Tim Dosen Pendidikan Biologi UHO Gelar Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Dosen S1 Pendidikan Biologi Universitas Halu Oleo (UHO)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ismail tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Salah satu bentuk AI yang menonjol dalam konteks pembelajaran adalah chatbot berbasis pemrosesan bahasa alami, seperti ChatGPT yang dikembangkan oleh OpenAI. Di lain sisi, transformasi pendidikan di era digital tak hanya menuntut kesiapan peserta didik dalam beradaptasi, namun juga menuntut kesiapan guru sebagai ujung tombak proses pembelajaran. Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, pada hari Senin 14 Juli 2025 tim dosen Pendidikan Biologi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMP Negeri 13 Kendari yang berlokasi di Jl. Dr. Sutomo, Kelurahan Lalodati, Kecamatan Puwatu. Adapun tema PKM yang dilakukan adalah “Pengembangan Kemampuan Guru dalam Menggunakan ChatGPT untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Sekolah.”

Tim dosen terdiri dari Ismail, S.Pd., M.Pd sebagai Ketua dan Ibu Maryce A. Walukou, S.Pd., M.Pd, Dra. Asmawati Munir, M.Si., Dr. Suarna Samai, SP., MP., bapak Dr. H. Kasman Arifin, M.Si., Dr. Safilu, M.Si. serta beberapa mahasiswa pendidikan biologi. Kegiatan diawali dengan sambutan dari kepala sekolah Hj. Yummi, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi dan antusiasmenya terhadap kegiatan yang dianggap sangat relevan dengan kebutuhan guru masa kini.
“Kami menyambut baik program pengabdian ini karena teknologi seperti ChatGPT bukan lagi hal asing di kalangan siswa. Guru harus mampu mengejar ketertinggalan dan menggunakan alat ini untuk memperkaya pembelajaran,” ujar Ibu Yummi.
Pengabdian ini diikuti oleh 25 guru di SMPN 13 Kendari dari berbagai mata pelajaran. Kegiatan dilaksanakan secara interaktif melalui pelatihan dan praktik langsung menggunakan ChatGPT, sebuah model kecerdasan buatan (AI) dari OpenAI yang mampu membantu dalam merancang soal, menyiapkan materi ajar, membuat rubrik penilaian, hingga merancang aktivitas berdiferensiasi di kelas. Menurut ketua kegiatan PKM, Ismail, S.Pd., M.Pd., pelatihan ini bertujuan membekali guru dengan keterampilan teknologi berbasis AI yang aplikatif dan praktis.
“Kami ingin para guru tidak hanya mengenal teknologi, tapi benar-benar melek digital dan bisa memanfaatkannya secara kreatif dalam pembelajaran. ChatGPT dapat menjadi “asisten” guru yang sangat membantu jika digunakan secara bijak.” Ujarnya.
Kegiatan ini dimulai dengan pengenalan konsep dasar kecerdasan buatan dan bagaimana ChatGPT bekerja. Para guru kemudian dibimbing dalam membuat akun, berlatih memberi prompt (perintah teks), dan memahami etika serta batasan penggunaan AI dalam konteks pendidikan.
Dalam sesi praktik, para peserta tampak antusias mencoba langsung berbagai fitur ChatGPT. Beberapa guru bahkan berhasil membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara cepat dengan bantuan AI, yang kemudian dikembangkan kembali sesuai dengan karakteristik siswa mereka.
Salah satu guru yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mengikuti kegiatan tersebut, mengaku awalnya ragu dengan kemampuan AI dalam dunia pendidikan. Namun setelah mencoba langsung, ia pun berubah pikiran.
“Ternyata sangat membantu. Saya bisa meminta ChatGPT membuat soal pilihan ganda, membuat rangkuman teks bacaan, bahkan menyusun rubrik penilaian. Yang penting kita tetap harus mengontrol dan menyunting hasilnya agar sesuai dengan kebutuhan siswa kita,” tuturnya.
Kegiatan pengabdian ini tidak hanya memberi pelatihan teknis, tetapi juga menekankan pada tanggung jawab moral dalam menggunakan teknologi. Para dosen menekankan pentingnya human touch dalam proses belajar-mengajar, serta menjaga keaslian karya guru dan siswa meski dibantu teknologi.
Menjelang akhir kegiatan, para guru diajak menyusun rencana tindak lanjut (RTL) berupa rencana integrasi ChatGPT dalam proses pembelajaran di kelas mereka masing-masing. Dalam diskusi, beberapa guru merencanakan akan menggunakan ChatGPT untuk membuat latihan soal mingguan, bahan ajar berdiferensiasi, hingga sebagai alat bantu dalam melakukan refleksi pembelajaran.
Kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara pihak sekolah dan tim dosen dari UHO untuk menjalin kolaborasi berkelanjutan dalam pengembangan kapasitas guru. Kegiatan pengabdian ini adalah bagian dari misi tridharma perguruan tinggi dan akan terus dilanjutkan ke sekolah-sekolah lain, terutama dalam mendukung literasi digital di kalangan pendidik.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, SMP Negeri 13 Kendari membuktikan diri sebagai sekolah yang terbuka terhadap perubahan dan pembaruan dalam dunia pendidikan. Penguatan kompetensi guru melalui literasi digital, seperti pemanfaatan ChatGPT, menjadi langkah strategis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih relevan, efisien, dan kontekstual di tengah arus perkembangan teknologi yang semakin berkembang.
