Konten dari Pengguna

Lebih dari Sekadar Rasa: Menguak Pondasi Kebahagiaan Abadi ala Seligman

Moch Rafiansyach H

Moch Rafiansyach H

Sarjana Pendidikan dan Sastra Inggris Universitas Muhammadiyah Surabaya I Pengamat Sosial

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moch Rafiansyach H tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana bahagia, photo by Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Suasana bahagia, photo by Shutterstock

Kebahagiaan adalah dambaan setiap insan. Sejak awal peradaban, manusia tak henti-hentinya mencari tahu bagaimana meraihnya. Di tengah lautan definisi dan pendekatan yang beragam, Martin Seligman, bapak psikologi positif, tampil dengan kerangka teoritisnya yang revolusioner. Karyanya tidak hanya mendefinisikan ulang kebahagiaan, tetapi juga menawarkan peta jalan yang praktis untuk mencapainya, bukan sekadar sebagai perasaan sesaat, melainkan sebagai sebuah kondisi keberadaan yang hakiki.

Seligman awalnya mengemukakan konsep Authentic Happiness, yang berpusat pada tiga komponen utama: hidup yang menyenangkan (the pleasant life), hidup yang baik (the good life), dan hidup yang bermakna (the meaningful life). Hidup yang menyenangkan berkaitan dengan pengalaman emosi positif dan kenikmatan. Ini adalah dimensi kebahagiaan yang paling dangkal, namun tetap penting. Hidup yang baik di sisi lain menekankan pada penggunaan kekuatan karakter dan bakat seseorang untuk mencapai keadaan flow, yakni kondisi ketika seseorang sepenuhnya tenggelam dalam aktivitas dan merasa tertantang sekaligus terampil. Terakhir, hidup yang bermakna adalah puncak dari kebahagiaan, di mana individu menggunakan kekuatan karakternya untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, entah itu komunitas, tujuan ideal, atau bahkan spiritualitas.

Elemen Esensial Seligman

Seligman tidak berhenti di situ. Ia mengembangkan model yang lebih komprehensif, PERMA, yang merupakan akronim dari lima elemen esensial untuk kesejahteraan:

- P (Positive Emotion): Mengalami emosi positif seperti kegembiraan, syukur, inspirasi, dan harapan. Ini bukan berarti menolak emosi negatif, melainkan secara aktif mencari dan menikmati momen-momen positif dalam hidup.

- E (Engagement): Terlibat sepenuhnya dalam aktivitas yang menantang dan menyerap perhatian, seringkali mengarah pada pengalaman flow. Ketika kita sepenuhnya fokus pada apa yang kita lakukan, kita merasakan koneksi yang mendalam dengan diri sendiri dan dunia di sekitar kita.

- R (Relationships): Membangun dan memelihara hubungan positif dengan orang lain. Manusia adalah makhluk sosial, dan koneksi yang kuat dengan keluarga, teman, dan komunitas adalah fondasi kebahagiaan yang tak tergantikan.

- M (Meaning): Memiliki tujuan atau makna dalam hidup yang lebih besar dari diri sendiri. Ini bisa berupa kontribusi pada masyarakat, mengejar cita-cita, atau memiliki keyakinan spiritual. Menemukan makna memberikan arah dan alasan untuk menjalani hidup.

- A (Accomplishment): Merasakan pencapaian dan keberhasilan dalam upaya yang dilakukan. Ini bukan hanya tentang memenangkan penghargaan, tetapi juga tentang menetapkan tujuan yang realistis dan merasakan kepuasan saat mencapainya, sekecil apa pun itu.

Kajian teoritis Seligman mengubah paradigma psikologi dari hanya fokus pada patologi mental menjadi eksplorasi potensi manusia untuk berkembang. Ia menegaskan bahwa kebahagiaan bukan hanya hasil dari ketiadaan penderitaan, melainkan sesuatu yang dapat secara aktif dibangun dan dipupuk. Ini adalah kabar baik, sebab berarti kita memiliki kontrol atas kesejahteraan kita sendiri.

