Konten dari Pengguna

Perang Iran VS Amerika-Israel Akan Mengikis Ekonomiku?

Amidi

Amidi

Dosen FEB Univeraitas Muhammadiyah Palembang. Pengamat ekonomi Sumatera Selatan

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Suasana Perang. Photo" Google, Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Suasana Perang. Photo" Google, Freepik

Oleh Amidi

Perang Iran VS Amerika-Israel sampai kini belum menunjukkan tanda akan berakhir. Entah kapan akan berakhir?, yang jelas perang sudah mulai mengusik perekonomian negeri ini. Beberapa variabel ekonomi sudah mulai terkoreksi dan kecemasan pelaku bisnis di negeri ini sudah mulai terlihat.

Perang akan memicu lonjakan harga minyak dunia, akan menekan nilai rupiah, akan mempengaruhi suku bunga dalam negeri, akan menggangu arus modal, ,adanya potensi kenaikan biaya logistik dan akan adanya pembengkakan subsidi energi akibat gangguan pada jalur perdagangan internasional serta beberapa gangguan lainnya yang akan mengusik perekonomian negeri ini.

Kemudian ternyata perang Iran VS Amerika-Israel juga akan menyebabkan pasokan pupuk global terganggu, karena sejumlah pabrik pupuk di Asia berhenti beroperasi yang menyebabakan produksi pangan global terancamdan harga pangan akan melonjak tajam (lihat Kmpas.id, 10 Maret 2026).

Bagi pelaku bisnis skala besar mulai gusar dengan adanya perang tersebut. Bisnis yang mereka lakoni akan terganggu, pasar yang menjadi bidikan mereka tidak bisa diakses karena faktor keamanan dan beberapa rasa ketakutan lainnya akan menghantui mereka.

Selain itu ada yang lebih krusial lagi yakni terganggu-nya penerbangan yang rutenya melewati jalur-jalur daerah perang atau loksi dimana rudal diluncurkan. Dengan terganggunya penerbangan yang menyebabkan beberapa bandara takut beroperasi, sehingga beberapa pesawat tidak diterbangkan karena takut dihantam rudal yang berseliweran diatas langit kawasan sasaran. Terhentinya aktivitas penerbangan tersebut, tidak hanya menghentikan aktivitas perjalanan anak negeri ini dan negara lain, tetapi lebih jauh akan menciptakan “opportunity cost” yang tidak kecil .

Dampak secara langsung adalah turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (depresiasi).Beberapa hari ini nilai tukar dolar AS hampir sama dengan kondisi pada saat puncaknya krisis ekonomi tahun 1998 lalu. Dalam ringksan AI dijelaskan bahwa pada 15 Maret 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperediksi masih tertekan dan fluktuatif, berpotensi melemah dalam rentang Rp. 16.960,- sampai Rp. 17.020,- menyusul penutupan sebelumnya dilevel Rp. 16.960 per dolar AS pada 13 Maret 2026. Sentimen utama yang memicu pelemahan ini adalah lonjakan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah.

Kemudian dengan melonjaknya harga minyak dunia melampai $ 100 per barel akibat perang Iran VS Amerika-Israel dan penutupan selat Hormuz akan mempngaruhi cadangan minyak dalam negeri. Namun pemerintah memastikan cadangan BBM nasional aman untuk 20 hari ke depan. Namun, cadangan minyak Indonesia terbukti diproyeksikan hanya bertahan 10-12 tahun lagi. (Kompas.com,3 Maret 2026).

Begitu juga dengan angka inflasi. Perang Iran VS Amerika-Israel yang mendorong kenaikan harga minyak dunia melampai $ 100 per barel tersebut akan mendorong inflasi impor. Inflasi tahunan (yoy) dilaporkan berbagai media akan melonjak hingga 4,76 persen pada Februari/Maret 2026, mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Langkah Antisipasi?

Menyikapi perang Iran VS Amerika-Israel yang masih belum tuntas tersebut, harus diantipasi sedini mungkin, agar dampak negatifnya terhadap perekonomian negeri ini tidak terus berakumulasi sampai mengakibatkan terkoreksinya beberapa variabel ekonomi makro negeri ini.

Langkah yang mendesak dilakukan adalah harus ada upaya penghematan penggunaan energi (BBM). Penghematan BBM salah satunya bisa dilakukan dengan menekan aktivitas perjalanan yang menggunakan kendaraan. Jika perjalanan tersebut kurang penting, bisa ditunda atau dibatalkan. Kemudian bisa juga dengan menerapkan kebijakan bekerja di rumah atau WFH.

