Tren Blind Box dan Rasa Penasaran: Mengapa Konsumen Rela Membeli Barang yang Isinya Misteri?
Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Blind box semakin dikenal sebagai produk koleksi yang menarik perhatian konsumen, terutama anak muda. Produk ini menawarkan pengalaman membeli barang dengan isi yang belum diketahui sebelum kemasannya dibuka. Mulai dari figur karakter, gantungan kunci, hingga aksesori unik, konsumen tidak bisa memastikan produk apa yang akan diperoleh. Rasa penasaran tersebut membuat blind box memiliki daya tarik tersendiri. Dalam perilaku konsumen, fenomena ini menarik karena keputusan membeli tidak hanya didasarkan pada fungsi barang, tetapi juga emosi, pengalaman, dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap istimewa.
Apa Itu Blind Box?
Blind box merupakan produk yang dijual dalam kemasan tertutup dengan isi yang tidak diketahui secara pasti oleh pembeli. Biasanya, produk ini terdiri dari beberapa karakter atau varian dalam satu seri. Konsumen dapat memperoleh salah satu varian secara acak ketika membuka kemasan.
Salah satu contoh produk yang dikenal luas adalah koleksi figur karakter dari Pop Mart. Produk seperti Labubu, Molly, dan berbagai karakter lainnya memiliki desain yang berbeda serta seri koleksi tertentu.
Daya tarik blind box tidak hanya berasal dari bentuk produknya, tetapi juga dari pengalaman saat membukanya. Konsumen merasakan kejutan karena tidak mengetahui karakter yang akan diperoleh. Jika mendapatkan karakter yang diinginkan, muncul rasa senang. Sebaliknya, jika memperoleh karakter yang kurang diminati, sebagian konsumen mungkin tertarik membeli kembali untuk mencoba mendapatkan varian lain.
Situasi tersebut membuat blind box berbeda dari pembelian produk biasa. Konsumen tidak sepenuhnya mengetahui barang yang akan diterima ketika melakukan transaksi.
Rasa Penasaran Menjadi Daya Tarik Utama
Salah satu faktor yang membuat blind box menarik adalah rasa penasaran. Ketika konsumen tidak mengetahui isi kemasan, muncul dorongan untuk mencari tahu apa yang akan diperoleh.
Pengalaman ini dapat membuat proses membeli terasa seperti aktivitas hiburan. Konsumen bukan hanya memperoleh barang, tetapi juga menikmati momen ketika membuka kemasan dan melihat hasilnya.
Dalam perilaku konsumen, kondisi ini berkaitan dengan motivasi pembelian. Motivasi tidak selalu muncul karena kebutuhan fungsional, seperti membeli barang untuk digunakan. Ada pula motivasi emosional, yaitu keinginan mendapatkan kesenangan, pengalaman baru, atau kepuasan pribadi.
Misalnya, seseorang membeli blind box karena tertarik dengan karakter tertentu. Namun, ketika karakter yang diperoleh berbeda dari harapan, ia mungkin merasa ingin mencoba lagi. Keputusan pembelian berikutnya dapat muncul karena rasa penasaran yang belum terpenuhi.
Meski demikian, tidak semua pembeli blind box akan melakukan pembelian berulang. Sebagian konsumen cukup puas dengan satu produk, sedangkan sebagian lainnya memang memiliki tujuan mengoleksi seluruh karakter dalam satu seri.
Mengapa Konsumen Rela Membeli Berkali-kali?
Pembelian blind box dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan.
Pertama, keinginan melengkapi koleksi. Konsumen yang menyukai suatu karakter atau seri tertentu mungkin ingin memiliki seluruh varian yang tersedia. Ketika koleksi belum lengkap, muncul keinginan untuk mencari karakter yang belum dimiliki.
Kedua, persepsi kelangkaan. Beberapa produk memiliki karakter khusus atau secret edition yang jumlahnya lebih terbatas dibandingkan varian biasa. Informasi mengenai kelangkaan tersebut dapat membuat konsumen merasa produk tertentu lebih bernilai.
Ketiga, pengalaman emosional. Membuka blind box memberikan sensasi kejutan yang tidak selalu ditemukan dalam pembelian produk biasa. Pengalaman ini dapat menjadi alasan konsumen tertarik melakukan transaksi kembali.
Keempat, pengaruh lingkungan sosial. Ketika teman atau komunitas memiliki koleksi blind box, seseorang dapat terdorong untuk ikut mencoba. Aktivitas bertukar karakter, menunjukkan koleksi, atau membicarakan seri terbaru juga dapat memperkuat ketertarikan.
Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa keputusan membeli blind box tidak hanya dipengaruhi oleh produk itu sendiri. Pengalaman, lingkungan sosial, dan persepsi konsumen juga dapat membentuk keinginan untuk membeli.
Media Sosial Membuat Tren Blind Box Semakin Dikenal
Media sosial memiliki peran dalam memperkenalkan blind box kepada masyarakat. Video unboxing, ulasan koleksi, dan konten yang menunjukkan karakter langka dapat menarik perhatian pengguna.
Ketika konten tersebut muncul berulang kali di beranda, konsumen mungkin semakin penasaran dan ingin mencoba pengalaman yang sama. Selain itu, komentar dan reaksi pengguna lain dapat membentuk persepsi bahwa blind box merupakan produk yang menarik untuk dimiliki.
