Konten dari Pengguna

Overthinking Gak Ada Habisnya? Mungkin Hati Kita Cuma Butuh Pulang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kana Nilna Jannatin Alfafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang sering overthinking. (Sumber: pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang sering overthinking. (Sumber: pexels.com)

“Gimana kalau aku gagal lagi?”

“Kayaknya aku emang nggak bisa apa-apa deh.”

Pernah ngerasa begitu?

Capek, tapi bukan karena kerjaan. Lelah, tapi bukan karena aktivitas. Rasanya seperti kepala nggak pernah diam—terus berpikir, terus khawatir, terus menyalahkan diri sendiri. Tentang masa depan yang belum datang, kesalahan di masa lalu, atau keputusan yang belum sepenuhnya yakin.

Semua dipikirin. Semua diraguin. Semua terasa berat, meski kadang kenyataannya nggak seburuk itu.

Kita menyebutnya: overthinking. Dan ini bukan cuma masalah satu dua orang. Banyak dari kita yang hidup dalam mode ini setiap hari—tanpa disadari. Dari luar terlihat baik-baik saja, tapi di dalam, sedang ribut sama isi kepala sendiri.

Dunia Terlalu Bising, Kepala Jadi Ikut Berisik

Overthinking nggak datang tiba-tiba. Dunia yang serba cepat hari ini memang bikin kepala kita penuh.

Baru buka media sosial sebentar, langsung disambut pencapaian orang lain:

Ada yang baru lulus, langsung kerja.

Ada yang aktif di mana-mana, fotonya bareng tokoh-tokoh penting.

Ada yang jalan-jalan, tunangan, naik jabatan, dapat beasiswa, dan seterusnya.

Sementara kita? Masih ngerasa gini-gini aja.

Muncul suara-suara di kepala:

“Aku udah ngapain aja selama ini?”

“Kenapa hidupku nggak berkembang?”

“Apa aku tertinggal?”

Padahal sebenarnya, kita juga lagi berproses. Lagi bertumbuh. Lagi ngelewatin hal-hal penting—yang mungkin belum terlihat hasilnya sekarang.

Tapi media sosial cuma nampilin versi terbaik orang lain. Kita membandingkan dari sisi paling rapuh dalam diri sendiri. Dan itu... melelahkan.

Udah Coba Macam-Macam, Tapi Tetap Gak Tenang

Beberapa dari kita udah coba banyak hal buat ngusir overthinking.

Ada yang healing ke luar kota, staycation, tenggelam dalam drama, sibukin diri seharian. Awalnya memang terasa berhasil. Tapi saat malam tiba dan suasana jadi sepi, suara di kepala kembali ramai.

Dan hati... kembali terasa kosong.

Mungkin karena selama ini kita terlalu sibuk nenangin sekitar, tapi lupa ngurus isi hati sendiri.

Padahal, ada satu pegangan yang sering kita abaikan.

Satu pengingat yang bisa bikin hati benar-benar tenang.

Allah berfirman:

“Alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub.”

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.”

(Q.S. Ar-Ra’d: 28)

Tenang bukan soal suasana. Tapi soal pegangan.

Dan ketenangan sejati itu... bukan tentang liburan, bukan juga sekadar hiburan. Tapi tentang rasa dekat dengan yang menciptakan hati kita.

Kadang yang Kita Butuh Bukan Jawaban, Tapi Tempat Pulang

Di luar sana, ada ribuan tips self-healing. Ada motivasi-motivasi yang mengajak kita untuk tetap positif, untuk tetap kuat, untuk bangkit.

Tapi sejujurnya... kadang kita nggak butuh kata-kata semangat.

Kita cuma butuh tempat pulang. Tempat bersandar. Tempat diam sejenak dan berkata:

“Ya Allah, aku capek. Tolong tenangin aku.”

Dan itulah kekuatan ayat ini.

Q.S. Ar-Ra’d:28 bukan sekadar nasihat. Tapi pegangan.

Saat semua terasa melelahkan, kita selalu bisa kembali pada-Nya.

Kita nggak harus jadi sempurna untuk dekat dengan Allah. Bahkan dalam kondisi paling rapuh pun, Dia tetap hadir. Tetap mendengar, bahkan saat kita nggak tahu harus minta apa.

Diam Sebentar, dan Rasakan Lagi Pegangan Itu

Jadi kalau kepala lagi ribut, kalau hati lagi nggak karuan, berhenti sebentar.

Tutup HP. Diam sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Lalu katakan dalam hati:

“Aku nggak harus kuat terus kok.”

“Aku boleh lelah. Tapi aku juga tahu ke mana harus pulang.”

Karena sejauh apapun kita tersesat dalam pikiran sendiri, Allah nggak pernah menjauh.

Dan mungkin, ketenangan yang kita cari itu… bukan ada di luar,

tapi selama ini udah nunggu kita untuk kembali.

Tenang itu... dirasa saat hati tahu ke mana harus bersandar.