Seperti langkah WFH dalam menghemat BBM yang diwacanakan Presiden Prabowo Subianto. Namun perlu dikaji mendalam, bila mana WFH tersebut akan diberlakukan. Apakah tidak menggangu operasional perusahaan atau unit bisnis tempat pekerja bekerja. Apakah tidak menggangu kinerja pekerja pada perusahaan atau unit bisnis tempat pekerja bekerja. Apakah tidak mengikis penghasilan pekerja karena WFH akan menghilangkan tunjangan trasport dan uang makan pekerja.

Presiden Prabowo Subianto berpatokan dengan mensitir kebijakan yang diambil pemerintah Pakistan menyikapi kondisi yang ada saat ini dengan melaksanakan kebijakan seperti Pandemi Covid-19 di mana kantor pemerintah dan swasta menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau WFH sebanyak 50 persennya. Selain itu, jam kerja atau hari kerja juga dipotong menjadi 4 hari saja. (CNBCIndonesia.com,13 Maret 2026).

Kemudian perlu menjaga stabilitas nilai rupiah yang dapat dilakukan dengn pengawasan ketat terhadap lalu lintas voluta asing atau mata uang asing. Jangan sampai terjadi capital flight, jangan sampai ada transaksi yang merugikaan perekonomian negeri ini.

Selanjutnya harus ada upaya menjaga dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang sudah dicapai saat ini. Dengan adanya peristiwa perang Iran VS Amerika-Israel ini rasanya sulit untuk mencapai rencana pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun ini yang dicanangkan menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi yang sudah dicapai pada kisaran angka 5 persen pun justru akan terkoreksi.

Sedapat mungkin ,mengerem atau menambah pinjaman luar negeri Indonesia. Pinjaman atau utang luar negeri Indonesia yang sudah mencapai bahkan melebihi ambang batas tersebut jangan lagi ditambah, apapun alasannya.

Menjaga kondisi dalam negeri tetap stabil adalah juga merupakan langkah penting. Keputusan pemerintah melalui Panglima TNI menetapkan status Siaga I yang merupakan langkah antisipasi dampak peran Iran VS Amerika-Israel harus diindahkan dan didukung, karena kondisi aman dan tenang akan menciptakan stabilitas ekonomi negeri ini.

Sikap Petinggi?

Dalam mengantisipasi perang Iran VS Amerika-Israel agar tidak tambah “runyam” dan mengganngu perekonomian negeri ini, kita harus menentukan sikap untuk tidak menambah “kisru” kondisi yang ada.

Perang Iran VS Amerika-Israel tersebut tidak boleh dianggap enteng, harus disikapi dengans serius. Petinggi-petinggi negeri ini harus fokus pada tugas masing-masing dan harus saling bahu membahu utuk mensolusi dampak negatif perang terhadap perekonomian negeri ini. Jika ada kebiajkan atau langkah salah satu petinggi yang “getol” memperjuangkan perekonomian negeri ini, maka semua petinggi harus mendukung dan mensukseskan-nya, bukan justru menciptakan kondisi trade-off.

Jangan ada petinggi yang merasa lebih berjasa dalam melakoni tugasnya. Dalam mendorong percepatan laju perekonomian negeri ini, pastikan semua petinggi yang ada memberi kontribusi sesuai dengan kewenangan masing-masing. Hindari konplik antar petinggi, antar anak bangsa dan jika ada konplik yang belum tuntas, sudah saatnya untuk segera dituntaskan.

Upayakan antar petinggi tidak menciptakan kebijakan yang kontadiktif, jika ada rencana akan memberlakukan kebijakan yang akan menilbulkan goncangan dikalangan anak negeri ini dan goncangan terhadap perekonomian (misalnya menaikkan harga BBM), harus ditahan terlebih dahulu. Semasa perang ini stabilitas harus dijunjung tinggi, agar tercipta kondisi yang kondusif.

Menuntaskan permasalahan dalam negeri yang sedang berlangsung dan seakan-akan tidak kunjung tuntas tersebut, seperti kasus korupsi juga penting. Penanganan kasus korupsi di negeri ini diupayakan cepat selesai jangan berlarut-larut. Hal ini penting, dalam rangka meyakinkan investor yang sudah ada agar bertahan dan investor baru yang akan berinvestasi di negeri ini agar tidak mundur.

Terkahir yang tidak kalah pentingnya dilakukan oleh petinggi-petinggi negeri ini adalah mengedepankan kepentingan ekonomi dengan mengesampingkan terlebih dahulu kepentingan politik. Fenomena geopolitk yang sedang terjadi ini jangan diperparah oleh kepentingan politik oknum tertentu yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Selamat berjuang!!!!!