Konten dari Pengguna

Artificial Intelligence(AI) Mengubah Dunia Kerja, Apa SDM Indonesia Sudah Siap?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Freepik.com

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan komputer atau mesin melakukan berbagai tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti memahami informasi, mengenali pola, memproses bahasa, menganalisis data, hingga menghasilkan keputusan atau rekomendasi. Saat ini, AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari dan telah digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, bisnis, pelayanan pelanggan, hingga dunia kerja. Kehadiran AI membuat sejumlah pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien, tetapi di sisi lain juga membawa perubahan terhadap jenis pekerjaan serta keterampilan yang dibutuhkan oleh tenaga kerja.

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan dunia kerja. AI tidak lagi hanya digunakan untuk mencari informasi atau membuat konten, tetapi mulai dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan administratif, menganalisis data, membuat laporan, hingga mendukung pengambilan keputusan. Perubahan ini membuat perusahaan dan tenaga kerja perlu menyesuaikan diri dengan cara kerja yang semakin digital.

Menurut laporan PwC tahun 2026, sebanyak 69% pekerja di Indonesia menyatakan telah menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk pekerjaannya dalam satu tahun terakhir. Namun, penggunaan AI secara harian masih berada pada angka 16% untuk generative Artificial Intelligence (AI). Data tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di dunia kerja Indonesia sudah berkembang, tetapi belum sepenuhnya merata.

Di sisi lain, Artificial Intelligence (AI) juga memunculkan kekhawatiran mengenai masa depan pekerjaan. Sebagian orang melihat AI sebagai teknologi yang dapat menggantikan pekerjaan manusia, terutama pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang. Namun, persoalannya sebenarnya tidak sesederhana manusia akan digantikan oleh mesin. Perubahan teknologi justru membuat jenis keterampilan yang dibutuhkan perusahaan ikut berubah.

Laporan PwC Artificial Intelligence (AI) Jobs Barometer 2026 menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap keterampilan yang berkaitan dengan Artificial Intelligence (AI) meningkat dengan cepat. Lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan Artificial Intelligence (AI) tumbuh hampir delapan kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan. Pada saat yang sama, perusahaan semakin membutuhkan kemampuan manusia seperti pengambilan keputusan, kreativitas, dan kepemimpinan.

Hal ini menjadi perhatian penting dalam perencanaan sumber daya manusia (SDM). Perusahaan tidak cukup hanya merencanakan jumlah karyawan yang dibutuhkan, tetapi juga harus memikirkan kompetensi apa yang akan diperlukan dalam beberapa tahun ke depan. Perencanaan SDM harus mampu membaca perubahan teknologi dan menyiapkan tenaga kerja agar tidak tertinggal.

Menurut saya, perusahaan sebaiknya tidak menjadikan Artificial Intelligence (AI) semata-mata sebagai alat untuk mengurangi jumlah tenaga kerja. Artificial Intelligence (AI) seharusnya dimanfaatkan untuk mengurangi pekerjaan yang repetitif sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.

Dari sisi karyawan, perubahan ini juga menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kemampuan. Menguasai teknologi saja belum cukup. Karyawan juga perlu memiliki kemampuan yang sulit digantikan oleh teknologi, seperti berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, beradaptasi, dan memahami kebutuhan manusia.

Perusahaan juga memiliki tanggung jawab dalam proses tersebut melalui program pelatihan dan pengembangan. Berdasarkan survei PwC, terdapat kesenjangan akses terhadap sumber pembelajaran antara pekerja non-manajerial dan eksekutif senior di Indonesia. Sebanyak 64% pekerja non-manajerial merasa memiliki akses terhadap sumber pembelajaran, sedangkan pada tingkat eksekutif senior angkanya mencapai 89%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital seharusnya tidak hanya berfokus pada pembelian teknologi, tetapi juga pada kesiapan manusia yang menggunakannya. Jika perusahaan ingin mendapatkan manfaat dari AI, maka peningkatan kompetensi karyawan harus menjadi bagian dari perencanaan SDM.

Pada akhirnya, Artificial Intelligence (AI) bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga persoalan bagaimana manusia mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja. Perusahaan yang mampu menggabungkan teknologi dengan kualitas SDM akan memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi. Sementara itu, tenaga kerja yang mau terus belajar dan mengembangkan keterampilannya akan lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan pekerjaan di masa depan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “Apakah Artificial Intelligence (AI) akan menggantikan manusia?”, tetapi “Apakah manusia sudah mempersiapkan diri untuk bekerja bersama Artificial Intelligence (AI)?”