Resiliensi Ekonomi RI: Konsumsi, Investasi, dan Sinergi Kebijakan ala Airlangga

Mahasiswa Universitas Pamulang - Program Studi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sarah Putri Romansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi Indonesia menghadapi guncangan global—dari krisis rantai pasok hingga fluktuasi pasar keuangan—namun Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimisme bahwa negara ini lebih tahan dibanding kebanyakan. Dalam konferensi pers di Jakarta pada 5 Agustus 2025, ia menyebut pertumbuhan kuartal II-2025 sebesar 5,12 % sebagai bukti fondasi perekonomian yang kokoh (dilaporkan oleh Kontan).
Menurut Airlangga, dorongan konsumsi rumah tangga yang kuat dan investasi yang tumbuh signifikan menjadi penopang utama daya tahan ekonomi nasional (dilaporkan oleh Indonesia.go.id). Ia menambahkan bahwa struktur ekonomi yang seimbang—kombinasi sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian—memberi fleksibilitas dalam merespons kejutan eksternal (dilaporkan oleh Ekon.go.id).
Dalam siaran pers di Jakarta pada 6 Mei 2025, Airlangga juga mengingatkan publik bahwa pemerintah terus memantau risiko eksternal sambil mencatat penciptaan lapangan kerja sebanyak 594.104 di kuartal I (dilaporkan oleh Kemenko), dan di Investor Daily Summit 9 Oktober 2025 ia menyatakan bahwa IMF menilai Indonesia sebagai “titik terang” di tengah ketidakpastian global (dilaporkan oleh Kumparan).
Strategi ketahanan yang diusung Airlangga bukan sekadar retorika: pertama, struktur ekonomi yang terdiversifikasi, dengan peran konsumsi dan investasi yang seimbang, memperkuat kemampuan adaptasi; kedua, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi pilar utama, sesuai dengan temuan studi akademik bahwa resiliensi makroekonomi di negara berkembang seringkali bergantung pada sinergi kebijakan (Rojas-Suarez, 2023);
ketiga, kepercayaan investor internasional—ditandai oleh pujian IMF—mengindikasikan bahwa kebijakan ekonomi Indonesia dinilai kredibel (IMF blog, Oktober 2025); keempat, institusi nasional yang lebih kuat dan reformasi struktural mendukung daya tahan jangka panjang, sebagaimana disoroti dalam kajian Golden Ratio of Social Science & Education (Akhyar & Rahmi, 2024);
Namun, risiko tetap ada: volatilitas kebijakan fiskal dan moneter bisa menekan pertumbuhan dan menaikkan inflasi, sebagaimana ditunjukkan dalam riset World Bank Economic Review (Mumtaz & Ruch, 2025).
Kesimpulannya, klaim Airlangga bahwa ekonomi Indonesia tahan terhadap guncangan global memiliki dasar yang kuat lewat pertumbuhan nyata, struktur ekonomi yang seimbang, dan kebijakan makro yang kredibel. Meski begitu, pertahanan ini bukan jaminan bebas risiko: menjaga stabilitas tetap menuntut sinergi kebijakan, reformasi institusional, dan kewaspadaan terhadap ketidakpastian kebijakan jangka panjang. Untuk menjaga momentum positif, pemerintah perlu terus memperkuat fondasi struktur ekonomi sambil memastikan kebijakan bersifat transparan dan berorientasi ke masa depan.
Daftar Pustaka:
Airlangga Hartarto. Pernyataan konferensi pers di Jakarta, 5 Agustus 2025. (dilaporkan oleh Kontan)
Airlangga Hartarto. Siaran pers “Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global,” Jakarta, 6 Mei 2025. (Kemenko Perekonomian)
Airlangga Hartarto. Pernyataan di Investor Daily Summit, Jakarta, 9 Oktober 2025. (dilaporkan oleh Kumparan)
Rojas-Suarez, Liliana. Identifying Macroeconomic Resilience to External Shocks in Emerging and Developing Countries: Lessons from the Global Shocks of 2020–2022. Center for Global Development, Working Paper 655, 2023.
IMF. Bolhuis, Marijn; Roy, Arindam; Schneider, Patrick; Zhang, Zhao. “Good Policies (and Good Luck) Helped Emerging Economies Better Resist Shocks,” blog IMF, Oktober 2025.
Akhyar, M.; Rahmi, R. “National Economic Resilience in the Face of Global Economic Crises: Macroeconomic Perspective.” Golden Ratio of Social Science & Education, 2024.
Mumtaz, Haroon; Ruch, Franz Ulrich. “Policy Uncertainty and Aggregate Fluctuations: Evidence from Emerging and Developed Economies.” World Bank Economic Review, diterima Juni 2025.
