Konten dari Pengguna

Ketika Budaya Viral: Pacu Jalur, Bocah Joget, dan Fenomena ‘Aura Farming’

Nabila nur adzkia surbakti

Nabila nur adzkia surbakti

Mahasiswa Farmasi 2024 Universitas Islam Indonesia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila nur adzkia surbakti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gayuh alias joki kecil dari Tim Tuah Koghi Dubalang Ghajo — Rayyan, berdiri di ujung perahu dengan kacamata hitam khasnya. Penampilannya jadi sorotan karena disebut-sebut membawa “aura farming” ke level dewa. (Foto: Rihandro untuk Kamera Kuansing, 2025 — digunakan dengan izin)
zoom-in-whitePerbesar
Gayuh alias joki kecil dari Tim Tuah Koghi Dubalang Ghajo — Rayyan, berdiri di ujung perahu dengan kacamata hitam khasnya. Penampilannya jadi sorotan karena disebut-sebut membawa “aura farming” ke level dewa. (Foto: Rihandro untuk Kamera Kuansing, 2025 — digunakan dengan izin)

Lo tau nggak, sekarang ini dunia lagi demen banget sama istilah baru yang kedengerannya lucu tapi nyentrik banget: "aura farming." Kedengerannya kayak game atau skincare routine, kan? Tapi ternyata… ini datengnya dari anak kecil yang joget di ujung perahu tradisional Indonesia. Yes, dari Riau!

Cerita ini dimulai dari satu event legendaris: Pacu Jalur — lomba dayung perahu panjang yang udah jadi tradisi warga Kuantan Singingi, Riau. Tiap perahu biasanya punya satu bocah di depan, tugasnya bukan dayung, tapi… joget!

Tujuannya? Biar semangat tim makin terbakar. Tapi siapa sangka, dari jogetan ini lahirlah tren global yang sekarang disebut: Aura Farming.

Rayyan Arkan Dhika: Bocah Joget Paling Viral Tahun Ini

Namanya Rayyan Arkan Dhika, anak kecil berseragam hitam dengan kacamata item dan gestur full percaya diri. Saat perahu melaju di sungai, dia joget ala-ala anime boss final — ngibasin tangan, nepuk dada, nunjuk penonton, sampai pasang wajah datar penuh aura. Karakternya kayak gabungan Zoro One Piece + Cristiano Ronaldo + emote game. Gak heran, videonya langsung viral dan jadi template meme di TikTok dan X. Soundtrack yang dipakai juga makin naik daun: "Young Black & Rich". Netizen pun sepakat:

“Ini bukan anak biasa. Ini anak hasil panen aura kualitas dewa.”

“Aura farming-nya OP (overpower), kayak main Genshin Impact tapi IRL!”

________________________________________

Tren Global: Dari Riau ke Timeline Dunia

Yang bikin kaget, tren ini gak cuma rame di Indo. Dunia juga ikut nimbrung.

Pemain bola internasional seperti Achraf Hakimi (PSG) sampai Antony (MU) sempet upload video pakai vibe dan gaya ala Rayyan — lengkap dengan tangan ke dada dan tatapan kosong penuh energi.

Dari dunia MotoGP, netizen nemu video Marc Márquez yang goyang sebelum race, lalu dibandingin sama Rayyan:

“Aura farming versi sirkuit.”

Bahkan netizen global mulai bikin editan: Rayyan pake jersey bola, atau muncul di game fighting. Beberapa fans bilang, "Rayyan deserves a Fortnite skin."

Dan lo tau nggak seberapa gilanya tren ini?

Pencipta lagu “Young Black & Rich”, yang viral bareng tren aura farming, yaitu ABG Neal alias Melly Mike, dikabarkan bakal datang langsung ke Kuantan Singingi.

Ia berencana manggung GRATIS di salah satu rangkaian acara Festival Pacu Jalur Nasional 2025, yang dijadwalkan berlangsung dari 20 sampai 24 Agustus.

Belum dipastikan dia tampil di puncak acara atau tanggal berapa tepatnya, tapi vibes-nya udah berasa kayak konser yang ditungguin satu provinsi.

Artis luar negeri dateng ke Riau cuma gara-gara satu bocah joget? Gila sih.

“This is not just a vibe. It’s a movement.” — katanya di salah satu live IG-nya.

Dari TikTok ke sungai Kuansing, dari meme ke panggung beneran — aura farming bener-bener upgrade levelnya

Lebih dari Viral: Ini Soal Budaya

Tapi jangan salah. Di balik semua lucu-lucuan ini, ada budaya yang kuat berdiri.

Pacu Jalur bukan lomba iseng — ini tradisi turun-temurun dari abad ke-17, yang dulu dipakai buat menyambut tamu kehormatan dan sekarang jadi festival nasional. Pemerintah bahkan udah ngetok cap resminya sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Jadi, apa yang Rayyan lakukan itu bukan gimmick, tapi bagian dari ekspresi budaya. Dan sekarang, satu momen kecil dari Riau bisa nunjukin ke dunia:

“Indonesia bukan cuma bisa ikut tren, tapi bisa jadi pusat tren.”