Fenomena ini berkaitan dengan pengaruh kelompok referensi dalam perilaku konsumen. Kelompok referensi adalah individu atau kelompok yang dapat memengaruhi sikap, preferensi, maupun keputusan seseorang.
Contohnya, seseorang yang awalnya tidak tertarik dengan blind box bisa mulai mengoleksi setelah melihat teman-temannya membicarakan karakter tertentu. Ia mungkin ingin memiliki koleksi yang sama agar dapat ikut dalam percakapan atau aktivitas komunitas.
Namun, pengaruh media sosial tidak selalu membuat konsumen membeli secara impulsif. Konten digital juga dapat menjadi sumber informasi untuk mengetahui desain produk, harga, dan pengalaman pembeli lain sebelum melakukan transaksi.
Blind Box dan Pembelian Impulsif
Dalam ilmu perilaku konsumen, pembelian impulsif atau impulse buying merupakan pembelian yang terjadi secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.
Blind box berpotensi mendorong perilaku tersebut ketika konsumen membeli karena dorongan sesaat, bukan karena kebutuhan atau rencana yang sudah dibuat.
Misalnya, seseorang awalnya hanya ingin membeli satu blind box. Namun, setelah mendapatkan karakter yang tidak sesuai keinginan, ia memutuskan membeli kemasan berikutnya dengan harapan memperoleh karakter yang diincar.
Jika keputusan tersebut dilakukan berulang kali tanpa mempertimbangkan anggaran, pengeluaran dapat menjadi lebih besar dari rencana awal.
Penelitian yang membahas perilaku pembelian blind box pada Gen Z di Jakarta menunjukkan bahwa media sosial, persepsi kelangkaan, dan FOMO menjadi faktor yang relevan dalam memahami keputusan pembelian produk koleksi. Penelitian tersebut menggunakan responden yang memenuhi kriteria tertentu, sehingga hasilnya perlu dipahami sesuai konteks penelitian dan tidak langsung digeneralisasikan kepada seluruh konsumen.
Hal ini memperlihatkan bahwa pembelian blind box dapat melibatkan kombinasi antara rasa penasaran, dorongan emosional, dan pengaruh sosial.
Apakah Membeli Blind Box Selalu Berarti Konsumtif?
Tidak selalu. Mengoleksi blind box dapat menjadi hobi yang memberikan kesenangan bagi konsumen. Seseorang mungkin memang menyukai desain karakter, menikmati aktivitas mengoleksi, atau menjadikan koleksi sebagai bagian dari minat pribadinya.
Perilaku konsumtif lebih perlu diperhatikan ketika pembelian dilakukan secara berlebihan, tidak sesuai kemampuan keuangan, atau mengabaikan kebutuhan utama.
Sebagai contoh, konsumen yang menetapkan anggaran khusus untuk membeli koleksi masih dapat mengelola hobinya dengan lebih terencana. Sebaliknya, seseorang yang terus membeli blind box meskipun tidak memiliki dana yang cukup perlu mengevaluasi kebiasaan tersebut.
Karena itu, penilaian terhadap perilaku konsumen tidak cukup hanya melihat jumlah barang yang dibeli. Alasan pembelian, kemampuan keuangan, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari juga perlu diperhatikan.
Cara Menikmati Blind Box dengan Lebih Bijak
Blind box dapat menjadi hiburan yang menyenangkan selama konsumen memahami batas pengeluarannya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebelum membeli.
Pertama, tentukan anggaran khusus untuk koleksi. Dengan begitu, pembelian tidak mengganggu kebutuhan utama.
Kedua, pahami bahwa isi blind box bersifat acak. Konsumen perlu menyadari bahwa membeli beberapa kemasan belum tentu menghasilkan karakter yang diinginkan.
Ketiga, jangan terburu-buru membeli hanya karena produk sedang viral atau disebut langka. Periksa informasi produk dan pertimbangkan apakah barang tersebut memang sesuai dengan minat pribadi.
Keempat, pertimbangkan alternatif lain, seperti membeli karakter yang diinginkan secara langsung dari kolektor atau melalui sistem penjualan yang memungkinkan konsumen memilih varian. Cara ini dapat membantu mengurangi ketidakpastian, meskipun harga dan ketersediaannya bisa berbeda.
Terakhir, nikmati koleksi sebagai hobi, bukan sebagai kewajiban untuk selalu mengikuti tren.
Memahami Perilaku Konsumen di Balik Tren Blind Box
Tren blind box menunjukkan bahwa konsumen tidak selalu membeli produk hanya berdasarkan fungsi atau kebutuhan. Rasa penasaran, pengalaman emosional, persepsi kelangkaan, dan pengaruh lingkungan sosial juga dapat membentuk keputusan pembelian.
Produk dengan isi misteri memberikan pengalaman yang berbeda karena konsumen tidak mengetahui secara pasti apa yang akan diperoleh. Ketidakpastian tersebut dapat menjadi daya tarik, terutama bagi konsumen yang menyukai kejutan dan aktivitas mengoleksi.
Dari perspektif Perilaku Konsumen, fenomena ini memperlihatkan pentingnya memahami motivasi dan proses pengambilan keputusan. Konsumen dapat membeli produk karena kebutuhan, kesenangan, pengaruh sosial, atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut.

