Konten dari Pengguna

Suara-Suara Batin Lukisan Abstrak dan Spiritualitas Lokal

Bambang Asrini Widjanarko

Bambang Asrini Widjanarko

penulis seni dan pelukis

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Asrini Widjanarko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah dunia yang rapuh, seperti secarik kertas yang tercabik dan luruh, penuh konflik kekerasan, mungkin saatnya berlabuh pada suara-suara batin seni abstrak.

Peter Schjeldahl seorang kritikus dari majalah yang menampilkan salah satu sisi terkuat jurnalisme seni dan esai serta kritik budaya, The New Yorker, pada 2018 menulis pameran retrospeksi Hilma af Klint. Seorang mistikus dan pelukis perempuan, di Gugenheim Museum dengan pernyataan yang menyentuh:

“Manusia yang fana niscaya terbelenggu waktu, namun gagasan eksperimental yang dianggap merengkuh keabadian mendorong seniman-seniman dan para intelektual punya cakrawala luas ke depan. Saat akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Perang Dunia Pertama mengoyak dunia dan af Klint ada di sana” ujar Scheldahl.

Kritikus gaek itu wafat pada 2022 setelah mengabdi di The New Yorker sejak 1998 dan tahun ini ia mungkin tak mengira dunia makin tak menentu, konflik dan perang dunia ke-3 mengintai.

Penulis tergugah untuk mencatat sejumlah pengalaman personal, tatkala bertemu pelukis muda dari Spanyol Carmen Ceniga Prado di sebuah galeri anyar Ara Contemporary di Jakarta Selatan Juli ini. Ia mementaskan pameran solonya yang elok sampai Agustus, lukisan-lukisannya yang subtil simbol internalisasi abstraktif tentang tubuh dan perasaan-perasaannya .

“saya rasa lukisan saya berhutang tidak pada Kadinsky namun pada af Klint. Lukisan ini, seperti tafsiran Anda bisa jadi metafora ekspresi-ekspresi batiniah tentang sumber kedamaian bukan di bumi dan di langit, tapi diatas awan. Langit masih menyisakan hujan, petir dan badai, namun diatas segalanya adalah kosong dan selayaknya ada di hati dan tubuh kita”, katanya.

Af Klint bagi Carmen adalah ‘ibu seni lukis abstrak’ lebih dari Wassily Kandinsky yang menjadi ‘bapak seni rupa abstrak dunia’ berbarengan dengan Piet Mondrian dan kolega seniman lain yang sezaman pada abad ke-20, Kazimir Malevich. Dua tokoh seniman terakhir meyakini pandangan Kandinsky di bukunya yang sohor itu, Concerning The Spiritual in Art.

Warisan Abstrak Spiritual af Klint

Carmen yang satu dasawarsa ini tinggal di Asia Tenggara dan Asia mengakui bahwa ‘Barat’ cenderung lebih memakai nalar dalam mempresentasikan seni lukis abstrak yang membeda dengan Asia.

Ia yang juga mendalami filosofi Timur, menampilkan gambaran lembut dan transparan dalam lukisannya. Carmen membawa abstraksi penjelajahan internal tubuh, yang mungkin semacam gambaran primitif tak terbahasakan. Komposisi bentuk-bentuk organik dengan nada yang halus.

“Lukisan saya karena itu membeda dengan Kandinsky, yang acapkali ia membuat bentuk-bentuk geometrik dan pola sudut-sudut tajam. Saya lebih mengetengahkan pendaran cahaya, mungkin seperti bayang-bayang warna warna, yang mengundang pengalaman meditatif selain persepsi yang dekat dengan Klint”, ujarnya dalam wawancara singkat dengan penulis.

Af Klint adalah seorang penganut Theosofi, sebuah perpaduan paham okultis, membuka gagasan spiritualitas Timur, terutama Hindu dan Budha pada dunia Barat. Dari sejumlah penyatuan keyakinan, reliji-reliji dan filsafat Timur, Blavatsky yang jenial itu membuat tenar faham Theosofi ke sepenjuru jagad, termasuk Indonesia yang mempengaruhi pergerakan politik Boedi Oetomo zaman Hindia Belanda.

Kembali pada Schjeldahl, kritikus gaek itu menulis bahwa Klint muak dengan orang-orang sezamannya yang kurang memahami lukisannya. “Pameran retrospeki di Gugenheim ini sepertinya meyakinkan bahwa pertaruhannya untuk berharap pada apresian seni masa depan nampaknya akan terwujud. Dengan mereka-mereka yang lebih muda dan selaras secara spiritual. Yang mungkin itu generasi setelah kita?’’ujarnya berharap.

Tak pelak, nama Ay Tjoe Christine menyembul ke permukaan, tatkala membincangkan bagaimana af Klint menemukan dunia batiniah dan energi emosi.

Pada 2020 dan 2021, dalam pameran solonya di Shanghai dan sekaligus di Tokyo, saat Covid-19 memporak-porandakan bumi, Ay Tjoe menggambarkan manusia-manusia sedang sekarat.

