Konten dari Pengguna

Sebaiknya Lanjutkan Saja Bisnismu Pasca Ramadhan!

Amidi

Amidi

Dosen FEB Univeraitas Muhammadiyah Palembang. Pengamat ekonomi Sumatera Selatan

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Belanja Online. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Belanja Online. Foto: Shutterstock

Berdasarkan pengalaman bahwa setiap tibanya bulan Ramadan, para pelaku bisnis baik skala kecil maupun skala besar bergembira dengan tibanya bulan Ramadan. Tidak hanya, pelaku bisnis yang sudah ada dan sudah eksis saja, tetapi pelaku bisnis baru dan dadakan pun demikian. Semua pelaku bisnis (muslim maupun non muslim) senang dan gembira, karena bulan Ramadan merupakan kesempatan emas bagi mereka untuk memburu konsumen dalam rangka meningkatkan volume penjualannya yang akan berimbas pada peningkatan profit.

Pasca Ramadan Berhenti?

Pelaku bisnis baru yang akan memasuki pasar menjelang bulan Ramadan dan pelaku bisnis dadakan yang biasanya hanya melakukan bisnis sepanjang bulan Ramadan saja. Pasca Ramadhan biasanya mereka akan berhenti melakoni unit bisnis-nya.

Para pelaku bisnis baru dan dadakan pada saat tibanya bulan Ramadan, biasanya hanya memanfaatkan momen bulan Ramadan saja, mereka memburu konsumen hanya sepanjang Ramadan saja.

Di luar bulan Ramadan, aktivitas pelaku bisnis yang menata dan meningkatkan intensitas bisnis-nya jarang terlihat, sebelum tibanya bulan Ramadhan suasana di tepi jalan atau di bibir jalan atau kampung-kampung tidak terlihat pedagang menggelar barang dagangannya, terutama yang terkait dengan kebutuhan sepanjang bulan Ramadan dan menyambut hari raya Idul Fitri (lebaran), namun begitu tibanya bulan Ramadan, pelaku bisnis skala besar mulai menata dan meningkatkan kapasita bisnis-nya dan pelaku bisnis skala kecil dan pelaku bisnis dadakan mulai menggelar barang dagangannya dilokasi-lokasi tersebut.

Tidak heran, jika terlihat di tepi jalan, di gang, di kampung-kampung pelaku bisnis dadakan mulai menggelar makanan (takjil), kue-kue, aneka minuman kaleng serta berbagai perabot/perlengkapan rumah tangga,seperti karpet dan lainnya dalam rangka memanfaatkan momentum bulan Ramadhan tersebut.

Kesemua itu dilakukan pelaku bisnis dalam rangka memburu konsumen, dalam rangka meraub rupiah dan dalam rangka menambah semaraknya bulan Ramadhan. Tidak heran, jika mereka menambah durasi waktu menggelar barang dagangannya, ada yang buka sampai larut malam bahkan ada yang buka 24 jam. Jika sebelumnya, pelaku bisnis yang buka 24 jam hanya pelaku bisnis tertentu, begitu tibanya bulan Ramadhan tidak sedikit pelaku bisnis yang membuka bisnis-nya 24 jam.

Kegembiraan dan kegairahan pelaku bisnis tersebut terkadang mereka “hentikan” pasca bulan Ramadhan. Dengan kata lain, kegembiraan dan kegairahan pelaku bisnis pasca Ramadhan mulai memudar bahkan kebanyakan mereka “hengkang” (exit) dari pasar, terutama pelaku bisnis dadakan, mereka mulai meninggalkan pasar dan mereka sudah beralih ke aktivtas diluar bisnis.

Bila ditelusuri, pelaku bisnis dadakan tersebut hanya berorientasi memanfaatkan momentum bulan Ramadhan saja, mereka sepertinya belum tertarik untuk melanjutkan bisnis-nya. Begitu juga dengan pelaku bisnis yang sudah ada dan sudah eksis tersebut, mereka dengan serta merta hanya menata dan meningkatkan kapasitas bisnis-nya sepanjang bulan Ramadhan saja, setelah itu kondisi tersebut mulai kembali seperti sedia kala.

Lanjutkan!

Idealnya, pelaku bisnis yang sudah melakukan penataan dan peningkatan kapasitas bisnis-nya tersebut dapat melanjutkan kebiasaan baik dan melanjutkan bisnis-nya pasca Ramadhan.

Bagi pelaku bisnis dadakan tersebut, idealnya pasca Ramadhan sebaiknya dapat melanjutkan unit bisnis yang sudah dilakoninya sepanjang bulan Ramadhan tersebut.

Caranya, dengan mempertahankan minat bisnis (jiwa bisnis) yang sudah tumbuh tersebut, format bisnis yang dijalankan sepanjang bulan Ramadhan hanya perlu dibenahi dan disesuaikan saja dengan kondisi yang ada dan disesuaikan saja dengan pasar yang akan dimasuki serta harus ada upaya mempertahankan konsumen yang sudah pernah berbelanja agar menjadi pelanggan.

Jika sebelumnya pelaku bisnis dadakan pada saat memesrai bulan Ramadhan hanya menggelar barang dagangan dengan perlengkapan seadanya, maka pasca Ramadhan semua itu harus dilakukan penyesuaian, diperbaiki dan ditingkatkan lagi.

