Konten dari Pengguna

Kaitan Konten Hoaks Dengan Konten Iklan Di Media Sosial?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tentang Konten/Informasi hoaks. Gambar : Freepik. Photo : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tentang Konten/Informasi hoaks. Gambar : Freepik. Photo : Shutterstock

Oleh Amidi

Bila di simak, konten hoaks atau berita/informasi palsu sudah mulai merebak seiring dengan hadirnya media sosial di negeri ini. Di berbagai media sosial, ada saja konten hoaks atau berita/informasi palsu tersebut, apakah masalah hukum, masalah ekonomi, masalah sosial, masalah hidup dan kehidupan yang dihadapi oleh anak negeri ini dan masalah lainnya.

Konten hoaks tersebut, bisa hadir di mana saja, dan kapan saja. Di media sosial yang ada, di ruang-ruang publik, dan pada kesempatana lain, konten hoaks bertebaran setiap saat. Jika pembaca atau pengguna media sosial tidak cermat, mereka bisa “terkecoh” atau bisa “tertipu”.

Bila di simak, konten hoaks tersebut bertjuan untuk menggiring opini pengguna media sosial atau penikmat konten, untuk membakar emosi pengguna media sosial atau penikmat konten, dan bisa juga menjadi media motivasi bagi pengguna media sosial atau penikmat konten ikut terdorong terlibat membantu mensolusi permasalahan yang terkandung dalam konten hoaks tersebut.

Konten hoaks dapat dikenali dari beberapa indikasi, yakni; judul provkatif dan bombastis (clickbait), memancing emosi, mengagetkan, dan menakutkan. Biasanya sumber tidak jelas atau anonim, dan atau berasal dari situs web/akun media sosial abal-abal yang sulit diverifikasi. Kemudian isi tidak sesuai dengan judul, isi konten berbeda atau tidak nyambung dengan judul yang dibuat, manipulasi foto atau video, tangkapan layar yang dipotong, video hasil editan, mengandung ajakan untuk disebarkan. Dalam hal ini termasuklah tata bahasa buruk, sehingga cendrung memicu emosi dan kebencian. (gnld.siberkreasi.id, dan youtube.com)

Tujuan utama pembuatan dan atau penyebaran konten hoaks adalah untuk menyesatkan, menipu, atau memprovokasi khalayak agar mempercayai informasi yang salah sebagai sebuah fakta (telkomuniversity.id). Kemudian bisa menciptakan kepanikan dan kebingunggan, keuntungan ekonomi dengan jalan untuk mengejar jumlah kunjungan ke situs web tertetu demi pendapatan iklan dari berita yang dibuat sensasional. Adanya kepentingan politik dan ideologi untuk menjatuhkan lawan politik, mempengaruhi opini publik, memecah belah kelompok, atau memicu komplik menjelang atau selama momen politik. Kemudian lebih pada pencemaan nama baik dan fitnah yang mendapatkan pengakuan sosial (ringasan AI-youtube.com)

Kaitannya Dengan Iklan.

Bila diperhatikan, secara tidak langsung pembuat konten hoaks terkadang terinspirasi, dari konten iklan dan atau sajian iklan yang sangat menggoda di media sosial. Dari sanalah, mereka mulai berkreasi membuat konten atau sajian berita yang dilengkapi dengan gambar yang menggoda untuk di lihat, untuk di baca dan untuk di telaah.

Ditambah lagi adanya AI yang membantu mereka untuk membuat konten hokas tersebut. Sehingga, konten, sajian, berita, gambar dan semua atribut yang menyertainya memang sangat menggoda untuk di lihat, di baca, di telaah dan di diskusikan.

Bagi pelaku bisnis atau pedagang yang megiklankan suatu produknya, memang berupaya sedapat mungkin konten iklan yang mereka buat, termasuk pemeran iklan harus menarik. Terlebih pemeran iklan yang mereka tampilkan harus merupakan publik pigur, orang yang banyak pengikutnya, orang yang tergolong seleberiti. Apakah seleberiti dari kalangan artis, seleberiti dari kalangan ulama, seleberiti dari kalangan publik pigur yang sedang naik daun pada saat konten iklan tersebut ditayangkan.

Dengan demikian, tidak heran, jika para pembuat konten hoaks tersebut dapat menyajikan kontennya, sajian berita, sajian infroamsinya memang memancing pengguna media sosial untuk melihat, membaca, menyaksikan, dan melaah-nya.

Pengiklan Bekerjasama atau Tidak Sengaja?

Lantas, apakah ada indikasi pembuat konten hoaks bekerja sama dengan pelaku iklan atau sebaliknya pelaku iklan bekerja sama dengan pembuat konten hoaks atau pelaku bisnis yang mengiklankan suatu produk-nya justru memanfaatkan konten hoaks yang bertebaran di media sosial tersebut.

Dalam ringkasan AI dijelaskan bahwa sebagian besar pengiklan tidak bekerja sama secara sengaja dengan pembuat konten hoaks. Sebaliknya pengiklan menjadi pihak yang dimanfaatkan atau terjebak secara tidak langusung oleh ekonsistem periklanan digital.

