Air Galon Sekali Pakai vs Dilema Sampah Plastik?

Dosen FEB Univeraitas Muhammadiyah Palembang. Pengamat ekonomi Sumatera Selatan
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Amidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini perusahaan air minum dalam kemasan sepertinya berlomba-lomba menyediakan air galon sekali pakai. Air galon sekali pakai (single use) bermula dari perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) merek Le Minerale yang di produksi oleh PT Tirta Fresindo Jaya sebagai anak perusahaan PT Mayora. Le Minerale hanya memproduksi air galon yang dirancang untuk sekali pakai. Air galon sekali pakai merek Le Minerale sekaligus merupakan keunggulan produk air minum yang mereka produksi. Dalam memproduksi Le Minerale mereka menerapkan sistem Mineral Protection System (MPS) pada kemasan untuk menjaga kualitas air.
Dalam ringkasan AI dijelaskan bahwa air galon sekali pakai tersebut bisa dilihat dari beberapa aspek. Bahannya terbuat dari plastik PET (Polyethylene Terephthalate) yang ringan dan bening, aman dan dapat didaur ulang. Keunggulannya, galon selalu baru dan bersih karena tidak perlu melalui proses sehingga praktis. Kemasannya tersedia dalam ukuran 15 liter dan ada juga varian 5 liter.
Bila di simak dilapangan, kini tidak hanya perusahaan air minum dalam kemasan Le Minerale saja yang menyediakan air galon sekali pakai, tetapi ada yang lain dan terus akan diikuti oleh yang lain sebagai pendatang baru nantinya.
Mislanya, perusahaan air minum dalam kemasan yang mempunyai brand sudah terkenal dan lebih dahulu hadir di negeri ini yakni Aqua (PT Tirta Investama), selain menyediakan galon guna ulang atau galon isi ulang, Aqua juga telah menyediakan galon sekali pakai.
Selanjutnya ada beberapa perusahaan air minum lain yang menyediakan air galon sekali paai tersebut, seperti Cleo (PT Sariguna Primatirta Tbk), Vit, Amidis dan Prestine 8+ yang merupakan air minum dengan pH tinggi tersebut juga menyediakan kemasan galon sekali pakai. Tidak hanya itu, Alfa One pun sudah menyediakan galon sekali pakai selain galon isi ulang yang mereka sediakan selama ini.
Mengapa Marak?
Mengapa perusahaan air minum yang selama ini hanya menyediakan air galon isi ulang, kini mereka juga menyediakan air galon sekali pakai? Jawabnya, antara lain karena mereka terdorong untuk mengikuti pendahulunya, mereka tahu bahwa minat konsumen terhadap air galon sekali pakai saat ini mulai tinggi. Konsumen sudah gandrung dengan aspek kesehatan dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Air galon sekali pakai diyakini lebih higinis dari air galon isi ulang, karena air galon isi ulang harus melalui proses pencucian galon yang nota bene proses pencucian galon tersebut mungkin saja belum menjamin kebersihan galon.
Apalagi kalau konsumen yang menggunakan air galon isi ulang tersebut, galon yang mereka akan isi ulang yang dibawak ke depot /toko tersebut sudah sudah digunakan untuk mengisi air minum rebusan atau galon tersebut tidak dirawat dengan baik, tercemar bakteri dan atau dimasuki kecoak atau binatang lain.
Kemudian air galon sekali pakai yang disediakan perusahaan air minum tersebut adalah mengimbangi keinginan konsumen untuk mendapatkan air minum galon yang praktis. Konsumen tidak repot-repot harus menukar galon, kapan saja dimana saja konsumen bisa membeli air galon sekali pakai tanpa harus menukar atau membawa galon dari rumah..
Selanjutnya faktor pendorong perusahaan air minum yang lain ikut menyediakan air galon sekali pakai tersebut adalah untuk mengimbangi pesaing mereka. Kita tahu pesaing atau pendatang baru dibelentika perusahaan air minum yang terbilang baru berdiri tersebut sudah menyediakan air galon sekali pakai tanpa menyediakan air galon isi ulang.
Selanjutnya, air galon sekali pakai yang mereka sediakan tersebut adalah ekonomis, baik bagi perusahaan penyedia maupun bagi konsumen `sendiri. Selain itu air galon sekali pakai juga akan menekan produksi galon baru sebagai penambah galon yang sudah ada dan atau pengganti galon yang sudah ada namun sudah tidak layak pakai.
Galon Sekali Pakai Marak Sampah Plastik Bertambah?
Jika air galon sekali pakai dirasakan menguntungkan bagi perusahaan air minum, bukan tidak mungkin galon isi ulang lambat laun akan sirna. Apalagi jika konsumen sudah gandrung dengan air galon sekali pakai. Dengan demikian, berarti air galon sekali pakai berpotensi untuk dipertahankan dan dikembangkan.
Jika pada suatu saat sudah tidak ada lagi air galon isi ulang, berarti akan banyak di produksi galon untuk air galon sekali pakai. Dengan demikian pula, maka perusahaan air minum akan lebih banyak lagi menggunakan plastik sebagai bahan baku untuk memproduksi galon sekali pakai tersebut.
Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika semua perusahaan air minum sudah menggunakan galon sekali pakai. Perusahaan air minum saat ini sudah cukup banyak ditambah lagi ke depan akan hadir perushaan air minum merek lain.
Jika semua perusahaa air minum tersebut semua menggunakan air galon sekali pakai, maka akan lebih banyak lagi galon air minum sekali pakai tersebut dan sekaligus akan lebih banyak lagi sampah plastik yang akan tercipta.
