Konten dari Pengguna

Takut Ketinggalan Tren, Mengapa Gen Z Sering Membeli Barang yang Sedang Viral?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Freepik.com

Gen Z semakin akrab dengan media sosial yang membuat berbagai tren cepat dikenal, mulai dari produk perawatan kulit, pakaian, makanan, hingga koleksi barang unik seperti blind box. Awalnya, seseorang mungkin hanya melihat video rekomendasi produk di TikTok atau Instagram. Namun, setelah produk tersebut muncul berulang kali di beranda dan banyak orang membicarakannya, muncul keinginan untuk ikut membeli. Fenomena ini menarik untuk dibahas karena dalam perilaku konsumen, keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan, tetapi juga oleh lingkungan sosial, emosi, dan keinginan untuk mengikuti tren.

Ketika Produk Viral Terasa Wajib Dimiliki

Produk yang viral sering kali terlihat menarik karena banyak dibicarakan dan diperlihatkan oleh pengguna media sosial. Ketika seseorang melihat teman, kreator konten, atau figur publik menggunakan produk yang sama, ia bisa merasa tertarik untuk mencobanya.

Contohnya dapat dilihat pada tren blind box, yaitu produk dalam kemasan yang isi atau karakter di dalamnya tidak diketahui secara pasti sebelum dibuka. Daya tariknya bukan hanya terletak pada barang yang didapatkan, tetapi juga rasa penasaran, pengalaman membuka kemasan, dan keinginan memperoleh karakter tertentu.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa konsumen terkadang membeli produk bukan semata-mata karena fungsinya. Ada pula keinginan untuk merasakan pengalaman yang sedang populer, ikut dalam percakapan, atau memiliki sesuatu yang sedang menjadi perhatian banyak orang.

Namun, tidak semua orang yang membeli produk viral memiliki alasan yang sama. Sebagian memang menyukai produknya, sebagian ingin mencoba karena penasaran, dan sebagian lainnya mungkin merasa khawatir tertinggal dari lingkungan pertemanannya.

Mengenal FOMO dalam Perilaku Konsumen

Salah satu konsep yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah Fear of Missing Out atau FOMO. Secara sederhana, FOMO merupakan perasaan khawatir akan melewatkan pengalaman, kesempatan, atau hal menarik yang sedang dinikmati orang lain.

Dalam konteks belanja, FOMO dapat muncul ketika konsumen merasa harus membeli produk tertentu agar tidak tertinggal tren. Misalnya, ketika sebuah produk sedang ramai dibahas, seseorang mungkin berpikir bahwa ia juga perlu memilikinya supaya bisa mengikuti pembicaraan teman-temannya.

Perasaan tersebut dapat semakin kuat ketika produk terlihat sulit didapatkan, jumlahnya terbatas, atau dipromosikan sebagai barang yang sedang populer. Konsumen akhirnya merasa perlu segera membeli sebelum kesempatan itu hilang.

Penelitian Eva Sofiana dan Rina Suthia Hayu yang diterbitkan dalam Management Analysis Journal pada Juni 2025 membahas FOMO, influencer media sosial, gaya hidup belanja, dan harga diskon dalam kaitannya dengan pembelian impulsif pada Gen Z pengguna TikTok dan Instagram di Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan 130 responden. Temuannya memperlihatkan pentingnya melihat perilaku belanja impulsif melalui kombinasi faktor sosial, psikologis, dan promosi. Sumber penelitian.

Artinya, keputusan membeli produk viral tidak selalu muncul karena konsumen benar-benar membutuhkan barang tersebut. Dalam kondisi tertentu, keinginan untuk mengikuti tren dan tidak ingin tertinggal juga dapat menjadi bagian dari pertimbangannya.

Media Sosial dan Pengaruh Lingkungan Pertemanan

Media sosial memiliki peran besar dalam memperkenalkan produk kepada konsumen. Satu video rekomendasi dapat menarik perhatian banyak pengguna, kemudian diikuti ulasan, komentar, dan konten lain yang membahas produk serupa.

Ketika suatu produk terus muncul di beranda, konsumen bisa semakin mengenal dan tertarik terhadap produk tersebut. Jika ditambah dengan komentar positif atau rekomendasi dari orang yang dipercaya, ketertarikan itu dapat berkembang menjadi keinginan untuk membeli.

Lingkungan pertemanan juga bisa memengaruhi keputusan. Misalnya, beberapa teman mulai mengoleksi barang yang sedang viral. Seseorang yang awalnya tidak tertarik mungkin ikut membeli karena ingin memiliki pengalaman yang sama atau merasa lebih mudah berbaur dengan kelompoknya.

