Kerajaan Sriwijaya dalam Aktivitas Kemaritiman

Mahasiswi Pendidikan Sejarah UNEJ
Tulisan dari Qurratul Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelayaran dan Perkapalan
Bukti tertulis mengenai penggunaan perahu sebagai sarana transportasi pada Sriwijaya diperoleh dari Prasasti, berita Cina dan berita Arab prasasti Sriwijaya yang menyebutkan penggunaan perahu adalah prasasti kedukan bukit yang bertanggal 16 juni 682 M. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dengan membawa 20.000 pasukan dan 200 buah peti perbekalan yang diangkut dengan perahu-perahu.
Pada zaman prasejarah, perahu bercadik memainkan peranan yang besar dalam hubungan perdagangan antar pulau di Indonesia dan antar kepulauan di Indonesia dan Asia Tenggara daratan karena ada hubungan dengan Asia Tenggara daratan, maka terjadilah tukar-menukar informasi teknologi dalam segala bidang misalnya dalam pembangunan Candi pembangunan kota dan tentu saja pembangunan perahu
Bandar-bandar Penting
Pelabuhan atau bandar yang baik biasanya terletak di sebuah teluk yang dalam dan terlindung dari angin kencang dan ombak besar. kadangkala Pelabuhan terletak di muara sebuah sungai yang besar dan agak masuk ke pedalaman. Aktivitas yang dilakukan pada sebuah Bandar adalah perdagangan dan pengisian bekal perjalanan misalnya bahan makanan dan air yang diperlukan selama pelayaran. Maju dan tidaknya sebuah Bandar biasanya tergantung pada daya tarik Bandar tersebut, misalnya tersedianya bahan komoditas perdagangan.
Pada Milenium 1 dan awal Milenium 2, di Sumatera terdapat beberapa Bandar penting. Lahirnya bandar-bandar ini antara lain disebabkan karena daya tarik pasar yang ada di Bandar tersebut dan dekat dengan jalur pelayaran yang ramai titik bandar-bandar tersebut antara lain barus di barat laut Sumatera, kota Cina di pantai Timur Sumatera, Jambi dan Palembang di pantai Tenggara Sumatera. Masing-masing Bandar tersebut mempunyai daya tarik tersendiri .
Barus, sebagaimana diberitakan oleh Claudius ptolemaeus, merupakan sebuah Bandar kuno yang telah ada pada abad 1 M. Dalam bukunya Barus disebut dengan nama Borousai. Beberapa penulis asing menyebutkan bahwa pada abad X, baru sudah menjadi bagian dari Sriwijaya. Di bandar ini diperdagangkan barang- barang komoditas dari China, antara lain keramik dan manik-manik kaca, dan dari Timur Tengah antara lain gelas kaca dari Persia dan Irak. Dari Barus sendiri menghasilkan kapur barus yang pada waktu itu menjadi komoditas perdagangan yang populer dan digemari oleh konsumen dari Timur Tengah.
Kota Cina dan Payapasir merupakan situs Pelabuhan kuno yang sangat penting dalam rangka perdagangan Asia Tenggara pada abad XI- XIV. letaknya di lembah Sungai Deli pantai Timur Sumatera Utara, sekitar 16 km dari kota Medan. Kota Cina telah diduduki oleh orang-orang Tamil Pada masa itu, dan di kota Cina diduga terdapat jaringan dagang persyarikatan besar pedagang Tamil yang melakukan kegiatan di wilayah Asia Tenggara. Orang Tamil juga telah bermukim di sini dan mereka membangun tempat ibadah dengan arca yang dipuja nya Buddha dan Wisnu.