Padahal sampah plastik dari sumber lain selama ini sudah menunggu. Sampah dari bekas pemakaian/penggunaan air minum dalam kemasan cangkir dan botol plastik selama ini saja sudah cukup banyak, belum lagi sampah plastik bekas air galon sekali pakai yang akan menambah jumlah/volume sampah plastik di negeri ini.
Belum lagi sampah plastik lain, seperti “kantong asoy atau kantong kresek” yang digunakan untuk membawa belanjaan, kemasan makanan, wadah pakaian sehabis di laundry, dan sebagai tempat untuk wadah sampah serta kegunaan lainnya.
Kembali ke sampah plastik air minum dalam kemasan tersebut. Bila dicermati, semenjak adanya produksi air minum dalam kemasan di negeri ini, jumlah penggunaan-nya terus bertambah. Seiring dengan itu, penggunaan cangkir (cangkir gelas/cangkir plastik) untuk minum sudah lama ditinggalkan, semenjak itu sampai kini masyarakat sudah beralih menggunakan air minum dalam kemasan yang bisa langsung diminum.
Air dalam kemasan tersebut beragam, mulai dari kemasan kecil atau gelas kecil, (220 ml - 240 ml), botol kecil (330 ml), botol sedang (450 ml - 600 ml, 750 ml), botol besar (1500 ml atau lebih) dan galon isi ulang standar 19 liter. Kemudian kini air galon 19 liter tersebut dikemas dalam bentuk air galon sekali pakai yang diproduksi oleh perusahaan/produsen air minum. Apalagi diprediksi ke depan air galon sekali pakai ini akan semakin marak.
Sampah palstik air minum dalam kemasan yang suda ada saja jumlahnya atau volumenya terus bertambah seiring dengan pertambahan pengguna air kemasan plastik itu sendiri. Setiap ada kegiatan mengumpulkan orang, setiap adanya meeting, setiap adanya acara pesta, dapat dipastikan akan tersaji air minim kemasan ukuran kecil (gelas) tersebut.
Bayangkan saja, jika dalam suatu pertemuan ada 1.000 orang saja, sedikitnya akan ada 1.000 sampah plastik ukuran kecil (gelas). Jika dalam suatu kampung ada lima acara pesta bersamaan dengan tamu undangan yang datang katakanlah rata-rata 1.000 orang tamu, maka akan ada 5.000 sampah plastik dari bekas air dalam kemasan ukuran kecil (gelas) tersebut. Belum lagi dalam suatu daerah, belum lagi penggunaan air dalam kemasan ukuran kecil (gelas) pada acara-acara lain, maka produksi sampah plastik akan semakin banyak.
Belum lagi sampah plastik air minum dalam kemasan ukuran lain termasuk ukuran galon sekali pakai tersebut. Memang air galon sekali pakai tersebut galon-nya bisa digunakan/dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif, misalnya untuk pot bunga atau lainnya, Namun, tidak semua pemakai memanfaatkannya kembali, kecendrungan akan menjadi sampah plastik yang akan menambah jumlah/volume sampah plastik dari air minum dalam kemasan.
Dengan mencermati banyaknya sampah plastik tersebut, berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi-nya, mulai membatasi sampah plastik dengan jalan menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar sampai pada langkah back to basic, kembali menerapkan pola/cara lama minum dengan gelas yang diterapkan oleh pemilik/pengelola hotel dan pemilik/pengelola gedung pertemuan.
Langkah Alternatif !
Dengan demikian, kita dihadapkan pada kondisi bertolak belakang (trade-off). Di satu sisi kita akan mengurangi sampah plastik karena sampah plastik lama baru bisa terurai, di sisi lain dengan munculnya air galon sekali pakai ini justru akan menambah jumlah/volume sampah plastik itu sendiri. Lantas, bagaimana sebaiknya?
Dalam hal ini ada beberapa langkah alternatif yang bisa dilakukan. Pertama, boleh saja menyediakan air galon sekali pakai tersebut, namun air galon isi ulang tetap dipertahankan. Kedua, galon bekas air galon sekali pakai tersebut diusahakan harus ada pihak (baik dari perusahaan/produsen air minum itu sendiri atau pihak lain) yang bisa didorong untuk mengumpulkan (membeli) galon bekas air galon sekali pakai tersebut untuk didaur ulang.
Ketiga, harus ada upaya menyadarkan anak negeri ini untuk tidak memproduksi sampah plastik terus menerus dengan jalan menekan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membiasakan minum dengan menggunakan gelas. Jangan membeli air minum dalam kemasan ukuran kecil (gelas atau botol) tetapi membeli air minum dalam wadah ukuran besar (seperti ukuran galon bahkan kalau ada yang lebih besar lagi), kemudian untuk meminumnya menggunakan gelas, seperti saat ini dilakukan di hotel-hotel.
Keempat, memberikan incentif kepada pihak yang dapat membantu mengurangi sampah plastik termasuk sampah plastik dari air minum dalam kemasan tersebut, dan Kelima, jika memungkinkan perusahaan/produsen air minum dapat menjual air minum ke rumah-rumah dengan jalan melakukan pengisian langsung ke rumah-rumah seperti perusahaan air minum yang mengisi air minum ke Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) tersebut, dalam hal ini tinggal pemilik rumah tangga yang menyediakan tempat/wadah. Memang repot, tapi ini pilihan alternatif untuk menekan sampah plastik.
Terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah komitmen dan konsistensi dari semua pihak bahwa kita memang benar-benar akan menekan sampah plastik tersebut, bukan melakukan langkah atau kebijakan setengah hati.
