Konten dari Pengguna

AI Bisa Mengajar, Tetapi Bisakah Mendidik? Refleksi filsafat Islam di Era AI

Nayla Andiena

Nayla Andiena

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nayla Andiena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Nayla Andiena Achmad

Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Ibn Khaldun

andienaachmad@gmail.com

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Saat ini, AI menjadi salah satu teknologi yang banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk mencari informasi, memahami materi, hingga membantu menyelesaikan tugas akademik. Kehadirannya memberikan kemudahan dalam proses belajar, tetapi juga menghadirkan pertanyaan penting: jika AI mampu memberikan pengetahuan, apakah teknologi ini juga mampu mendidik manusia?

Menurut saya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat seseorang memperoleh informasi, tetapi juga bagaimana ilmu membentuk cara berpikir, karakter, dan tanggung jawab. Ketika AI digunakan tanpa sikap kritis, proses belajar dapat berubah menjadi sekadar mencari jawaban instan tanpa memahami makna dari ilmu yang diperoleh.

Hal ini menarik untuk dikaji melalui perspektif filsafat Islam, khususnya pemikiran Ibn Khaldun tentang pendidikan. Ibn Khaldun memandang pendidikan sebagai proses membangun kemampuan berpikir malakah melalui pengalaman, latihan, dan pembiasaan. Dari pemikiran tersebut, dapat dipahami bahwa teknologi seperti AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan proses pembentukan manusia secara utuh.

Artikel ini membahas bagaimana pemikiran Ibn Khaldun dapat menjadi refleksi dalam melihat peran AI di dunia pendidikan. Sebab, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mendapatkan informasi, tetapi juga tentang membentuk manusia yang mampu berpikir dan menggunakan ilmu secara bijaksana

Ketika AI Mulai Mengubah Cara Manusia Belajar

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) perlahan mengubah cara manusia belajar. Jika dulu mahasiswa harus mencari informasi melalui buku atau berbagai sumber secara manual, kini berbagai pengetahuan dapat diakses dengan lebih mudah melalui teknologi AI. Aplikasi seperti ChatGPT misalnya, mulai banyak digunakan untuk membantu memahami materi, mencari ide, hingga menjadi teman diskusi ketika mengalami kesulitan dalam belajar. Perubahan ini menunjukkan bahwa AI memiliki peluang besar untuk mendukung dunia pendidikan, terutama dalam memperluas akses informasi dan membantu proses pembelajaran (Zawacki-Richter dkk., 2019).

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, ada hal yang perlu dipikirkan kembali. Menurut saya, tantangan terbesar dari penggunaan AI bukan hanya tentang seberapa canggih teknologinya, tetapi bagaimana manusia mampu menggunakannya dengan bijak. AI memang dapat memberikan jawaban dalam waktu singkat, tetapi belajar tidak hanya tentang menemukan jawaban. Ada proses memahami, menganalisis, berdiskusi, dan membangun cara berpikir yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh teknologi.

Penggunaan AI dalam pendidikan juga mulai banyak dikaji oleh para peneliti. Syahrizal dan Firdaus (2026) menjelaskan bahwa ChatGPT dapat menjadi salah satu media pendukung dalam pembelajaran karena membantu peserta didik memahami materi dan mengembangkan ide. Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan keterlibatan aktif dari manusia agar proses belajar tidak berubah menjadi sekadar menerima informasi tanpa memahami maknanya.

Bagi saya, kehadiran AI seharusnya tidak membuat manusia menyerahkan seluruh proses belajar kepada teknologi. AI memang mampu membantu memberikan informasi, tetapi pendidikan memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu membentuk manusia yang mampu berpikir, memahami, dan menggunakan ilmu secara bijaksana. Di sinilah pemikiran Ibn Khaldun menjadi menarik untuk dikaji, karena ia melihat pendidikan bukan hanya sebagai proses menerima ilmu, tetapi juga sebagai proses membangun kemampuan, pengalaman, dan karakter manusia.

Pendidikan Menurut Ibn Khaldun: Ilmu yang Tidak Sekadar Dipindahkan

Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, dunia pendidikan seperti dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting: apakah belajar hanya tentang seberapa banyak informasi yang bisa kita dapatkan? Menurut saya, jawabannya tidak sesederhana itu. Pendidikan bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengalami proses untuk memahami dan membentuk dirinya.