Sebagaian besar brand atau perusahaan legal menempatkan iklan mereka melalui sistem programmatic advertising , seperti google Ads atau Meta Ads. (revou.co). Pengiklan tidak memilih secara manual di akun mana iklan mereka akan muncul. Mereka hanya menentukan target audiens berdasarkan demografi atau keterkaitan lainnya. (tempatbelajar.id)

Hanya pembuat konten hoaks sengaja memproduksi konten yang provokatif dan sensasional demi memicu traffic (kunjungan) yang tinggi. Sementara sistem algoritma membaca tingginya interaksi ini dan otomatis menayangkan iklan di sana. Kondisi ini justru merugikan pengiklan karena merusak reputasi merek atau brand, jika produk mereka beranding konten hoaks. (komdigi.go.id)

Namun, tidak menutup kemungkinan ada pihak pengiklan yang memang bekerja sama (oknum pengiklan hitam), misalnya produsen obat ilegal, kosmetik palsu dan lainnya senaja membayar pembuat konten hoaks atau pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka membuat narasi bodong, tertimoni palsu agar produk mereka laris manis.

Hal ini memungkinkan, karena dengan kepiawaian pembuat konten hoaks dan ditambah adanya AI, maka orang yang dipalsukan dalam pemeran konten tersebut, seperti memang orang yang dimaksud, baik photo/gambar, suara maupun gerak gerik dari orang yang menjadi pelaku konten hoaks tersebut. Singkat kata, orang/toko/petinggi yang diperankan dalam konten hoaks tersebut sama persis dengan aslinya.

Kemudian, yang terkadang membuat para pengguna media sosial atau pemburu konten tersebut “terkecoh”, karena orang yang dijadikannya pemeran konten adalah orang yang memang mempunyai kapasiatas sesuai dengan sasaran konten hoaks yang mereka buat tersebut. Misalnya,artis, dokter, dan lainnya termasuk petinggi-petinggi yang akan dibidik mereka.

Contoh yang tersaji di media sosial, konten salah seorang tokoh yang disajikan seakan sedang bertikai, misalnya si “RG” dengan koleganya. Koleganya menegor “RG” agar tidak sembarang memberi komentar soal wapres, karena rocky gerung sudah masuk atmosfir kekuasaan (wantimpres). Pada konten hoaks tersebut seakan-akan “RG” dalam posisi ciut, karena kena tegor dan seakan-akan “RG” memang menyadari kesalahannya.

Contoh lagi ada suatu konten yang beredar dimedia social, tentang kegaduhan yang sedang terjadi, sehingga rakyat marah, dalam konten tersebut seakan-akan, ada tangan yang menampar orang yang diindikasikan bersalah tersebut bahkan orang-orang dalam konten tersebut diperlihatkan memang wajah mereka.

Bila di simak, sebenarnya konten hoaks tersebut tidak etis, kurang sopan dan tidak wajar ditampilkan dimuka publik, karena orang-orang yang menjadi objek dalam konten tersebut terkadang termasuk petinggi yang harus dihormati.

Inilah faktanya suatu konten hoaks. Apa mau dikata, jika media sosial sudah bicara, dan atau sudah menggoda penggunanya. Tinggal, para ahli IT dan pihak yang kompeten di bidang komunikasi dan informasi yang sudah diberi wewenang, bagaimana menykapi konten hoaks yang sudah keterlaluan tersebut.

Dengan adanya AI, kita tidak bisa lagi, menahan, menghalangi, mencegah para kreator, para pembuat konten dan para pemburu cuan melalui media sosial yang mencurahkan pikirannya, dan kreatifitasnya tersebut. Saolanya, suatu benda yang berdiri kokoh saja, bisa dibuat konten seakan-akan roboh dengan seketika melalui AI yang mereka manfaatan.

Dinamika yang mendorong mereka berkereasi tersebut tidak pernah akan berhenti, hanya tinggal pengguna media sosial atau pemburu konten yang harus berhati-hati, dan atau harus cerdas dalam menjaring berita/informasi melalui konten-konten yang tersebar pada media sosial yang ada.

Pencegahan!

Untuk meminimalisir konten hoaks yang terus bertebaran, harus ada langkah antisipasi dan atau langlah pencegahan agar konten hoaks yang sudah terlanjur bertebaran pada media sosial tersebut segera bisa dihapus atau dihilangkan.

Kemudian perlu diberikan hukuman, terutama kepada pembuat konten hoaks yang menyesatkan para pengguna media sosial atau para pemburu konten,.

Memang terkadang ada gunanya juga konten hoaks yang mengarah pada unsur perbaikan moral, perbaikan kondisi yang tidak kondusif, pencegahan kesewenang-wenangan. Namun, walaupun tujuan baik tersebut dapat dijaring dari konten hoaks tersebut, tetap saja konten hoaks tersebut harus di atur, di cegah dengan suatu kekuatan hukum, agar konten hoaks bisa di eliminir dan tidak berseliweran atau tidak bertebaran di media sosial.

Terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah, mari kita meng-intropeksi diri masing-masing, sudahlah kita mengerem tindakan kita yang memunculkan kegaduhan diruang publik, dan kesewenang-wenangan tersebut. Masihkah kita berorientasi menjalankan amanah hanya untuk kepentingan diri dan kelompok bukan untuk rakyat yang memberi amanah ?. Jika ini sudah bisa tidak terjadi lagi, maka dengan sendirinya konten hoaks yang bertebaran tersebut akan berkurang dan lama kelamaan akan menghilang. Selamat Berjuanga!!!!!