Jika selama melakoni unit bisnis sepanjang bulan Ramadhan kita hanya menggunakan lapak dengan mangkal di bibir jalan, maka pasca Ramadhan usahakan lapak bisa dipermanenkan. Misalnya dengan menyewa di-emper-an toko milik pelaku bisnis yang ada dilokasi terebut atau menyewa halaman rumah penduduk, sehingga lapak kita bisa dipermanenkan.

Jika selama bulan Ramadhan, kita hanya menjualkan barang (makanan) orang lain (emak-emak) yang mereka pr0duksi dirumah, maka pasca Ramadhan ini kita sudah bisa memproduksi sendiri untuk dijual. Jika sepanjang bulan Ramadhan kita hanya menjual kebutuhan konsumen dalam menyambut bulan Ramadhan dan lebaran, maka pasca Ramadhan nanti barang-barang yang akan kita jual harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Manfaatkan Semua Momen!

Untuk merebut pasar, untuk memperbanyak konsumen berkunjung dan untuk meningkatkan pangsa pasar, maka semua pelaku bisnis harus pandai-pandai memanfaatkan semua momentum dan atau semua kondisi yang ada.

Jika tibanya buan Ramadhan, kita berlomba-lomba memanfaatkan momentum bulan Ramadhan tersebut, dan pasca Ramadhan pun kita harus memnafaatkan semua momentum dan semua kondisi yang ada. Jika pada saatnya ada momentum hari besar keagamaan, maka sambut momentum tersebut dengan mempersipakan segala sesuatunya untuk menata unit bisnis kita sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen pada saat itu. Jika ada momentum hari kemerdekaan, maka manfaatkan momentum tersebut dengan memformat unit bisnis kita dengan segala sesuatu yang dibutuhkan dan yang diinginkan konsumen pada saat itu. Jika ada momentum even tertentu, maka sambut momentum tersebut dengan menyesuaikan kondisi-nya.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Dalam melanjutkan unit bisnis, terutama bagi para pelaku bisnis dadakan, kita harus melakukan berbagai langkah untuk melanjutkan unit bisnis yang dilakoni tersebut. Hal ini penting, bukan saja untuk melanjutkan unit bisnis saja, tetapi bagaimana agar unit bisnis kita eksis,terus maju dan berkembang.

Belajar dan memperlajari kesuksesan pelaku bisnis terdahulu yang sudah sukses adalah penting. Bila perlu lakukan komunikasi dan hubungan kemesraan kepada mereka yang sudah sukses, jangan malu bertanya dan jangan segan “mengorek” kunci kesuksesan mereka.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah kesiapan mental dalam menghadapi resiko bisnis yang akan terjadi. Misalnya, bagi pedagang eceran atau warung rakyat setelah bersaing dan telah melakukan berbagai upaya dalam mempertahankan konsumen ditengah gempuran ritel modern yang ada disamping kiri kanan kita, bisnis kita masih juga berjalan ditempat, dan pada saatnya unit bisnis (warung) kita sudah tidak bisa dipertahankan sampai akhirnya bangkrut (collaps), maka kita harussiap mental menerima dengan lapang dada sembari mempersipakan langkah selanjutnya.

Jika kita memang harus tutup atau collaps, masih ada langkah lain yang bisa kita lakukan untuk tetap melanjutkan melakukan bisnis. Misalnya, pada saat warung kita bangkrut atau tutup akibat tidak bisa bertahan, maka secepatnya merintis unit bisnis baru yang akan menggantikan bisnis yang sudah dilakoni. Bisa melakukan bisnis non ritel bisa menjadi pelaku bisnis dibidang peternakan, atau akan melakukan bisnis di bidang jasa.

Namun perlu diingat bahwa unit bisnis yang bisa dilakoni itu banyak, tersedia berbagai aktivitas bisnis lain, asal kita ada kemauan untuk tetap bisa masuk pasar. Jika mental kita turun, minat melakukan bisnis mulai kendor, maka sulit untuk bisa bangkit kembali.

Bagi mereka yang sudah terlanjur berdagang barang kelontongan, karena banyaknya pesaing termasuk ritel modern yang begitu luar biasa-nya, maka bisa saja kita beralih menjadi pelaku bisnis “berdagang gas dan tabung gas ukuran 3 kg”.

Permintaan gas ini 3 kg tersebut terus meningkat, seiring dengan pertambahan pamakai gas 3 kg itu sendiri, baik dari kalangan rumah tangga maupun dari kalangan pelaku bisnis sendiri.

Selanjutnya bisa juga melanjutkan bisnis dengan mencari format baru. Misalnya, dengan melakukan bisnis secara on line disamping secara konvensional. Bisnis on line ini bisa dilakoni dengan menjual berbagai barang, hanya perlu akses dan hubungan yang luas, agar dalam penyediaan barang-barang yang akan kita jual tetap tersedia.Intinya, pasca Ramadhan sebaiknya kita jangan berhenti berbisnis harus tetap melakoni bisnis dengan memanfaatkan peluang pasar yang ada. Selamat Berjuang!!!!!!