Pandangan ini sebenarnya sudah terlihat dalam pemikiran Ibn Khaldun. Ia melihat bahwa ilmu tidak cukup hanya diterima, tetapi perlu dibangun melalui proses latihan, pengalaman, dan pembiasaan. Dalam konsep malakah, Ibn Khaldun menjelaskan bahwa kemampuan seseorang tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk melalui proses yang dilakukan secara terus-menerus (Al Manaf, 2019).

Pemikiran tersebut terasa semakin relevan ketika dikaitkan dengan kehadiran AI saat ini. Teknologi seperti ChatGPT memang mampu membantu manusia mendapatkan informasi dalam hitungan detik. Namun, apakah cepat mendapatkan jawaban berarti seseorang sudah benar-benar memahami ilmu? Menurut saya, di sinilah batas antara teknologi dan pendidikan mulai terlihat.

AI dapat memberikan penjelasan, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman seseorang dalam belajar. Proses bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, hingga menemukan pemahaman sendiri merupakan bagian penting yang membentuk kemampuan manusia. Hal inilah yang menjadi salah satu poin penting dalam pemikiran Ibn Khaldun bahwa pendidikan bukan hanya tentang memberikan ilmu, tetapi juga membangun kemampuan manusia melalui proses (Kurniandini dkk., 2021).

Karena itu, kemajuan AI seharusnya tidak membuat pendidikan kehilangan maknanya. Teknologi boleh membantu manusia belajar, tetapi proses membentuk cara berpikir dan karakter tetap membutuhkan peran manusia. Pemikiran Ibn Khaldun mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya sesuatu yang disimpan dalam pikiran, tetapi sesuatu yang harus tumbuh menjadi kemampuan dan sikap dalam kehidupan (Adina & Wantini, 2023).

AI Bisa Mengajar, tetapi Bisakah Mendidik? Sebuah Refleksi Filsafat Islam

Hari ini, belajar terasa jauh lebih mudah dibandingkan beberapa tahun lalu. Mahasiswa tidak lagi harus membuka banyak buku hanya untuk mencari satu informasi. Dengan bantuan AI seperti ChatGPT, berbagai pertanyaan dapat dijawab dalam waktu singkat, mulai dari membantu memahami konsep yang sulit hingga memberikan ide ketika seseorang mengalami kebuntuan dalam menulis.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam. Jika sebuah teknologi mampu menjelaskan berbagai hal dengan cepat, apakah itu berarti teknologi tersebut juga mampu mendidik manusia? Menurut saya, di sinilah kita perlu membedakan antara memberikan informasi dan membentuk seseorang melalui pendidikan.

Pendidikan tidak hanya membuat manusia menjadi lebih tahu, tetapi juga membangun cara berpikir, pengalaman, dan kemampuan dalam menggunakan pengetahuan. Seseorang tidak menjadi ahli hanya karena membaca banyak informasi, tetapi karena melewati proses belajar yang melibatkan latihan, kesalahan, dan pengalaman.

Pandangan tersebut dapat ditemukan dalam pemikiran Ibn Khaldun mengenai proses pendidikan. Ia menjelaskan bahwa kemampuan seseorang tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pembiasaan dan latihan yang dilakukan secara berulang. Konsep malakah dalam pemikiran Ibn Khaldun menunjukkan bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika telah menjadi kemampuan yang melekat dalam diri seseorang (Al Manaf, 2019).

Jika dibandingkan dengan AI, teknologi memang memiliki keunggulan dalam mengolah dan menyajikan informasi. Namun, AI tidak mengalami proses menjadi manusia yang belajar. AI tidak merasakan kegagalan ketika mencoba memahami sesuatu, tidak membangun pengalaman dari kesalahan, dan tidak mengalami perkembangan cara berpikir seperti manusia.

Penelitian mengenai AI dalam pendidikan menunjukkan bahwa teknologi ini dapat memberikan manfaat besar dalam mendukung pembelajaran. Zawacki-Richter dkk. (2019) menjelaskan bahwa AI memiliki potensi untuk membantu proses pendidikan, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Hal ini juga terlihat dalam penggunaan ChatGPT yang dapat menjadi pendukung belajar, selama pengguna tetap aktif memahami dan mengolah informasi yang diberikan (Tlili dkk., 2023).