Jambi merupakan salah satu Bandar penting yang mungkin lahir pada pertengahan Milenium I. Letaknya belum diketahui dengan pasti, Mungkin di salah satu tempat di tepi Batanghari, atau di kota Jambi sekarang. Di beberapa tempat di tepi Batanghari terdapat beberapa buah situs yang mengindikasikan keberadaan sebuah Bandar, antara lain Suak Kandis dan Jambi. Akan tetapi, di beberapa tempat di sepanjang tepian Batanghari banyak ditemukan situs yang tinggalan budayanya berupa keramik yang berasal dari abad XI-XIII. Temuan ini mengindikasikan bahwa Batanghari di masa lampau merupakan jalur pelayaran sungai yang cukup ramai yang menghubungkan daerah Jambi dan Cina atau tempat lain di luar Jambi (Munandar, A. 2012).
Aktivitas Perdagangan
Letak geografis Sumatera yang sangat strategis menjadi faktor penting dalam kegiatan perdagangan internasional. Kemampuan menjelajah lautan saja belum dapat menumbuhkan kekuatan perdagangan. Di samping kemampuan pelayaran harus pula menumbuhkan kepercayaan di dunia perdagangan. Para pedagang harus yakin bahwa berdagang dengan tempat itu akan mendatangkan keuntungan. Keyakinan ini tentu tidak perlu selalu disebabkan para pedagang tertarik kepada kondisi yang disediakan, tetapi dapat juga karena memang tidak ada alternatif lain. Armada Sriwijaya yang kuat berhasil menguasai daerah-daerah yang berpotensi dapat menjadi saingannya. Dengan cara ini ia menyalurkan barang-barang dagangannya ke pelabuhan-pelabuhan yang dikuasainya. Dari berita-berita Cina dapat disimpulkan bahwa Sriwijaya adalah salah satu pusat perdagangan antara Asia Tenggara dengan Cina yang terpenting. Sriwijaya tidak keberatan untuk mengakui Cina sebagai negara yang berhak menerima upeti. Hal tersebut merupakan bagian dari usaha diplomatiknya untuk menjamin agar Cina tidak membuka perdagangan langsung dengan negara lain di Asia Tenggara sehingga akan merugikan perdagangan Sriwijaya.
Perdagangan dengan Cina dan India telah memberikan keuntungan, besar kepada Sriwijaya. Kerajaan ini telah berhasil mengumpulkan kekayaan yang besar. Raja Sriwijaya dikenal karena kekayaannya. Sebuah legenda yang dikutip dalam sumber-sumber Cina menceritakan bahwa raja membuang sebongkah emas ke dalam sebuah kolam setiap tahun.
Selain memiliki kekuatan yang dapat menghilangkan niat untuk bersaing dan kekayaan yang termasyhur, Sriwijaya juga memenuhi kewajibannya kepada mereka yang berdagang dengannya serta menjamin keamanan jalur-jalur pelayaran yang menuju ke Sriwijaya. Perkembangan perdagangan pada masa itu tentu juga mengundang kemungkinan gangguan terhadapnya. Suatu hal yang menyebabkan para pedagang takut dan sering disebut dalam kisah-kisah perjalanan adalah kegiatan para bajak laut. Sampai abad kesepuluh, Sriwijaya rupa-rupanya dapat mengatasi masalah tersebut. Dalam kisah-kisah perjalanan masa itu tidak terdapat keluhan mengenai bajak laut di wilayah Sriwijaya.
Diduga pola pengamanan yang ditempuh adalah dengan memasukkan kepala-kepala kelompok bajak laut dalam ikatan dengan kerajaan. Mereka mendapat bagian yang ditentukan oleh raja dari hasil perdagangan. Dengan demikian mereka menjadi bagian dari organisasi perdagangan kerajaan. Dengan sendirinya, mereka justru akan berusaha agar kepentingan mereka jangan dirugikan oleh kelompok-kelompok bajak laut lain yang tidak menyertai pengaturan tersebut. Cara ini menjadikan bajak laut pengaman pada jalur-jalur pelayaran. Teritu pengaturan demikian hanya akan berjalan jika raja cukup mempunyai kewibawaan. Kewibawaan riil yang dilandasi kekuatan pengawasan yang disegani dan kewibawaan berdasarkan mitos yang dikembangkan. Salah satu kewibawaan riil adalah hasil diplomasi dengan China, Karena Sriwijaya merupakan sebuah negara yang mengirim upeti ke negara Cina, Cina berkewajiban memberi perlindungan jika diperlukan. Hubungan dengan Cina tersebut tentu disebarluaskan dan menjadi suatu faktor pencegah keinginan untuk merugikan Sriwijaya oleh negara-negara lain, khususnya Asia Tenggara.
