Fenomena Fresh Graduate Sulit Kerja: Ada Apa dengan Kebutuhan SDM Perusahaan?
Tulisan dari Azzahra Jinan Ulya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah menyelesaikan kuliah, mendapatkan pekerjaan menjadi salah satu hal yang banyak diharapkan oleh fresh graduate. Namun, kenyataannya mencari pekerjaan pertama tidak selalu mudah. Banyak lulusan baru yang harus mengirim lamaran ke berbagai perusahaan sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan bekerja. Persaingan yang ketat membuat lulusan baru perlu mempersiapkan diri lebih dari sekadar menyelesaikan pendidikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2025 tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan universitas mencapai 5,39 persen. Angka ini menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi juga masih menghadapi tantangan dalam memasuki dunia kerja.
Salah satu persoalannya adalah adanya ketidaksesuaian antara kemampuan tenaga kerja dengan kebutuhan pekerjaan. BPS dalam kajiannya mengenai pemuda Indonesia menyebut lebih dari sepertiga pemuda bekerja pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya. BPS juga menyoroti pentingnya keterampilan digital, sertifikasi, dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ijazah saja belum tentu cukup. Perusahaan juga membutuhkan calon karyawan yang memiliki kemampuan untuk menjalankan pekerjaan secara langsung. Kemampuan komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, adaptasi, hingga penggunaan teknologi menjadi beberapa hal yang semakin dibutuhkan. Selain itu, perusahaan juga cenderung mempertimbangkan sikap tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemauan untuk mempelajari hal baru.
Kondisi tersebut terlihat dari tingginya minat fresh graduate terhadap program magang. Pada Program Magang Nasional 2025, hampir 160 ribu lulusan baru mendaftar, sementara kuota tahap pertama hanya sekitar 20 ribu orang. Beberapa peserta yang diwawancarai Katadata menyebut pengalaman kerja dan portofolio menjadi salah satu alasan mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Bagi lulusan baru, pengalaman sering kali menjadi tantangan tersendiri. Mereka membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh pengalaman, tetapi di sisi lain beberapa lowongan justru mensyaratkan pengalaman kerja. Situasi ini membuat magang, proyek perkuliahan, kegiatan organisasi, dan pelatihan menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan meskipun belum pernah bekerja secara formal. Pengalaman tersebut juga dapat membantu mahasiswa memahami lingkungan kerja dan tanggung jawab profesional.
Dari sisi manajemen sumber daya manusia, kondisi ini menunjukkan pentingnya hubungan antara pendidikan, kompetensi, dan kebutuhan perusahaan. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang sesuai dengan posisi yang tersedia, sementara lulusan baru perlu memahami kemampuan apa yang dibutuhkan oleh industri. Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak hanya berfokus pada nilai akademik. Pengalaman organisasi, magang, mengikuti pelatihan, membuat portofolio, serta meningkatkan kemampuan komunikasi dapat menjadi bekal sebelum masuk dunia kerja.
Di sisi lain, perusahaan juga perlu melihat potensi calon karyawan, bukan hanya pengalaman yang sudah dimiliki. Lulusan baru mungkin belum terbiasa dengan pekerjaan profesional, tetapi mereka tetap memiliki kesempatan untuk berkembang melalui pelatihan dan pendampingan. Proses rekrutmen yang mempertimbangkan kemampuan dasar, sikap, dan kemauan belajar dapat membantu perusahaan menemukan kandidat yang sesuai. Setelah diterima, program orientasi dan pelatihan juga penting agar karyawan baru dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan budaya perusahaan.
Namun, persoalan ini tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab lulusan. Perusahaan dan perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkecil jarak antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Program pemagangan bagi lulusan perguruan tinggi yang diluncurkan Kementerian Ketenagakerjaan pada 2025, misalnya, ditujukan untuk memberikan pengalaman kerja nyata sekaligus meningkatkan keterampilan teknis dan soft skill lulusan baru.
Perguruan tinggi juga dapat membantu mahasiswa mempersiapkan karier melalui layanan konseling karier, pelatihan penyusunan CV, simulasi wawancara, dan kerja sama magang dengan perusahaan. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan di kelas, tetapi juga memiliki gambaran mengenai kemampuan yang dibutuhkan setelah lulus.
Pada akhirnya, sulitnya fresh graduate mendapatkan pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah lowongan. Kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan perusahaan juga menjadi persoalan penting. Dunia kerja terus berubah sehingga kemampuan untuk belajar dan beradaptasi menjadi bagian yang semakin penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia.
Bagi mahasiswa yang masih berada di bangku kuliah, hal ini bisa menjadi pengingat bahwa persiapan karier sebaiknya dimulai sebelum wisuda. Bukan berarti IPK tidak penting, tetapi ada kemampuan lain yang juga perlu dibangun agar ketika memasuki dunia kerja, lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga kompetensi yang dapat digunakan.

