Konten dari Pengguna

Walaupun Sering Dianggap Ngeyel, Orang Pinggiran Tetap Butuh Perhatian Negara

Ismail

Ismail

Dosen S1 Pendidikan Biologi Universitas Halu Oleo (UHO)

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ismail tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah kisah dari kampung di bagian selatan Pulau Sulawesi.

Ilustrasi Homeless (Sumber: https://pixabay.com/photos/street-beggar-woman-homeless-2248101/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Homeless (Sumber: https://pixabay.com/photos/street-beggar-woman-homeless-2248101/)

“Assalamu alaikum. Buka pintumu, nak!”

Teriak Boge dengan wajah muram ke pemilik rumah menjelang azan magrib berkumandang. Mita, sang pemilik rumah, tetap saja tak bergeming. Dibiarkannya perempuan tua itu mengetuk-ngetuk pintu rumahnya berkali-kali. Tak kunjung ada jawaban, Boge akhirnya menyerah lalu beranjak pergi. Dari rumah itu, ia ayunkan lagi kakinya ke rumah di sebelahnya. Hasilnya tetap saja nihil. Di beberapa rumah lain yang ia tuju, penolakan serupa juga ia terima.

Di kampungnya saat ini, Boge menjadi sosok pesakitan. Kaum kerabat enggan serumah dengannya. “Orangnya suka menuduh macam-macam,” kata beberapa warga. Tiap hari Boge berjalan kesana kemari tak tentu rimbanya. Tapi jangan salah, ia bukanlah orang gila. Lebih tepatnya homeless. Informasi dari warga, ia tercatat pernah kawin dengan lima lelaki. Tidak sekaligus tentunya.

Namun perkawinan itu rupanya tidak mampu melahirkan satupun keturunan. Pun, romantika rumah tangganya tidak ada yang langgeng. Ia ditinggal mati oleh empat suaminya. Satunya lagi cerai. Oleh orang tua kolot di kampung itu, ia bahkan diberi gelar “perempuan patula-tula.” Artinya, pembawa sial bagi pasangan.

Maka tatkala petang menjelang, dijinjinglah setumpuk pakaiannya. Bantal, sarung, dan tikar seakan tak pernah mau berpisah dari badannya. Menemaninya menyusuri setiap jengkal jalanan di desanya. Setiap hari. Warga kampung yang melihatnya, sekelebat paham betul maksud dan tujuannya.

Umumnya mereka menolak dengan halus. Ada yang bergegas masuk ke rumah lalu menutup pintunya rapat-rapat. Menjelang malam tatkala lampu baru saja dinyalakan, tetiba dipadamkan kembali. Sebetulnya ada juga warga yang bersedia menerimanya dengan catatan: Besok pagi Boge harus minggat dari rumah itu. Sekonyong-konyong, kata “besok” bagi Boge, menjadi mata pisau yang dengan senang hati menebas urat nadi lehernya. Sebab jika sudah besok, ia mesti mencari lagi “sesuap nasi” di gubuk warga yang lain.

Masih di kampung yang sama.

Ilustrasi orang sedang stres (Sumber: https://pixabay.com/illustrations/man-office-weary-stress-worker-8751709/)

Serupa tapi tak sama, Yadi, lajang umur empat puluh tahunan, juga punya cerita sendiri. Tak seperti Boge, ia masih beruntung memiliki rumah sendiri meski sederhana. Namun ditenggarai warga, setelah sang bapak memadu kasih dengan perempuan lain lalu memilih serumah dengan istri barunya, di situlah Yadi berulah macam-macam.

Orang dewasa cenderung menghindari interaksi dengannya. Kata mereka, Yadi tidak pernah “nyambung” kalau diajak cerita. Teman bicaranya justru sekumpulan anak kecil, yang anda tahu, belum paham cara berpikir orang dewasa. Uniknya, ragam “mantra” mampu dirapalkan oleh anak-anak ini. “Yadi yang mengajari”. Jawab mereka ketika ada yang menanyai. Terhadap kerabatnya, Yadi juga seakan telah hilang harapan. “Tidak ada keluarga saya yang peduli,” katanya tempo hari.

