Konten dari Pengguna

Pasar sebagai Destinasi Wisata Kuliner

Jasmine Eka Octaviani

Jasmine Eka Octaviani

Mahasiswa Destinasi Pariwisata, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jasmine Eka Octaviani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasar selama ini dikenal sebagai tempat berbelanja kebutuhan pangan harian, seperti sayuran, lauk-pauk, bumbu dapur, hingga sembako. Suasana pasar identik dengan keramaian pagi hari, ketika para pembeli dan pedagang saling berinteraksi serta saling melengkapi kebutuhan satu sama lain. Kehadiran pasar tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Seiring perkembangan zaman, berbagai inovasi dan kreativitas terus bermunculan. Salah satunya terlihat dari pemanfaatan pasar yang kini menjadi ruang bagi para pedagang makanan dan minuman. Berbagai kuliner khas daerah hingga makanan kekinian yang sedang viral turut meramaikan suasana pasar, menjadikannya sebagai destinasi wisata kuliner yang semakin diminati.

Di Indonesia, banyak pasar berkembang menjadi tujuan kuliner. Keberadaan pasar-pasar ini mempermudah wisatawan untuk menemukan makanan khas daerah, kuliner kekinian, hingga pilihan kuliner yang ramah di kantong. Kota-kota besar seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Malang memiliki pasar populer yang strategis untuk berburu kuliner lokal.

Beberapa pasar yang tengah viral di antaranya adalah Pasar Atom di Surabaya, Pasar Ngasem di Yogyakarta, dan Pasar Klojen di Malang. Masing-masing pasar memiliki ciri khas tersendiri yang mampu menarik perhatian wisatawan. Pada umumnya, pasar-pasar ini buka sejak pagi hari dan banyak kuliner sudah habis menjelang siang. Suasana semakin ramai pada jam sarapan dan akhir pekan, hingga tak jarang membuat antrean panjang di beberapa UMKM.

Salah satu contoh menarik adalah Pasar Ngasem Yogyakarta. Pasar ini menyediakan kuliner khas seperti gudeg, pecel, jenang, bakpia, wingko, apem beras, carabikang, es dawet dan masih banyak lagi. Hidangan-hidangan tersebut merupakan kuliner legendaris yang wajib dicoba karena cita rasanya yang khas dan harga yang terjangkau.

Di dalam buku Food and Place karya Sutton (2001), terdapat ungkapan menarik yang relevan dengan fenomena ini: “Food is a gateway to understanding culture and everyday life.” Kutipan tersebut menggambarkan bahwa makanan termasuk yang ditemukan di pasar bukan hanya sekadar santapan, tetapi juga pintu untuk memahami budaya dan kehidupan masyarakat setempat.

Pasar Ngasem & Pasar Klojen: 6 September 2025 & 3 November 2025 (Original Picture Jasmine Eka Octaviani)

Sebagian orang mungkin bertanya, “Apakah pasar layak dijadikan tempat makan?” Tentu saja layak. Banyak pasar kini telah ditata lebih rapi, bersih, dan nyaman, seperti Pasar Ngasem yang menghadirkan suasana Yogyakarta yang hangat dan khas. Para penjual pun dikenal ramah dan informatif kepada pengunjung, sehingga memberikan pengalaman berkesan pada saat bersantap dan berbelanja.

Selain menjadi tempat wisata, aktivitas kuliner di pasar memberikan dampak positif bagi para pedagang. UMKM dapat berkembang, pendapatan meningkat, dan ragam kuliner Indonesia semakin dikenal, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Pasar menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan rasa Nusantara yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat luas.

Ke depannya, diharapkan masyarakat dan pemerintah dapat terus berkontribusi dalam pengembangan serta promosi pasar sebagai destinasi wisata kuliner. Dengan demikian, kita turut melestarikan kuliner khas Indonesia agar tidak tergeser oleh makanan kekinian dan dapat terus dinikmati oleh generasi selanjutnya.