Konten dari Pengguna

Ketika Wisata Bertemu Realita: Cerita Tunawisma di Malioboro

Clara Taisyah Nurfazilah

Clara Taisyah Nurfazilah

Mahasiswi Farmasi Universitas Islam Indonesia

ยทwaktu baca 4 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Clara Taisyah Nurfazilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jalanan Malioboro, Yogyakarta. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jalanan Malioboro, Yogyakarta. Foto: Shutter Stock

Kota yang sudah melahirkan banyak orang sukses, hingga disebut sebagai kota pelajar, tetapi tidak sedikit pula ada seseorang yang terlihat seperti tunawisma di tempat wisata terkenalnya. Sebuah pertanyaan terpikir di benak kecilku: Apakah semua pendatang berpikir hal yang sama, saat pertama kali mengunjungi Malioboro?

Menginjakkan kaki di Yogyakarta sebagai mahasiswa yang akan berkuliah di Universitas Islam Indonesia, sekaligus kali pertama merasakan perpindahan kehidupan dari Balikpapan ke Yogyakarta, terkena culture shock mengenai fenomena yang terjadi di Malioboro. Bayanganku terhadap Malioboro akan terlihat estetis seperti unggahan-unggahan di media sosial.

Sehingga terciptalah ekspektasi yang aku bayangkan: berjalan kaki sambil mendengarkan alunan lagu yang samar terdengar, penuh ketenangan, dengan pemandangan yang indah, serta ditemani lampu-lampu jalan menambah kesan hangat.

Namun, kenyataan yang kutemui justru berbanding terbalik. Di antara keramaian wisatawan dan pedagang kaki lima, hadir pula sosok-sosok yang duduk termenung di pinggir jalan, tidur beralaskan dinginnya lantai jalanan, atau hanya sekedar melihat wisatawan yang berlalu lalang. Mereka adalah tunawisma, manusia yang terkena dampak dari kerasnya kehidupan kota.

Takut, risih, dan merasa bahwa mereka adalah ancaman itulah perasaan yang muncul saat pertama kali aku melihat mereka, selain itu terkadang aku mencium aroma kurang sedap saat sedang berjalan melewati Malioboro. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, perasaan itu berubah menjadi pertanyaan yang mengganggu pikiranku: bagaimana bisa Malioboro yang penuh dengan cahaya dan harapan, menyembunyikan kisah suram di dalamnya?

Fenomena ini membuka mata dan pikiranku, bahwa kota pelajar tidak hanya berarti pendidikan serta kesuksesan. Ada sisi lain dari Yogyakarta yang tak diunggah di media sosial, bagian yang rumpang, sunyi dan terasa hampa jika menjadi bagian dari mereka.

Aku pernah mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan salah satu dari mereka, saat sedang berada di Malioboro. Saat itu, aku berbicara bersama lansia berumur sekitar 60 tahun yang sedang duduk termenung di pojok bangunan. Setelah beberapa waktu, beliau menceritakan pengalaman hidupnya sebagai perantau dari Sumatera, bermodalkan sepeda sebagai transportasi dan surat dari dinas sosial untuk mendapatkan fasilitas gratis selama perjalanan. Beliau menghabiskan waktu selama enam bulan perjalanan dengan menaruh harapan penuh pada setiap langkahnya menuju Yogyakarta, tapi hasil yang beliau dapatkan malah hidup tanpa tujuan karena sudah lima tahun merantau yang didapat hanya kegagalan serta penolakan berujung terdampar di pinggiran Malioboro.

Setelah menyaksikan secara langsung fenomena yang sangat pilu ini, aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga untuk tidak langsung menilai sesuatu dari luar yang membuat aku berharap. Malioboro tidak hanya menjual pengalaman berwisata di tempat megah, tetapi juga menjadi bahan ajar kehidupan bahwa di tengah gemuruh riuh keramaian terdapat kesunyian. Rasa bahagia yang dibawa oleh wisatawan, berbeda dengan mereka yang berusaha menyembunyikan topeng kesedihannya, nyaman yang kita rasakan tidak semua mereka rasakan.

Menurutku, semua yang terjadi di Malioboro sudah termasuk masalah nasional yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah sekaligus masyarakat Indonesia, terlebih lagi Malioboro dianggap menjadi wajah untuk wisata Indonesia. Banyak wisatawan luar ataupun dalam negeri, berdatangan ke Malioboro untuk menenangkan pikiran dikala liburan, tapi yang mereka dapatkan malah perasaan khawatir karena melihat tunawisma yang bertebaran sepanjang mereka berjalan. Kesenjangan sosial terpapar jelas di tengah kehidupan kita. Ketika para wisatawan menikmati keindahan budaya dan semua tentang Yogyakarta, justru mereka para tunawisma dihadapkan dengan kenyataan pahit hidup tanpa jaminan untuk hari esok.

Jika Malioboro ingin terus menjadi ikon pariwisata yang membanggakan Indonesia, kita para penerus bangsa harus memastikan bahwa setiap bagian di dalamnya seimbang antara keindahan, keramahan, dan kesejahteraan tanpa berat sebelah. Sekarang sudah saatnya kita membuka mata dan berhenti menutup mata seolah tak peduli dengan peringatan keras ini. Mulailah dengan membuka hati untuk bersama-sama membenahi tamparan keras yang mulai terasa menyakitkan.

Aku percaya, bahwa setiap kota menyimpan cerita pilu yang berusaha mereka kemas dengan kelembutan. Begitu juga dengan kehidupan manusia, tunawisma bukan hanya bayang-bayang dari kota, mereka juga layak untuk dirangkul. Sebagai pendatang baru yang kini menjadi bagian dari Yogyakarta, harapanku besar terhadap Malioboro agar bisa menjadi ruang yang nyaman untuk semua orang, bukan hanya untuk mereka yang datang sebagai wisatawan, tapi juga untuk mereka yang berjuang melawan kerasnya kota.