Komoditas Perdagangan
Banyak berita asing yang memberikan perdagangan emas dan hasil hutan yang diambil dari bumi Sumatera. Komoditas ini dikirim melalui pelabuhan-pelabuhan yang mengambil lokasi di tepi sungai besar atau di tepi pantai Barat dan Timur Sumatera. Ada indikasi, maju dan mundurnya sebuah pelabuhan dapat bergantung pada sumber daya alam yang dipasarkan melalui pelabuhan tersebut. Sebuah kota sekaligus pelabuhan sungai atau pantai biasanya mengambil lokasi di tempat yang strategis, dekat dengan sumber alam atau mempunyai akses dengan sumber daya, alam misalnya pelabuhan Palembang, Jambi, Kota Cina dan Barus. Kerajaan Sriwijaya juga diperkirakan menjual komoditas pangan seperti beras dan kacang-kacangan.
Hasil Hutan
Hasil hutan Sumatera merupakan salah satu komoditas penting dalam perdagangan antar bangsa. Komoditas yang cukup populer antara lain adalah kapur barus, damar, storax ( bahan dasar untuk membuat minyak wangi), myrobalan (bahan dasar untuk membuat bahan pencelup), candu, dan benzoin. Damar dan kemenyan juga merupakan komoditas perdagangan yang banyak disukai oleh para pedagang asing. Damar adalah semacam getah dari spesies pohon pinus dan yang diperdagangkan ada dua jenis yaitu damar biasa dan damar wangi.
Hasil hutan lain yang juga merupakan komoditas dagang adalah kemenyan yang berasal dari getah pohon kemenyan. Selain merupakan tumbuhan liar, pohon kemenyan juga dibudidayakan tetapi tidak dilakukan secara besar-besaran seperti halnya dengan pohon karet. Selain hasil hutan dari jenis tumbuhan, ada juga hasil hutan dari jenis hewan. Berita-berita Cina menyebutkan barang komoditas perdagangan yang berupa hewan antara lain berbagai jenis burung dan mamalia.
Hasil Tambang
Bumi Sumatera kaya akan barang tambang karena logam inilah maka Sumatera dikenal juga dengan nama Swarnadwipa (pulau emas) atau Swarnabhumi (tanah emas) barang tambang yang dikenal oleh para pedagang dan menjadi komoditas penting adalah logam emas. Selain emas, beberapa logam lain juga ditemukan di Sumatera seperti perak, tembaga, besi, dan air raksa. Barang-barang logam itu telah lama ditambang jauh sebelum abad ke 16 yaitu ketika para penguasa barat melakukan penambangan secara besar-besaran di bumi Sumatera.
Hasil Bumi
Hasil bumi Sumatera tidak banyak dikenal oleh para pedagang asing. Berita Cina maupun Arab yang menyebutkan hasil bumi Sumatera sangat jarang. Kalaupun ada berita itu hanya menyebutkan beras dan Jelai. Apabila kita lihat dari tingkat kesuburan tanah dan sistem irigasi di Sumatera, maka daerah yang lebih memungkinkan sebagai tempat penghasil beras adalah daerah sekitar kaki gunung Dempo di Sumatera Selatan, dan daerah sekitar Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat. Kedua lokasi ini merupakan tanah endapan gunung berapi.
