Kuliah Malas, Gak Kuliah Gak Sarjana

Mahasiswa program studi Tadris Bahasa Indonesia di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Fuad Najib Arrosyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malas adalah salah satu dari sekian banyak hal yang perlu dihindari oleh semua orang, termasuk mahasiswa. Mahasiswa yang malas cenderung akan menghabiskan lebih banyak waktu di kampus. Kuliah merupakan kegiatan rutin bagi mahasiswa, namun saat ini sering dijumpai mahasiswa yang terlihat malas dalam menjalaninya. Sifat malas bisa disebabkan oleh kurangnya manajemen waktu dan rendahnya disiplin. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar pula dalam menjalankan tanggungjawabnya. Semangat belajar mahasiswa cenderu ng tidak stabil. Ada banyak faktor yang menyebabkan mahasiswa malas berkuliah, yang pastinya berbeda-beda untuk setiap individu.
Alasan paling dominan yakni karena tugasnya banyak dan sering menumpuk, disebabkan oleh jadwal yang padat. Mahasiswa sering menunda-nunda tugas karena waktu yang padat atau memang rasa malas tersebut. Saya teringat sebuah kalimat yang diungkapkan oleh karakter Squidward dalam film kartun “kenapa kau lakukan hari ini, jika kau bisa melakukannya besok”, sepertinya hal itu juga terjadi di dunia nyata termasuk di kalangan mahasiswa.
Selain itu, beberapa mahasiswa juga tidak tertarik dengan mata kuliahnya karena faktor dosen pengajar. Beberapa mahasiswa merasa bosan dan malas karena dosen sering memberikan tugas dan penyampaian materi yang monoton. Zaman semakin berkembang namun dosen kadang masih menerapkan cara mengajar yang monoton. Keterkaitan antara tugas, mata kuliah, dan dosen dapat mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa.
Mahasiswa terkadang tidak mendapatkan kenyamanan di lingkungan pertemanan dan lingkungan kampus. Mereka merasa bahwa lingkungan tersebut yang ia jalani tidak sesuai dengan yang diinginkan. Lingkungan di kampus tidak sama ketika di sekolah, perlunya adaptasi sangat penting dalam hal ini. Menurut saya faktor kenyamanan dalam lingkungan tersebut menjadi faktor utama mahasiswa menjadi semangat atau tidaknya dalam berkuliah. Jika sedari awal kenyamanan tersebut tidak didapatkan, maka dalam menjalani kuliah langkahnya pun menjadi tidak pasti.
Dalam dunia perkuliahan, kerjasama tim yang kompak dan solid sangat diperlukan. Seseorang akan cenderung lebih nyaman ketika bersama teman yang sefrekuensi, maka tak heran jika dalam dunia perkuliahan juga sering ditemukan circle pertemanan. Namun juga penting ketika menentukan teman sebagai teamwork, memilih teman yang membuat kita menjadi berkembang dalam hal positif. Kebosanan juga muncul ketika kita tidak memiliki teman yang berpikiran sama.
Salah satu faktor yang sering dipermasalahkan oleh mahasiswa adalah memilih jurusan yang salah, umumnya hanya karena mengikuti teman atau asal-asalan. Banyak calon mahasiswa yang akhirnya menyadari bahwa jurusan yang dipilih tidak sesuai dengan kemampuan mereka setelah beberapa waktu belajar. Mereka menjadi malas dan tidak nyaman karena tidak dapat mengembangkan passion mereka. Hal ini sangat tidak nyaman, karena dimana orang lain bersusah payah untuk masuk di suatu jurusan dan yang berhasil masuk malah bermalas-malasan. Penting untuk memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat seseorang di perguruan tinggi.
Faktor lain yang menyebabkan rasa malas mahasiswa adalah jarak rumah ke kampus, terutama bagi mahasiswa yang tidak tinggal di kos. Perjalanan yang memakan waktu dan kondisi jalan yang tidak terduga memerlukan effort lebih, belum lagi jika cuaca yang tidak mendukung. Terkadang mahasiswa sudah sampai di kampus namun secara tiba-tiba dosen mengabarkan bahwa tidak jadi kelas apalagi jika di hari tersebut hanya ada satu mata kuliah, situasi itu seolah membuat perjuangan mahasiswa menerjang jalanan menjadi sia-sia. Mahasiswa seringkali merasa lebih lelah dan menghabiskan lebih banyak waktu di perjalanan daripada di kelas.
