Bukan Cuma Bakar Kalori, Olahraga Kini Jadi Cara Baru Anak Muda Bersosialisasi
Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Olahraga biasanya dianggap sebagai kegiatan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Namun, belakangan ini cara orang menikmati olahraga mulai berubah. Lari, gym, padel, badminton, hingga berbagai olahraga lainnya tidak hanya dilakukan untuk berkeringat, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bertemu teman, bergabung dengan komunitas, dan menghabiskan waktu bersama.
Fenomena ini terlihat dari semakin berkembangnya komunitas olahraga dan berbagai acara olahraga di Indonesia. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada Agustus 2026 menyebut lari semakin populer di kalangan anak muda. Kegiatan seperti morning run, after office run, hingga latihan bersama pada akhir pekan membuat lari berkembang menjadi aktivitas sosial.
Artinya, olahraga sekarang tidak selalu identik dengan aktivitas yang dilakukan sendirian. Ada pengalaman sosial yang ikut muncul setelah seseorang mulai aktif berolahraga.
Dari Olahraga Sendiri Menjadi Aktivitas Bersama
Coba lihat tren komunitas lari yang semakin mudah ditemukan di berbagai kota. Seseorang yang awalnya hanya ingin mulai berlari bisa menemukan teman baru melalui komunitas.
Tidak sedikit kegiatan olahraga yang kemudian dilanjutkan dengan makan bersama, minum kopi, atau sekadar berbincang setelah latihan. Olahraga akhirnya menjadi alasan untuk berkumpul.
Temuan IDN Research Institute pada September 2026 juga menunjukkan hubungan yang cukup kuat antara olahraga dan aktivitas sosial. Dalam survei yang mereka kutip, 91 persen responden setuju bahwa aktivitas fisik dapat membantu membangun hubungan atau networking. Di antara responden yang berolahraga, sebagian juga mengaku melanjutkan kegiatan dengan berkumpul atau makan bersama teman dan komunitas.
Hal tersebut menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi lebih dari sekadar aktivitas fisik. Bagi sebagian orang, olahraga juga menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan sosial.
Lari, Padel, dan Gym Jadi Pilihan untuk Mengisi Waktu
Perubahan ini juga terlihat dari semakin beragamnya olahraga yang digemari anak muda. Lari menjadi salah satu yang paling mudah dilakukan karena tidak membutuhkan fasilitas yang rumit. Sementara itu, olahraga seperti padel, gym, mini soccer, dan badminton menawarkan pengalaman yang berbeda karena dapat dilakukan bersama teman.
Survei yang dikutip detikHealth pada Juli 2026 menunjukkan lari dan jalan santai termasuk aktivitas olahraga yang banyak dilakukan Gen Z. Dalam survei tersebut, 55,33 persen Gen Z memilih lari dan 52,33 persen memilih jalan santai sebagai aktivitas olahraga yang dilakukan.
Namun, angka tersebut tidak berarti semua anak muda rutin berolahraga. Survei yang sama menunjukkan 52 persen Gen Z berolahraga 0–1 kali dalam seminggu, sedangkan 38 persen berolahraga 2–3 kali dalam seminggu. Karena itu, tren olahraga perlu dipahami sebagai perubahan minat dan gaya hidup, bukan berarti seluruh anak muda sudah memiliki kebiasaan olahraga yang rutin.
Kenapa Olahraga Bisa Menjadi Tempat Bersosialisasi?
Ada beberapa alasan yang membuat olahraga semakin dekat dengan kehidupan sosial.
Pertama, olahraga memberikan aktivitas yang bisa dilakukan bersama. Berbeda dengan sekadar duduk dan berbincang, olahraga memberikan kegiatan yang membuat orang memiliki pengalaman bersama.
Kedua, komunitas dapat membantu seseorang lebih konsisten. Orang yang berolahraga sendirian mungkin lebih mudah membatalkan jadwal. Namun, ketika sudah memiliki teman atau kelompok yang menunggu, muncul dorongan untuk tetap datang.
Ketiga, olahraga dapat mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama. Seseorang yang bergabung dengan komunitas lari, misalnya, secara otomatis memiliki kesamaan dengan anggota lain, yaitu ketertarikan terhadap olahraga.
Dari sini, hubungan yang awalnya hanya sebatas teman olahraga dapat berkembang menjadi pertemanan atau bahkan networking.
Media Sosial Ikut Membuat Olahraga Semakin Menarik
Perkembangan olahraga sebagai aktivitas sosial juga tidak bisa dilepaskan dari media sosial.
Sekarang, aktivitas olahraga dapat dengan mudah dibagikan melalui Instagram, TikTok, Strava, atau platform lainnya. Seseorang dapat mengunggah hasil lari, membagikan pencapaian, merekomendasikan tempat gym, hingga mengajak orang lain mengikuti kegiatan olahraga.