Perlunya Negara Hadir

Barangkali ada benarnya jika manusia senang menyalahkan apa saja terhadap nasibnya. Keadaan, lingkungan, atau bahkan orang lain yang tidak tahu menahu hal ikhwal persoalan. Kita senang menyalahkan orang lain atas kesialan yang terjadi. Bahkan, ada saja yang berani mengumpat sesamanya atas rentetan kegagalan yang murni tersebab oleh kesalahannya sendiri.

Boge, saya pikir, telah melewatkan pelajaran penting perihal “nilai” seorang manusia. Akibatnya, ia seakan tidak peduli lagi dengan keadaannya saat ini. Tempo hari misalnya, seorang lelaki telah berbaik hati mendirikan rumah panggung sederhana untuknya, namun justru ia sendiri yang menambahi kemumetan di kepalanya. Seperlemparan batu dari rumahnya, ia didapati “menzalimi” seorang anak kecil kelas empat SD tanpa dalil yang dapat diterima akal sehat. Beruntung kasusnya tidak sampai ke meja hijau. Apesnya, ia tidak diizinkan lagi tinggal di lingkungan itu.

Yadi, di lain sisi, tak lebih baik. Ia seakan pasrah saja atas nasib yang menimpanya. Ragam nasihat seakan dianggap sebagai angin lalu belaka. Benar apa yang dikatakan sastrawan A.S. Laksana: “Kebodohan sejatinya bukanlah hiburan atau sesuatu yang patut ditertawakan. Namun, jika kebodohan itu berlangsung seakan tiada henti, ia bisa saja menjadi karnaval. Bahwa kita sebagai penonton tahu ada yang keliru di sana, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa selain tertawa.”

Kalau sudah begitu maka kehadiran negara untuk Boge, Yadi, dan saudara serupa kita yang lain, mutlak adanya. Bukankah itu adalah salah satu dari sekian tupoksi pendirian negara kita? Termaktub di dalam konstitusi kita yang mengamanatkan dengan tandas: “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Namun menilik kenyataan yang ada, sungguh memiriskan. Di kota misalnya, sekira 11 juta penduduk Indonesia masih dinyatakan berada pada garis kemiskinan. Di pedesaan lebih parah lagi, yakni mencapai 13 juta orang. Setidaknya, itulah data yang dirilis BPS per Maret 2024.

Karenanya, kita berharap bangsa Indonesia sebagai bangsa besar kata Presiden Prabowo bisa terus berbenah. Segala kebijakan pemerintah sekaitan dengan upaya pengentasan kemiskinan patut kita dukung. Hendaknya pula, segenap warga bangsa senantiasa menyingkirkan ragam ego yang menggerus karakter ke-Indonesiaan kita hari ini. Sebab, egoisme esensinya hanya menjadikan bangsa Indonesia selamanya berjalan lambat. Atau malah jalan di tempat. Tidakkah itu melelahkan?

Karena itu, kemerdekaan haruslah dinikmati oleh seluruh rakyat. Seluruh lapisan masyarakat. Sayangnya, orang-orang pinggiran dan saudara-saudara kita yang lain terutama di pelosok masih banyak yang belum seberuntung kita. Mereka belum dapat menikmati buah kemerdekaan yang kini semakin mendekati usia emasnya. Saya jadi teringat lagu “Orang Pinggiran” gubahan Franky Sahilatua dan Iwan Fals yang cukup menyayat hati. Begini penggalan liriknya:

“Lagunya nyanyian hati

Tarinya tarian jiwa

Seperti tangis bayi di malam hari

Sepinya waktu kala sendiri

Sambil berbaring meraih mimpi

Menatap langit, langit tak peduli

Sebab esok pagi kembali.”

(Ismail, Dosen FKIP Universitas Halu Oleo)