Menerapkan PERMA dalam kehidupan sehari-hari bukanlah tugas yang mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Ini membutuhkan kesadaran diri, upaya yang konsisten, dan komitmen untuk berinvestasi pada aspek-aspek yang benar-benar penting. Dengan memahami dan mengintegrasikan prinsip-prinsip ini, kita dapat bergerak melampaui kebahagiaan yang bersifat sementara dan mendekati kebahagiaan hakiki, yang lebih stabil, mendalam, dan berkelanjutan. Kebahagiaan yang bukan hanya dirasakan, tetapi juga dijalani.

Menerapkan PERMA dalam Kehidupan

Pagi mentari lembut menyapa jendela kamar. Aroma kopi semerbak memenuhi dapur kecil. Ia tersenyum, bukan hanya karena aroma itu, tapi karena sengaja meluangkan waktu sejenak untuk benar benar menikmati momen tersebut. Diteguknya kopi perlahan, merasakan hangatnya menjalar, dan dalam benaknya, ia mencatat tiga hal yang disyukuri pagi itu: kopi yang nikmat, cuaca yang cerah, dan notifikasi pesan dari kerabat. Sebuah permulaan yang sederhana, namun penuh kesadaran positif.

Setelah sarapan, ia bergerak menuju meja kerjanya. Hari itu ada laporan penting yang harus diselesaikan. Alih-alih terdistraksi oleh media sosial atau email yang tak putus, ia sengaja mematikan notifikasi ponselnya dan menutup tab-tab yang tak relevan. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam data dan angka, merasakan tantangan intelektual yang memuaskan saat menyusun setiap bagian laporan. Waktu seolah lenyap, dan saat ia mengangkat kepala lagi, jam menunjukkan waktu makan siang. Sebuah pengalaman flow yang membuatnya merasa produktif dan berenergi.

Sore hari tiba, ia memiliki janji dengan sahabat lamanya. Mereka bertemu di sebuah kafe. Ia tidak terburu-buru, ia hadir sepenuhnya. Ia mendengarkan cerita sahabatnya dengan seksama, sesekali memberikan tanggapan empati, dan berbagi cerita tentang hari-harinya sendiri. Bukan sekadar basa-basi, tetapi interaksi yang tulus, penuh dukungan, dan tawa yang renyah. Baginya, ikatan persahabatan ini adalah jangkar yang menenangkan di tengah hiruk pikuk hidup.

Ketika senja mulai turun, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi panti asuhan di dekat rumahnya, tempat ia menjadi sukarelawan setiap pekan. Ia membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah dan membacakan cerita. Di sana, ia merasakan sebuah tujuan yang lebih besar. Melihat senyum di wajah anak-anak, mendengar tawa polos mereka, dan mengetahui bahwa sedikit waktunya bisa membawa perbedaan, memberikan makna mendalam bagi jiwanya. Ini adalah pengingat bahwa hidupnya bukan hanya tentang dirinya sendiri, tetapi juga tentang memberikan dampak positif pada dunia di sekelilingnya. Malam hari sebelum tidur, ia meninjau daftar tugas yang dibuat pagi itu. Laporan telah selesai dengan baik, ia berhasil belajar beberapa frasa baru dalam bahasa asing yang sedang dipelajari, dan ia juga berhasil melakukan workout singkat di rumah. Ia tersenyum puas. Ia merasakan kepuasan dari setiap pencapaian kecil, tidak peduli seberapa remeh kelihatannya. Setiap tanda centang di daftar itu adalah bukti dari upaya dan kemajuannya, yang memberinya dorongan positif untuk hari esok.

Begitulah hari demi hari, sebuah narasi yang terjalin dari benang-benang PERMA. Bukan berarti ia tidak pernah menghadapi tantangan atau merasakan emosi negatif, tetapi ia memiliki kompas internal yang membantunya menavigasi hidup. Setiap hari, ia secara sadar memilih untuk menumbuhkan emosi positif, terlibat sepenuhnya dalam apa yang ia lakukan, memelihara hubungan yang berarti, menemukan makna dalam kontribusinya, dan merayakan pencapaian yang menggerakkan. Baginya, kebahagiaan hakiki bukanlah tujuan yang tiba-tiba tercapai, melainkan sebuah perjalanan yang dijalani setiap hari, langkah demi langkah, penuh kesadaran dan kehadiran.