Konten dari Pengguna

Bukan Takut Digantikan AI, Talenta Justru Harus Naik Level

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Freepik.com

Bukan takut digantikan AI, talenta justru harus naik level. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuat banyak hal berubah dengan cepat, termasuk cara seseorang bekerja, belajar, dan mengembangkan kemampuan. Karena itu, tantangan bagi talenta bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana terus meningkatkan kemampuan agar tetap relevan.

Perkembangan AI membuat berbagai aktivitas menjadi lebih cepat dan praktis. Teknologi dapat membantu mengolah data, membuat konten, memberikan rekomendasi, hingga menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Namun, kehadiran AI tidak selalu berarti manusia akan kehilangan seluruh perannya. Banyak pekerjaan justru mengalami perubahan karena sebagian tugas mulai dibantu oleh teknologi.

Artinya, talenta perlu melihat AI bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peluang untuk berkembang. Kemampuan menggunakan teknologi sekaligus memahami hasil yang diberikan AI menjadi semakin penting.

Tantangannya Bukan Jumlah Talenta, tetapi Kemampuannya

Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja dan talenta yang besar. Namun, jumlah tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan industri apabila kemampuan yang dimiliki belum memenuhi kompetensi yang dibutuhkan.

SBM ITB pada 2026 menyoroti adanya kesenjangan keterampilan atau skill gap di Indonesia. Banyak perusahaan masih menghadapi kesulitan menemukan talenta dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan talenta tidak cukup hanya mengandalkan proses pendidikan atau pengalaman kerja, tetapi perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Talenta yang memiliki kemampuan untuk terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan keterampilan yang sudah dimiliki.

Naik Level dengan Upskilling dan Reskilling

Salah satu cara untuk mengembangkan talenta adalah melalui upskilling dan reskilling.

Upskilling berarti meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki agar seseorang dapat menjalankan perannya dengan lebih baik. Misalnya, seorang staf pemasaran tidak harus menjadi programmer ketika perusahaan mulai menggunakan AI. Ia dapat meningkatkan kemampuan dalam analisis data, pemanfaatan AI untuk membuat konten, hingga membaca hasil kampanye digital.

Sementara itu, reskilling merupakan proses mempelajari keterampilan baru untuk menjalankan peran yang berbeda. Keduanya menjadi penting karena kebutuhan kompetensi dapat berubah seiring perkembangan teknologi.

Jadi, “naik level” tidak selalu berarti mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Naik level juga berarti memiliki kemampuan yang semakin relevan, fleksibel, dan mampu memberikan nilai lebih.

Tidak Harus Menjadi Ahli AI

Ada anggapan bahwa setiap talenta harus menjadi ahli AI agar tidak tertinggal. Padahal, kebutuhan setiap bidang berbeda.

Yang lebih penting adalah memiliki AI literacy, yaitu pemahaman mengenai cara menggunakan AI, manfaatnya, keterbatasannya, serta risiko yang mungkin muncul. Seorang marketing specialist, misalnya, tidak harus mampu membuat sistem AI dari awal. Namun, ia perlu memahami bagaimana menggunakan AI untuk membantu pekerjaan dan tetap mampu menilai apakah hasilnya benar dan sesuai kebutuhan.

Kemampuan manusia juga tetap memiliki peran penting. Berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan merupakan kemampuan yang tidak cukup hanya mengandalkan teknologi.

Dengan kata lain, talenta tidak harus bersaing dengan AI. Talenta justru perlu belajar bagaimana bekerja dengan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri.

Belajar Tidak Cukup Sekali

Pengembangan talenta juga tidak seharusnya berhenti setelah mengikuti satu pelatihan atau mendapatkan sertifikat.

Yang lebih penting adalah apakah kemampuan tersebut benar-benar dapat diterapkan. Pelatihan AI, misalnya, akan lebih bermanfaat apabila seseorang mendapatkan kesempatan untuk menggunakan teknologi tersebut dalam aktivitas nyata. Begitu juga dengan pelatihan analisis data, komunikasi, atau kepemimpinan yang perlu diterapkan dalam situasi sebenarnya.

Karena itu, continuous learning atau pembelajaran berkelanjutan menjadi semakin penting. Proses belajar dapat dilakukan melalui pelatihan, kursus daring, mentoring, proyek, komunitas profesional, membaca referensi, maupun mencoba teknologi baru.

Jumlah pelatihan yang diikuti bukan ukuran utama keberhasilan pengembangan talenta. Hal yang lebih penting adalah seberapa besar kemampuan tersebut berkembang dan dapat digunakan.

Perusahaan Juga Punya Peran

Pengembangan talenta bukan hanya tanggung jawab individu. Perusahaan juga perlu memberikan ruang agar karyawan dapat berkembang.

Perusahaan dapat memulai dengan memetakan kemampuan yang dimiliki karyawan dan membandingkannya dengan keterampilan yang dibutuhkan. Setelah itu, program pengembangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Tidak semua orang membutuhkan pelatihan yang sama. Talenta di bidang pemasaran mungkin membutuhkan kemampuan analisis data dan AI. Sementara itu, seseorang di bidang keuangan mungkin membutuhkan kemampuan otomatisasi dan pengolahan data. Manajer dapat lebih membutuhkan kemampuan kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan pengelolaan tim.

Pendekatan seperti ini membuat pengembangan talenta menjadi lebih tepat sasaran dan tidak sekadar menjadi kegiatan pelatihan rutin.

Talenta yang Mau Terus Belajar Akan Lebih Siap

Perubahan teknologi tidak bisa dihentikan. Karena itu, mempertahankan kemampuan yang sama dalam waktu lama mungkin tidak lagi cukup.

Talenta perlu memiliki kemauan untuk belajar kembali, meningkatkan keterampilan, dan beradaptasi. Sementara itu, perusahaan perlu mendukung proses tersebut melalui kesempatan belajar, pengembangan karier, mentoring, dan pengalaman kerja yang memungkinkan karyawan mencoba kemampuan baru.

Pada akhirnya, AI bukan hanya tentang teknologi yang semakin pintar. AI juga menjadi pengingat bahwa kemampuan manusia perlu terus berkembang.

Talenta yang mampu bertahan bukan selalu mereka yang paling menguasai teknologi, tetapi mereka yang paling siap untuk terus belajar.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi, “Apakah saya akan digantikan AI?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Kemampuan apa yang perlu saya tingkatkan agar tetap bernilai di tengah perubahan?”

Mungkin, inilah saatnya talenta tidak hanya berusaha mempertahankan posisinya, tetapi benar-benar naik level.