Konten dari Pengguna

G30S PKI: Belajar dari Sejarah Kelam Tanpa Terjebak Satu Versi Cerita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fia Oktaviyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: DoK. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: DoK. Pribadi

G30S PKI adalah salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia, dan hampir semua orang pernah mendengarnya sejak bangku sekolah. Namun mengetahui nama sebuah peristiwa tidak sama dengan memahaminya. Setiap akhir September, kita mengenang malam ketika enam jenderal dan seorang perwira muda gugur. Pertanyaannya, sudahkah kita memahami apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya?

G30S PKI: Peristiwa yang Tidak Boleh Dilupakan

Pada dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan menculik dan membunuh sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Para korbannya adalah Ahmad Yani, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo Siswomihardjo, dan Soeprapto, serta Lettu Pierre Tendean. Jenazah mereka ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta.

Di luar nama-nama itu, ada korban lain yang sering luput disebut, seperti Brigadir Karel Satsuit Tubun dan Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal A.H. Nasution yang masih kecil. Mengenang mereka adalah bentuk penghormatan yang wajar dan layak dilakukan.

Sejarah Tidak Berhenti di Lubang Buaya

Salah satu kelemahan cara kita belajar sejarah adalah berhenti pada satu malam. Padahal, peristiwa itu memicu rangkaian kejadian yang dampaknya jauh lebih luas. Dalam beberapa bulan sesudahnya, terjadi pembunuhan massal di berbagai daerah terhadap orang-orang yang dituduh terkait komunis. Jumlah korbannya masih diperdebatkan para peneliti, dengan perkiraan dari ratusan ribu hingga sekitar satu juta jiwa. Banyak di antaranya tidak pernah diadili. Ribuan orang lain ditahan tanpa proses hukum yang jelas, dan keluarga mereka menanggung stigma selama puluhan tahun.

Negara sendiri telah mengakui bahwa peristiwa 1965-1966 termasuk pelanggaran hak asasi manusia berat di masa lalu. Pengakuan itu tidak menghapus tragedi para jenderal. Keduanya adalah bagian dari sejarah yang sama, dan mengakui yang satu tidak berarti mengecilkan yang lain.

Mengapa Narasi Tunggal Berbahaya

Selama puluhan tahun, versi resmi G30S PKI diajarkan secara seragam lewat buku pelajaran, upacara, dan film. Setelah reformasi, ruang untuk membahasnya memang lebih terbuka. Para sejarawan mengajukan berbagai tafsir tentang siapa yang merancang peristiwa itu, apa peran tiap pihak, dan bagaimana kekuasaan berpindah sesudahnya.

Perbedaan tafsir ini tidak perlu ditakuti. Ilmu sejarah memang bekerja dengan cara itu: mengumpulkan bukti, menguji kesaksian, dan merevisi kesimpulan ketika ditemukan data baru. Yang berbahaya adalah ketika satu versi dianggap tak boleh dipertanyakan, karena masyarakat akhirnya menerima cerita tanpa pernah melatih nalar kritis.

Peringatan yang Bermakna

Peringatan G30S PKI akan lebih bermakna bila tidak berhenti pada ritual tahunan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Pertama, membaca lebih dari satu sumber. Buku sejarah, arsip, penelitian akademik, dan kesaksian saksi mata sebaiknya dibaca berdampingan.

Kedua, memisahkan fakta dari propaganda. Sebuah film atau pidato dapat menggugah emosi, tetapi tidak otomatis menjadi catatan sejarah yang utuh.

Ketiga, memberi ruang bagi semua korban. Empati yang adil tidak memilih siapa yang pantas dikenang dan siapa yang harus dilupakan.

Keempat, mengajarkannya dengan mengundang pertanyaan. Generasi muda perlu dibiasakan bertanya "mengapa" dan "bagaimana," bukan hanya menghafal tanggal dan nama.

Sejarah sebagai Cermin

Pelajaran terbesar dari G30S PKI mungkin bukan soal siapa yang salah, melainkan bagaimana polarisasi, kecurigaan, dan kekerasan bisa menyeret bangsa ke tragedi yang menelan banyak nyawa. Ketika perbedaan politik dipandang sebagai ancaman yang harus dihabisi, yang kalah pertama adalah kemanusiaan.

Karena itu, mengenang G30S PKI seharusnya membuat kita lebih waspada terhadap ujaran kebencian, hoaks, dan stigma yang memecah belah. Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan cermin agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama.