Kemustahilan Jadi Nyata : Tiba-tiba Kerja di Fore Kopi Indonesia, Ko Bisa?

University of Pamulang communication student
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Veronika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kemustahilan jadi nyata, percaya ga percaya ini REAL kerja Tanpa Ordal!!

Diawali kemustahilan diakhiri kebanggaan, mungkin inilah yang cocok untuk menggambarkan isi hati Si Boru saat melihat training invitation di whatsappnya. Si Boru tidak pernah tertarik bahkan kepikiran untuk menjadi seorang barista , apalagi kerja di Fore terasa seperti halusinasi- gaji yang layak, pelatihan terstruktur, dan suasana kerja yang membuatnya betah. Sekarang ketika pelanggan menyapa dengan nama, Si Boru sering bertanya pada dirinya sendiri, ko bisa kerja di Fore? Yess, Fore Kopi Indonesia Tbk itu?!! Flexing dikit kali haha..
Backgroundnya bukan lulusan sekolah perhotelan, tata boga dan sejenisnya , ia hanyalah seseorang yang sempat bekerja sebagai housekeeping, server dan back up bar setelah lulus sekolah tahun 2022 hingga awal 2026 ini. Suatu saat ketika Si Boru yang hidup sendiri, ngekost, tadinya kerja sambil kuliah merasa sudah tidak punya tempat untuk bercerita, tempat untuk 'pulang', bingung besok makan apa, dari situlah muncul rasa kekhawatiran akan nasib hidupnya, ia mulai apply semua loker yang ia lihat di sosmed, mulai dari akun-akun loker ia cek, kirim pesan lewat gmail, whatsapp, hingga isi gform, semua cara telah ia lakukan. Begitu lowongan barista di Fore muncul ia mendaftar tanpa banyak pertimbangan karena harapan terbesarnya saat itu yang penting diterima kerja dulu.
Setelah melewati masa rekruitment ternyata Si Boru baru tahu bahwa di Fore ada perhatian khusus pada teknik pembersihan, perawatan alat hal-hal teknis, dll, yang harus diperhatikan. Modul cara membersihkan microfiber, equipments, dan standar tata kerja lainnya tercantum pada materi pelatihan internal. Proses pelatihan yang terstruktur membantu Si Boru memahami bahwa kerja sebagai barista bukan sekadar menuang kopi melainkan menjaga konsistensi rasa dan pengalaman pelanggan. Lebih dari sekadar SOP, Si Boru menyebut suasana tim sebagai faktor penting karena memiliki rekan-rekan yang sabar mengoreksi kesalahan, senior yang memberi ruang untuk bertanya, dan rutinitas evaluasi mingguan membuat proses belajar terasa aman. Di sini kegagalan awal dianggap sebagai bagian dari proses untuk belajar, bukan aib yang harus disembunyikan. Tidak semua hal harus berjalan mulus, Si Boru masih bergulat dengan tekanan jam sibuk, permintaan pelanggan yang unik, dan kebutuhan untuk menjaga konsistensi rasa. Namun ia belajar mengelola semua itu lewat teknik sederhana- prioritas tugas, komunikasi tim, dan jeda singkat untuk menenangkan diri. Tantangan ini bukan tanda kegagalan melainkan bagian dari pekerjaan yang membuatnya terus berkembang apalagi mengingat Fore masuknya susah, jadi kalau sudah masuk ya benar-benar harus serius, (flexing dikit kali).
Kadang yang tampak mustahil hanya butuh satu langkah berani untuk jadi nyata.
Nahh.. Dari pengalaman Si Boru, terlihat bahwa kombinasi keberanian mencoba, usaha dan keberhasilan kecil yang konsisten mampu mengubah keraguan menjadi kompetensi. Bagi siapa pun yang bertanya “ko bisa kerja di Fore?”, jawabannya ini bukan judi, ini bukan keberuntungan tanpa usaha melainkan rangkaian langkah yang bisa diikuti siapa saja yang bersedia belajar, mau mencoba dan bertahan. Semoga kisah Si Boru ini dapat memberikan secercah cahaya bagi calon orang-orang sukses dimasa depan.