Jika af Klint tersentak dengan fenomenan trumatik dan teror Perang Dunia ke-I, maka Ay Tjoe seperti dikutip di South China Morning Post dan juga galeri Ota Fine Art mengetengahkan gambaran makhluk-makhluk dan spesies ganjil. Yang menginspirasi Ay Tjoe dan karya-karyanya menggambarkan ‘mati-hidup’ manusia merespons pandemi.

Ia mencomot bentuk primitif biomorfik, memulainya pada puncak awal pandemi pada 2020. Menampilkan serial lukisan dan instalasi—yang sempat tampil di ArtJog 8, 2022’ mengisahkan kondisi metabolisme kehidupan yang disebut kriptobiosis, yang merujuk periode ketidakaktifan ekstrem yang dialami suatu organisme untuk bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang keras.

Wakil seniman perempuan yang berusia belum senior ini dari Indonesia yang mengglobal, mengaitkan pengalaman mengenaskan kita selama pandemi Covid dengan kriptobiosis. Ia menafsirkan karantina wilayah yang diberlakukan dengan ketat menghasilkan berkurangnya mobilitas manusia untuk berefleksi dan relaksasi.

Di Tokyo, Ay Tjoe mempresentasikan abstraksi Tardigrada, hewan akuatik mikroskopis, organisme paling tangguh di bumi. Mampu bertahan hidup dalam kondisi direbus, dibekukan, dan terpapar radiasi ekstrem serta tekanan tinggi.

Tardigrada yang paling tangguh dapat bertahan dalam fase kriptobiosis hingga 10 tahun. Ay Tjoe sangat terinspirasi oleh kemampuan makhluk ini untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Carmen Ceniga Prado, di studionya, di depan karya-karyanya. Sumber: Carmen Ceniga Prado
Hilma af Klint - 1907 - The Ten Biggest - No 7, sumber: e http://www.tate.org.uk/context-comment/articles/first-abstract-artist-and-its-not-kandinsky
Suci[to Adi di studionya dan karya abstrak miliknya. Sumber: Studio Sucipto Adi

Pelukis Abstrak Tanah Air Yang lain

Pada hakikatnya, konsep spiritualitas pada seni kontemporer dalam konteks yang lain, tak berupaya mengungkap realitas batin yang sebenar-benarnya. Kritikus Donald Kuspit, menegaskan berbedanya kaum avant-gardis seperti Mondrian dan Malevich selain Kandinsky dengan esainya Reconsidering the Spiritual in Art.

Bahwa seniman abstrak di era seni kontemporer tak memakai narasi-narasi dari berbagai tradisi reliji secara jelas. Yang dikaitkan oleh eksistensi af Klint sebagai misal, namun ada irisan-irisan kaitan yang menampak berupa pola-pola dan cara mengeksplorasi gagasan yang datang dari batiniah.

Ini yang membedakan Klint dan rekan sezamannya yang ambisius menemukan bahasa visual anyar dengan mengenalkan beragam ikonografi baru.

Seniman-seniman kontemporer, seperti yag ditemui oleh penulis, pelukis abstrak yang lebih satu dasawarsa ini tinggal di Bali, Sucipto Adi sangat mengapresiasi ikon-ikon tradisi meski acapkali tak memberi ruang-ruang paling utama yang jelas merujuk pada makna aselinya.

“Saya tertarik pada menggali gagasan-gagasan lokal dan terhubung dengan kondisi batiniah. Saya mempelajari beberapa ritual dan pengalaman-pengalaman spiritual meskipun pada akhirnya itu diolah dunia internal saya yang paling abstraktif” katanya dalam wawancara dengan penulis.

Adi dengan penulis membincangkan bahwa mulai satu dasawarsa ini terjadi dinamika kembalinya para perupa kita menggali kemungkinan anasir-anasir lokalitas dengan mewujudkan kembali apa yang disebutnya sebagai seni asbtrak yang berakar di teritori Timur.

Baik Sucipto Adi, Ay Tjoe bahkan Carmen mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan dalam praktik seni abstrak di era yang mengombinasikan karakter ludis, yakni perpaduan dan dialektika antara penggunaan pastische---serpihan-serpihan fragmen simbol-simbol tertentu layaknya mozaik dalam sejarah peradaban seni rupa global, ironi---sebuah kontradiksi dan teka-teki pun ‘kegilaan’ zaman, yakni menfsirkan ulang sebuah teks-teks yang sama sekali tak berfundamen dalam konteks yang tetap.

Seniman-seniman abstrak hari ini mampu mengolah dan mempermainkan berbagai citra-citra spiritualistik dalam rentang waktu yang berlalu, saat sama secara artistik membawa asosiasi dan manipulasi emosi sekaligus. Yang bisa jadi, seniman-seniman abstrak ‘paska tradisi’ menggelar spektrum permainan bahasa semantik visual semata.

Yang dilakukan, para perupa itu mungkin menautkan praktik berkaryanya tak hendak mengupas tuntas tentang transendensi dalam diri. Namun, lebih pada mengaktivasi rangkaian reflektif atas fenomena intimasi batin dan dirinya dengan isu tentang yang sosial pun yang spiritual.