Seseorang yang berstatus sebagai mahasiswa pastinya telah menempuh pendidikan di jenjang menengah, karena telah memiliki ijazah jenjang tersebut maka tak jarang mahasiswa berkuliah sambil bekerja. Manajemen waktu menjadi kunci, karena dua pekerjaan pokok dilakukan oleh satu orang sekaligus. Situasi ini dapat membuat mahasiswa menjadi keteteran dalam kuliahnya karena harus membagi waktu. Beberapa mahasiswa yang telah sibuk bekerja mungkin merasa puas dan menikmati pekerjaannya. Mereka juga beranggapan untuk tidak terlalu memperhatikan nilai akademis karena merasa sudah mampu mendapatkan penghasilan sendiri tanpa harus berkuliah.
Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam keluarga, hal ini dapat berdampak pada kondisi mental seorang mahasiswa. Ketika menghadapi masalah di rumah, mahasiswa cenderung meluapkan kekesalan tersebut saat di luar rumah. Hal ini dapat membuat mereka malas melakukan aktivitas yang sebelumnya menjadi rutinitas nya dan lebih memilih aktivitas sebagai hiburan. Misal seorang mahasiswa yang rutinitas nya berkuliah, namun saat kondisi ini ia malas dalam berkuliah dan lebih memilih beraktivitas untuk menghibur dirinya seperti dengan jalan-jalan, bermain game, dan lain-lain. Hal itu menjadi pelampiasan untuk melupakan sementara masalah keluarga dan menyembuhkan diri.
Mahasiswa termasuk dalam kategori usia remaja yang sering mengalami masalah percintaan, hal tersebut dapat membuat mereka merasa sakit hati dan malas. Meskipun cinta juga bisa menjadi sumber semangat dalam berkuliah, namun terlalu terlibat dalam percintaan juga bisa membuat mahasiswa menjadi malas dalam belajar. Percintaan remaja zaman sekarang memang penuh dengan kerumitan. Pada dasarnya rasa cinta hanya akan berakhir pada satu dari dua hal, bahagia atau merana. Sebaiknya, jika ingin fokus dalam kuliah, maka usahakan untuk menghindari terlalu banyak masalah percintaan terlebih dahulu.
Sulit bangun pagi karena begadang, yang dapat menyebabkan rasa capek, letih, dan kantuk pada pagi hari. Kurangnya konsentrasi juga dapat membuat mahasiswa malas untuk kuliah. Mahasiswa perlu mengatur jadwal tidur dan mengurangi begadang untuk tujuan yang tidak penting. Selain itu, masalah parkir juga menjadi faktor penyebab mahasiswa malas, parkir yang cepat penuh membuat mahasiswa enggan berangkat ke kampus. Memang di kampus-kampus tertentu memiliki fasilitas parkir yang kurang memadai. Penting bagi suatu kampus untuk memperhatikan keseimbangan antara jumlah mahasiswa dan fasilitas yang disediakan.
Rasa malas dapat timbul dalam diri mahasiswa ketika berkuliah, namun mereka harus mempunyai cara dalam melawan rasa itu. Misal mengesampingkan rasa malas itu. Memperbaiki suasana hati atau menjaga mood juga bisa untuk melawan rasa malas, karena bagi remaja mood sangat memengaruhi kesehariannya. Selain itu, remaja cenderung akan lebih bersemangat apabila bertemu dengan seorang yang dikagumi, tak jarang mahasiswa menjadikan seseorang sebagai support system agar lebih bersemangat. Dua orang tersebut biasanya akan saling menyemangati dalam berbagai hal termasuk dalam berkuliah.
Penting untuk melawan rasa malas dalam berkuliah dengan menyadari tujuan, ingat kepada orang tua, dan bersungguh-sungguh dalam menjalani pendidikan. Tidak semua orang mampu duduk di bangku kuliah, jika kita termasuk salah satunya maka patut disyukuri dan harus bersungguh-sungguh dalam menjalaninya. Jangan biarkan rasa malas menghalangi usaha untuk menggapai impian, dan perlu adanya paksaan dalam diri seseorang dengan menggunakan motivasi dalam diri untuk melawan rasa malas.
Rasa malas memang hal yang manusiawi dalam diri seseorang. Malas bukanlah karakter, namun kebiasaan yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Kita pernah berada dalam situasi ini sebelumnya, terlebih lagi kita hidup di negeri tercinta ini yang kebanyakan kebiasaan SDM nya sendiri terlalu santai sampai terbuai. Meskipun dikatakan manusiawi, penting untuk menyadari bagaimana kita meresponsnya. Melawan dan bangkit kembali atau terbuai dan larut dalam situasi malas tersebut.