Penelitian yang diterbitkan dalam Halaman Olahraga Nusantara juga menemukan adanya hubungan positif antara paparan konten olahraga di media sosial dan partisipasi olahraga pada responden muda di Indonesia. Penelitian tersebut melibatkan 300 responden berusia 15–26 tahun.
Namun, media sosial tidak selalu memberikan dampak positif. Penelitian yang sama juga mengingatkan adanya potensi tekanan sosial, terutama terkait gambaran tubuh atau body image. Artinya, konten olahraga dapat menjadi motivasi, tetapi pengguna tetap perlu menyaring informasi dan tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran dirinya sendiri.
Olahraga Mulai Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Ketika olahraga dilakukan secara rutin bersama komunitas, kemudian dibagikan di media sosial dan menjadi bagian dari aktivitas akhir pekan, olahraga perlahan berubah menjadi gaya hidup.
Hal ini juga terlihat dalam hasil survei PwC Indonesia pada 2026. Sebanyak 58 persen konsumen Indonesia yang disurvei rutin melakukan aktivitas kebugaran. Pada kelompok konsumen yang lebih muda, angkanya mencapai 61 persen. Konsumen muda juga hampir tiga kali lebih mungkin mengeluarkan uang untuk keanggotaan gym, kelas kebugaran, atau personal trainer dibandingkan kelompok yang lebih tua dalam survei tersebut.
Menariknya, perkembangan ini tidak hanya berdampak pada kebiasaan olahraga. Muncul pula berbagai bisnis yang mengikuti kebutuhan tersebut, mulai dari gym, studio olahraga, penyewaan lapangan, pakaian olahraga, perlengkapan olahraga, hingga penyelenggara event.
Jadi, ketika seseorang memutuskan untuk rutin berlari atau bermain padel, aktivitas yang dilakukan tidak berhenti ketika olahraga selesai. Ada pengeluaran untuk sepatu, pakaian, perlengkapan, biaya lapangan, transportasi, hingga makanan setelah olahraga.
Olahraga Membuka Ruang Sosial Baru
Menariknya, alasan seseorang mengikuti olahraga tidak selalu berkaitan dengan target fisik.
Sebagian orang mungkin ingin menurunkan berat badan atau meningkatkan kebugaran. Namun, sebagian lainnya bisa saja datang karena diajak teman, ingin mencari lingkungan baru, atau sekadar ingin menghabiskan waktu dengan cara yang lebih aktif.
Karena itu, olahraga dapat dilihat sebagai salah satu bentuk baru dalam menghabiskan waktu luang.
Daripada hanya bertemu untuk makan atau nongkrong, sebagian anak muda memilih bertemu sambil melakukan aktivitas. Mereka bisa lari bersama pada pagi hari, bermain padel setelah pulang kerja, mengikuti kelas gym, atau bergabung dalam pertandingan kecil bersama komunitas.
Bahkan, IDN Research Institute mencatat bahwa 53 persen responden menghadiri event olahraga bersama teman, sementara pada kelompok Gen Z yang jarang mengikuti event olahraga, 25 persen mengatakan mereka tidak akan datang tanpa teman atau komunitas.
Angka tersebut menunjukkan bahwa faktor sosial dapat menjadi bagian penting dalam pengalaman olahraga, meskipun tentu tidak berlaku untuk semua orang.
Bukan Berarti Nongkrong Sudah Tidak Ada
Meningkatnya popularitas olahraga bukan berarti aktivitas nongkrong atau hiburan lain langsung ditinggalkan.
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menikmati waktu luang. Ada yang lebih nyaman berolahraga sendiri, ada yang menyukai komunitas, dan ada pula yang tetap memilih berkumpul di kafe atau tempat hiburan.
Karena itu, fenomena ini lebih tepat dilihat sebagai bertambahnya pilihan cara bersosialisasi.
Olahraga menawarkan kombinasi antara aktivitas fisik, hiburan, dan interaksi sosial. Bagi sebagian anak muda, kombinasi tersebut membuat olahraga terasa lebih menarik karena mereka tidak hanya mendapatkan manfaat bagi tubuh, tetapi juga pengalaman bersama orang lain.
Ketika Olahraga Bukan Lagi Sekadar Soal Kesehatan
Perubahan cara menikmati olahraga menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki peran yang semakin luas dalam kehidupan sehari-hari.
Olahraga bisa menjadi cara menjaga kesehatan, mencari teman, membangun komunitas, melepas penat, bahkan memperluas networking. Perkembangan komunitas dan event olahraga di berbagai daerah menjadi salah satu gambaran bahwa olahraga kini memiliki ruang sosial yang semakin besar.
Pada akhirnya, alasan seseorang berolahraga memang berbeda-beda. Ada yang mengejar kesehatan, ada yang ingin mencapai target tertentu, dan ada pula yang sekadar ingin bertemu teman.
Namun, satu hal yang terlihat jelas adalah olahraga tidak lagi selalu dilakukan sendirian.
Olahraga bisa menjadi alasan untuk bergerak, tetapi kebersamaanlah yang membuat sebagian orang ingin terus kembali.

