pesantren ini menjadi modal utama kiprah dakwahnya. Bersama sang suami, KH. Abu Bakar Rahmiz, M.A., beliau mengasuh para santri di Pesantren Mahasina. Di sana, santri tak hanya dididik untuk menghafal Al-Qur'an dan Hadis, tetapi juga diajak menjadi pribadi yang berwawasan luas, inklusif, dan peduli terhadap isu-isu sosial.
Mengapa Peran Nyai Badriyah dan KUPI Sangat Berarti?
Salah satu kontribusi terbesarnya terlihat dari peran aktifnya dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Melalui wadah ini, Nyai Badriyah bersama deretan ulama perempuan menegaskan bahwa perempuan memiliki otoritas keilmuan agama yang sah untuk merumuskan pandangan keagamaan demi kemaslahatan masyarakat.
Secara konsisten, beliau menyuarakan isu-isu krusial yang menyentuh kehidupan nyata:
* Perlindungan Perempuan dan Anak: Menolak segala bentuk kekerasan dan kezaliman berbasis agama maupun sosial.
* Kesetaraan dalam Rumah Tangga: Mendorong hubungan keluarga yang berkeadilan dan saling menghormati (mubaadalah).
* Akses Pendidikan: Memastikan anak perempuan mendapatkan hak pendidikan setinggi-tingginya.
Inspirasi dan Refleksi bagi Generasi Muda
Bagi Nyai Badriyah, Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Menjadi ulama bukan sekadar menghafal teks keagamaan, melainkan bagaimana membumikan teks tersebut untuk membawa keadilan dan kedamaian nyata di tengah masyarakat.
Perjalanan hidup dan pemikiran Nyai Badriyah Fayumi memberi refleksi penting bagi generasi muda masa kini: bahwa memegang teguh nilai-nilai keagamaan dapat berjalan seirama dengan pemikiran yang maju, inklusif, dan responsif terhadap tantangan zaman.