Dalam perilaku konsumen, kondisi ini berkaitan dengan pengaruh kelompok referensi, yaitu kelompok atau orang yang menjadi acuan seseorang ketika membentuk sikap dan menentukan pilihan. Pengaruh tersebut tidak selalu buruk. Rekomendasi teman dapat membantu seseorang menemukan produk yang sesuai. Namun, jika keputusan membeli lebih banyak didorong oleh tekanan sosial, konsumen berisiko mengabaikan kebutuhan dan kemampuan keuangannya.

Penelitian yang terbit dalam Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen Indonesia pada 2026 juga meneliti penggunaan media sosial, persepsi kelangkaan, FOMO, dan pembelian impulsif pada produk blind box Pop Mart di kalangan Gen Z di Jakarta. Penelitian itu melibatkan 160 responden yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa produk koleksi yang populer dapat menjadi konteks penting untuk memahami hubungan antara media sosial dan dorongan membeli. Sumber penelitian melalui Garuda Kemdiktisaintek.

Meski demikian, hasil dari penelitian dengan kelompok responden tertentu tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh Gen Z. Setiap konsumen tetap memiliki kebutuhan, preferensi, dan pertimbangan yang berbeda.

Pembelian Impulsif: Membeli karena Ingin Ikut Tren

Ketika konsumen membeli sesuatu secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya, perilaku tersebut dapat disebut pembelian impulsif atau impulse buying.

Sebagai contoh, seseorang awalnya tidak berencana membeli tas baru. Namun, setelah melihat banyak kreator konten menggunakan tas yang sama, ia mulai tertarik. Ketika menemukan promosi yang dianggap menarik, ia akhirnya membeli tas tersebut tanpa membandingkan produk lain atau mempertimbangkan apakah tas itu benar-benar dibutuhkan.

Dalam situasi tersebut, keputusan pembelian bisa dipengaruhi oleh gabungan tren, paparan konten, promosi, dan emosi sesaat.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis pada 2026 turut membahas hubungan FOMO, gaya hidup belanja hedonis, dan pemasaran viral dengan pembelian impulsif pada produk fashion melalui flash sale Lazada. Penelitian terhadap 100 responden Gen Z pengguna Lazada Indonesia menemukan bahwa ketiga faktor tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembelian impulsif pada konteks yang diteliti. Baca penelitian.

Temuan tersebut tidak berarti semua konsumen Gen Z mudah terpengaruh tren. Akan tetapi, penelitian itu menunjukkan bahwa faktor psikologis dan strategi pemasaran digital layak diperhatikan ketika membahas alasan seseorang membeli produk secara spontan.

Bagaimana agar Tidak Mudah Terpengaruh Tren?

Mengikuti tren sebenarnya tidak selalu menjadi masalah. Mencoba makanan yang sedang populer, membeli pakaian yang disukai, atau mengoleksi barang tertentu bisa menjadi bagian dari kesenangan pribadi. Hal yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik keputusan pembelian tersebut.

Sebelum membeli produk viral, konsumen dapat menerapkan beberapa langkah sederhana.

Pertama, tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya menarik karena sering muncul di media sosial. Kedua, periksa anggaran dan pastikan pembelian tidak mengganggu kebutuhan utama. Ketiga, jangan terburu-buru mengambil keputusan hanya karena produk disebut terbatas atau sedang ramai dibicarakan. Keempat, cari informasi dari beberapa sumber, termasuk ulasan pembeli, agar penilaian tidak hanya bergantung pada konten promosi.

Memberi jeda sebelum checkout juga dapat membantu. Jika setelah beberapa waktu produk tersebut masih terasa menarik dan sesuai dengan kebutuhan maupun anggaran, konsumen bisa mempertimbangkan pembelian dengan lebih tenang.

Bagi pelaku usaha, fenomena ini juga menjadi pelajaran penting. Memahami tren dan psikologi konsumen dapat membantu perusahaan membuat strategi pemasaran yang relevan. Namun, membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan tetap membutuhkan kualitas produk, informasi yang jujur, serta manfaat yang benar-benar dirasakan konsumen.

Membeli karena Kebutuhan atau Sekadar Takut Tertinggal?

Fenomena Gen Z membeli barang yang sedang viral menunjukkan bahwa perilaku konsumen tidak hanya berkaitan dengan fungsi dan harga produk. Keputusan membeli juga dapat dipengaruhi oleh media sosial, lingkungan pertemanan, emosi, serta keinginan untuk menjadi bagian dari tren.

FOMO dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong pembelian impulsif, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Ada konsumen yang membeli karena benar-benar menyukai produk, ada yang ingin mencoba pengalaman baru, dan ada pula yang tertarik karena pengaruh lingkungan.

Karena itu, memahami perilaku konsumen penting agar seseorang dapat mengenali alasan di balik keputusan belanjanya. Mengikuti tren boleh saja, tetapi konsumen tetap perlu memastikan bahwa keputusan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangannya.

Pada akhirnya, tidak semua hal yang viral harus dimiliki. Konsumen tetap bisa menikmati tren tanpa harus membeli setiap produk yang sedang ramai dibicarakan.