Konten dari Pengguna

Dari Kearifan Lokal Menuju Kemandirian

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nisa Aolia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Edupreneurship Sebagai Jembatan Pendidikan Kreatif dan Ekonomi Masyarakat Nusantara.

iluatrasi pendidikan kreatif (sumber:https://unsplash.com/id/images/stock/non-copyrighted)
zoom-in-whitePerbesar
iluatrasi pendidikan kreatif (sumber:https://unsplash.com/id/images/stock/non-copyrighted)

Perubahan dalam pendidikan nasional yang diperbarui melalui Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menghidupkan kembali kearifan lokal di lingkungan sekolah. Salah satu program utamanya adalah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal, memahami, dan menghargai kebudayaan yang ada di lingkungan mereka. Namun, jika kita berani melihat realitas di lapangan tanpa terlalu terikat pada formalitas, masih terdapat persoalan yang perlu diperhatikan. Muatan lokal dan proyek kebudayaan di sekolah sering kali hanya berhenti pada aspek administratif. Kebudayaan biasanya hanya ditampilkan secara musiman, misalnya melalui pameran seni atau festival kuliner sekolah yang membutuhkan tenaga dan biaya cukup besar. Kegiatan tersebut kemudian berakhir setelah proses penilaian selesai dan nilai rapor dibagikan. Akibatnya, berbagai karya kreatif peserta didik hanya menjadi pajangan yang tersimpan di gudang sekolah tanpa memiliki keberlanjutan ekonomi.

Penerapan nilai-nilai kebudayaan yang diintegrasikan dengan kemampuan bertahan hidup di era modern menjadi penting agar kebudayaan tetap relevan di tengah derasnya arus globalisasi. Kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu yang hanya dilihat, dikagumi, dianggap kuno, atau dipajang di museum tanpa menerapkan nilai-nilai luhurnya. Sebaliknya, kearifan lokal perlu dijadikan salah satu fondasi dalam menyusun strategi masa depan bangsa. Melalui edupreneurship, kearifan lokal tidak hanya dapat dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Nusantara, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi penggerak ekonomi kreatif yang memiliki daya saing.

Hambatan pendidikan kita saat ini terlihat dari adanya pemisahan antara pembelajaran kebudayaan dan realitas ekonomi global. Di satu sisi, peserta didik didorong untuk mengagumi kearifan lokal, mencintai cita rasa kuliner tradisional, dan bangga terhadap kekayaan wisata Nusantara. Namun, di sisi lain, terdapat beberapa persoalan yang menyebabkan muatan lokal masih sering terjebak dalam aspek administratif semata.

Pertama, dari sisi pendidikan, para pendidik yang mengajarkan muatan lokal terkadang belum memperoleh pelatihan kompetensi yang mendalam mengenai kebudayaan yang diajarkan. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam membentuk peserta didik agar mampu memahami dan melestarikan kearifan lokal. Bagaimana peserta didik dapat diarahkan untuk menjaga kearifan lokal apabila pendidiknya sendiri memiliki keterbatasan literasi mengenai budaya tersebut? Oleh karena itu, peningkatan kompetensi pendidik mengenai kearifan lokal menjadi bagian penting dalam keberhasilan pelestarian budaya melalui pendidikan.

Kedua, sistem penilaian masih menghadapi tantangan dalam aspek evaluasi dan pengukuran. Sekolah sering kali mengalami kesulitan dalam mengukur sejauh mana peserta didik memahami kearifan lokal serta mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Pada akhirnya, penilaian dapat lebih berfokus pada angka yang tercantum dalam lembar ujian daripada kemampuan peserta didik dalam menghasilkan karya dan menerapkan nilai-nilai kebudayaan.

Ketiga, keterampilan peserta didik belum sepenuhnya diakui atau diintegrasikan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia industri. Dalam pandangan industri konvensional, keterampilan mengolah bahan lokal menjadi karya tradisional, seperti kerajinan anyaman, maupun mengolah pangan lokal menjadi kuliner khas terkadang masih dianggap kurang menjanjikan secara finansial. Padahal, apabila dikembangkan melalui kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan teknologi digital, potensi tersebut dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.

Melihat berbagai permasalahan tersebut, edupreneurship dapat hadir sebagai jembatan untuk memperkuat hubungan antara pendidikan, kebudayaan, kreativitas, dan kemandirian ekonomi. Lembaga pendidikan perlu berani mengembangkan cara pandang baru terhadap pembelajaran kearifan lokal. Salah satu gagasan yang dapat diterapkan adalah konsep “Satu Sekolah, Satu Produk Budaya Digital.” Gagasan tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, tetapi berpotensi memberikan dampak yang besar terhadap keberlanjutan pembelajaran dan pengembangan ekonomi kreatif peserta didik.