Pada akhirnya, AI bukanlah ancaman bagi pendidikan, tetapi sebuah tantangan bagi manusia untuk tetap mempertahankan makna belajar. AI dapat membantu manusia menemukan jawaban, tetapi pendidikan membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar jawaban. Pendidikan membutuhkan proses yang membentuk pemikiran, pengalaman, dan karakter. Karena mendidik bukan hanya tentang membuat seseorang mengetahui sesuatu, tetapi tentang membantu seseorang berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

Menjadikan AI sebagai Mitra, Bukan Pengganti Pendidikan

Kehadiran AI sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditolak dalam dunia pendidikan. Justru, teknologi ini bisa menjadi peluang baru untuk membantu manusia belajar dengan cara yang lebih mudah dan cepat. Mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk mencari informasi, memahami materi yang sulit, atau menemukan sudut pandang baru dalam sebuah pembahasan.

Namun, kemudahan tersebut perlu disikapi dengan bijak. Jangan sampai AI membuat seseorang terbiasa menerima jawaban tanpa mau memahami proses di baliknya. Sebab, belajar bukan hanya tentang mendapatkan hasil akhir, tetapi juga tentang bagaimana seseorang berpikir, mencari tahu, dan membangun pemahamannya sendiri.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Ibn Khaldun yang melihat pendidikan sebagai proses membentuk kemampuan manusia melalui pengalaman dan latihan. Ilmu tidak cukup hanya diketahui, tetapi perlu dipahami dan menjadi bagian dari cara seseorang berpikir serta bertindak.

Menurut saya, AI sebaiknya diposisikan sebagai teman belajar, bukan sebagai pengganti proses pendidikan. Teknologi memang bisa membantu manusia mendapatkan pengetahuan, tetapi manusia tetap memiliki peran utama dalam mengolah ilmu dan menentukan bagaimana ilmu tersebut digunakan. Dengan begitu, perkembangan AI tidak menghilangkan nilai pendidikan, tetapi justru dapat membantu manusia belajar dengan cara yang lebih baik.

Penutup

Kehadiran AI memang membawa perubahan besar dalam cara manusia belajar. Teknologi ini membuat informasi menjadi lebih mudah diakses dan membantu banyak orang memahami berbagai hal dengan lebih cepat. Namun, dari pembahasan ini kita bisa melihat bahwa belajar bukan hanya soal mendapatkan jawaban dalam waktu singkat.

Pemikiran Ibn Khaldun mengingatkan bahwa pendidikan membutuhkan proses. Seseorang tidak hanya menjadi berilmu karena banyak membaca atau menerima informasi, tetapi juga karena mengalami, berlatih, dan membangun pemahamannya sendiri. Hal inilah yang membuat pendidikan manusia memiliki nilai yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Jadi, AI mungkin bisa membantu manusia dalam mengajar dan memberikan pengetahuan, tetapi mendidik tetap membutuhkan sentuhan manusia. Teknologi bisa menjadi teman dalam perjalanan belajar, tetapi bagaimana ilmu membentuk diri seseorang tetap bergantung pada manusia itu sendiri.

Daftar pustaka

Zawacki-Richter, O., Marín, V. I., Bond, M., dan Gouverneur, F. (2019). “Tinjauan sistematis penelitian tentang aplikasi kecerdasan buatan di pendidikan tinggi – di mana pendidiknya?” International Journal of Educational Technology in Higher Education, 16(39)

Syahrizal, I. dan Firdaus, FM 2026. Persepsi Siswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar tentang Penggunaan ChatGPT dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. DIDAKTIKA: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar. 8, 2 (Maret 2026), 193–206. DOI:https://doi.org/10.21831/didaktika.v8i2.96004.

Kurniandini, S., Chailani, M. I., & Fahrub, A. W. (2022). Pemikiran Ibnu Khaldun (Pragmatis-Instrumental) Tentang Pendidikan dan Relevansinya dengan Dunia Modern. Jurnal Pendidikan, 31(3), 349–360. https://doi.org/10.32585/jp.v31i3.2864

Al Manaf A, (2019) PEMIKIRAN IBNU KHLDUN TENTANG PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN DUNIA MODERN. (2020). Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, 17(1). https://doi.org/10.34001/tarbawi.v17i1.1077

Tlili, A., Shehata, B., Adarkwah, MA, Bozkurt, A., Hickey, DT, Huang, R., & Agyemang, B. (2023). Bagaimana jika iblis adalah malaikat pelindung saya: ChatGPT sebagai studi kasus penggunaan chatbot dalam pendidikan. Lingkungan Belajar Cerdas, 10, Pasal 15. https://doi.org/10.1186/s40561-023-00237-x