Kearifan Lokal Dalam Edupreneurship

Salah satu contoh yang dapat dijadikan inspirasi adalah pendidikan dan pelatihan mengenai warisan budaya takbenda batik Indonesia bagi peserta didik di berbagai jenjang pendidikan. Berdasarkan sumber UNESCO yang dicantumkan dalam naskah ini, pendidikan dan pelatihan batik di Pekalongan dan sekitarnya menjadi salah satu upaya pelestarian budaya yang dipilih sebagai salah satu Good Safeguarding Practices pada tahun 2009. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi salah satu sarana penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya melalui proses pembelajaran dan pelatihan.

Lembaga pendidikan tidak perlu memaksakan peserta didik untuk memahami seluruh kebudayaan daerah secara bersamaan hingga akhirnya pemahamannya menjadi tidak mendalam. Sekolah dapat berfokus pada satu bentuk kearifan lokal yang paling unggul dan memiliki keunikan tinggi (unique selling point) sesuai dengan karakteristik wilayahnya. Kearifan lokal tersebut dapat berupa produk kerajinan tangan, ramuan herbal, maupun kuliner khas yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif. Selanjutnya, proyek kreatif tersebut dapat diberikan kepada peserta didik melalui sistem mini koperasi sekolah.

Dalam penerapannya, ruang kelas dapat dikembangkan menjadi simulasi lingkungan industri yang profesional dan kolaboratif. Model pembelajaran tersebut sekaligus dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan proses evaluasi dan memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan dunia kerja. Peserta didik dapat dibagi berdasarkan minat, kemampuan, dan bakat yang dimiliki.

Kelompok peserta didik yang memiliki minat dalam bidang sains dapat berperan sebagai tim riset dan produksi yang bertugas menjaga kualitas serta keautentikan produk. Kelompok yang memiliki kemampuan di bidang seni dapat berfokus pada desain dan menciptakan kemasan (packaging) yang menarik, estetis, dan unik sehingga mampu meningkatkan minat konsumen. Sementara itu, peserta didik yang memiliki kemampuan dalam bidang komunikasi dapat berperan sebagai kreator konten dan pengelola toko digital yang bertugas mengembangkan pemasaran melalui platform media sosial. Melalui model tersebut, proses evaluasi pembelajaran dapat dilakukan berdasarkan kinerja nyata peserta didik, bukan hanya berdasarkan kemampuan menghafal materi.

Capaian akademik peserta didik tidak lagi hanya diukur melalui ujian hafalan yang bersifat abstrak, tetapi juga melalui indikator kinerja nyata, seperti kemampuan merencanakan, melaksanakan, dan mengelola suatu proyek bisnis berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman dalam bekerja sama, berkreasi, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta mengembangkan suatu produk yang memiliki nilai ekonomi.

Stigma bahwa keterampilan berbasis budaya tidak memiliki masa depan juga dapat dikurangi melalui penerapan edupreneurship digital. Peserta didik dapat dilatih untuk menjadi individu yang kreatif dan mandiri serta memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang kerja. Pemanfaatan teknologi digital juga dapat mengubah gawai yang sebelumnya hanya digunakan sebagai sarana hiburan dan media sosial menjadi alat untuk menghasilkan karya serta menciptakan nilai ekonomi.

Pada akhirnya, perjalanan dari kearifan lokal menuju kemandirian bukan sekadar tentang mewajibkan peserta didik mengenakan pakaian adat pada hari tertentu. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kurikulum pendidikan mampu memberikan daya hidup ekonomi pada nilai-nilai budaya yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal seharusnya tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, dan peluang yang dapat dikembangkan oleh generasi muda.

Mengintegrasikan edupreneurship digital ke dalam pembelajaran muatan lokal melalui Kurikulum Merdeka dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pelestarian kearifan lokal dan kebudayaan di tengah derasnya arus globalisasi. Ketika pendidikan kreatif mampu mengubah warisan budaya masa lalu menjadi sumber penghidupan yang mandiri dan membanggakan bagi generasi muda di berbagai daerah, pada saat itulah kemandirian ekonomi masyarakat Nusantara dapat semakin berkembang.

Mari kita berhenti sekadar merayakan kebudayaan di atas panggung melalui festival yang bersifat formal dan sesaat. Sudah saatnya kita bersama-sama menjadikan kearifan lokal sebagai salah satu fondasi bagi kesejahteraan, masa depan yang gemilang, dan kemandirian bangsa Indonesia. Dengan pendidikan yang mampu menghubungkan budaya, kreativitas, teknologi, dan kewirausahaan, kearifan lokal tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi juga dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi generasi muda dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara. (2023). Muatan Lokal dalam Pendidikan, Meningkatkan Keberagaman dan Kearifan Lokal di Era Global. Diakses dari situs resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Telkom University. P5 Kurikulum Merdeka: Pengertian, Tujuan dan Contoh Penerapannya.

UNESCO. Education and Training about Indonesian Batik Intangible Cultural Heritage for Elementary, Junior, Senior, Vocational School and Polytechnic Students, in Collaboration with the Batik Museum in Pekalongan.

BIODATA

Nama Lengkap: Nisa Aolia

Program Studi: S1 Pendidikan Ekonomi

Perguruan Tinggi: Universitas Pamulang